Oleh: Mahrita Julia Hapsari, M.Pd
(Praktisi Pendidikan)
Mediaoposisi.com-Gurita narkoba sedang memeluk dunia hiburan. Komedian Nunung digrebek polisi dengan barang bukti 0,36 gram sabu. Ditangkap bersama suaminya di rumahnya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat siang, 19 Juli 2019 (liputan6.com, 22/07/2019).
Nunung bukanlah yang pertama, sebelumnya sudah banyak artis yang terjerat kasus narkoba. Diantaranya ada ridho Rhoma, putra raja dangdut, dan Dhawiya, putri ratu dangdut. Para artis ini beralasan menjaga stamina dengan mengkonsumsi narkoba.
Peredaran narkoba memang telah meluas. Mulai dari kalangan menengah ke atas hingga kalangan menengah ke bawah. Mulai dari anak SD, hingga mahasiswa. Mulai dari ibu rumah tangga hingga pejabat. Semua lapisan masyarakat telah terjerat jebakan narkoba.
Hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Puslitkes UI pada 2017 memaparkan sekitar 1,77 persen atau 3,3 juta penduduk Indonesia menjadi penyalahguna narkoba. Dari total pengguna narkoba tersebut, mayoritas adalah pekerja (59%), disusul pelajar (24%) dan populasi umum (17%). Diperkirakan 11.071 orang pengguna narkoba tewas per tahun atau 30 orang perhari (tribunnews.com, 19/03/2018). Terbaru, survei BNN memberikan hasil bahwa 2,3 juta pelajar konsumsi narkoba (cnnindonesia.com, 22/06/2019). Artinya, terjadi peningkatan jumlah pengguna narkoba.
Alasan Menggunakan Narkoba
Jika ditanyakan alasan para pengguna narkoba, tentulah akan beragam yang akan dikemukakan. Mulai dari mau tau, pelarian, penenang, hingga penyemangat. Dokter adiksi sekaligus peneliti obat-obatan terlarang dari Institute of Mental Health Addiction and Neuroscience (IMAN) Jakarta, Hari Nugroho mengungkap, ada tiga faktor utama berkaitan dengan pemicu seseorang memakai narkoba sabu. 
Faktor pertama orang ingin memakai narkoba seperti sabu dan lainnya adalah untuk bersenang-senang atau memunculkan rasa semangat dalam dirinya. Efek sabu sebagai stimulan, bisa membuat pemakai sabu merasa penuh semangat dan tanpa lelah dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari.
Faktor kedua, untuk mengatasi masalah. Dengan menggunakan sabu, pengguna sabu merasa mampu mengatasi masalah mereka. Diantara masalah mereka adalah ketidakpercayaan diri, depresi, cemas berlebihan. Memakai sabu akan membuat mereka bersemangat dan melupakan segala permasalahan tersebut. Faktor terakhir pemicu memakai sabu adalah rasa penasaran dan tekanan lingkungan. Hari mengatakan, hal ini juga menyumbang angka pengguna sabu. (kompas.com, 20/07/2019).
Dengan ketiga alasan yang kamuflase tersebut, maka banyak orang yang menghancurkan otaknya bahkan hidupnya dengan mengkonsumsi narkoba.
Sistem Sekuler Kapitalis Pabrik Narkoba
Setiap tahun jumlah pengguna  narkoba semakin meningkat. Puluhan nyawa melayang sia-sia setiap bulannya. Ibarat sebuah pekerjaan rumah, masalah narkoba ini tak pernah terselesaikan dengan tuntas. Banyak yang bolak-balik rehabilitasi. Tak sedikit yang keluar masuk penjara. Hal ini menandakan kasus ini laksana lingkaran setan.
Sistem hidup sekulerisme telah menjadi pencipta lingkaran setan narkoba. Jika boleh dikatakan, sistem sekuler kapitalis ini pun adalah pabrik narkoba. Dengan asas pemisahan agama dari kehidupan, maka setiap individu akan berbuat sesuka hati.
Dunia dijadikan panggung untuk hura-hura dan bersenang-senang. Seakan hidup di dunia ini selama-lamanya. Apapun akan dilakukan demi mendapatkan kepuasan dan kenikmatan jasmani. Tanpa memperdulikan norma agama.
Narkoba juga tak pernah bisa dihentikan produksinya. Dalam kitab Nizhom Iqtishad karangan Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dijelaskan tentang salah satu prinsip ekonomi kapitalisme tentang nilai guna (utility). Suatu barang atau jasa akan tetap diproduksi jika masih ada yang menginginkan.
Nilai guna (utility) itu distandarkan pada keinginan manusia. Tanpa memperdulikan barang atau jasa tadi akan menghasilkan kemudhorotan atau tidak. 
Jika masih ada yang menginginkan narkoba, maka narkoba akan tetap diproduksi. Meskipun sudah sangat jelas efek buruk dari penggunaan narkoba. Standar manfaat telah melandasi bisnis haram narkoba.
Satu sisi ada yang memerlukan, di sisi lain menjanjikan kekayaan yang luar biasa. Bayangkan, harga 1 gram sabu lebih mahal dari harga 1 gram emas. Jika emas seharga Rp650.000/gram, maka sabu bisa mencapai 1,1 hingga 1,3 juta/gram. 
Suatu keuntungan yang menggiurkan banyak manusia. Akhirnya, banyak orang yang terlibat perdagangan narkoba. Mulai dari ibu rumah tangga hingga oknum aparat. Baru-baru ini, polisi menggerebek rumah bandar narkoba di Pekanbaru Riau.
Polisi bahkan sempat baku tembak dengan gembong narkoba tersebut. Dua orang gembong narkoba itu tewas dalam baku tembak. Satu diantara pelaku yang tewas itu adalah seorang mantan polisi (Kompas.Tv, 24/07/2019).
Lemahnya sistem sanksi juga menjadi lahan empuk suburnya peredaran narkoba. Kelemahan sistem ini karena buatan manusia yang lemah dan terbatas. Hingga selalu ada celah bagi pecandu, pengedar, kurir, penjual dan pembuat narkoba untuk lolos dari jeratan hukum.
Sistem Islam Menuntaskan Kasus Narkoba
Pengabaian hukum Allah dalam kehidupan sehari-hari telah mendatangkan banyak masalah yang tak kunjung selesai, termasuk narkoba. Ketika sumber masalahnya adalah adanya pengabaian hukum Allah, maka untuk mengurai masalah tersebut tentulah kembali pada aturan Allah.


Ketika syariat Allah diterapkan, maka akan menutup peluang peredaran narkoba. Negara akan membina ketakwaan individu masyarakat. Terwujudnya ketakwaan dalam diri seseorang akan mencegah terjadinya penyalahgunaan narkoba.
Dengan sistem ekonomi Islam, negara menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan) dan kebutuhan dasar manusia (pendidikan, kesehatan, keamanan, transportasi). Dengan jaminan itu, warga bisa memenuhi kebutuhan sekundernya sesuai dengan kemampuan. Terpenuhinya kesejahteraan rakyat akan menutup peluang terjadinya bisnis haram narkoba.
Para ulama bersepakat bahwa narkoba itu haram. Narkoba jenis apa saja, baik itu ganja, opium, morfin, mariyuana, kokain, sabu, dan sebagainya. Sebagian ulama mengqiyaskan narkoba dengan khamr, karena ada kesamaan illat (alasan hukum) yaitu sama-sama memabukkan.
Sebagian ulama yang lain mengharamkan narkoba karena dua alasan, yaitu ada nash yang mengharamkan narkoba, kedua karena menimbulkan kemudharatan (Syaikh Wahbah Zuhaili).
Sebagai zat haram, maka siapa saja yang mengonsumsi, membuat, dan mengedarkan narkoba termasuk dalam pelaku tindak kriminal (jarimah).
Kepada pelaku kriminal ini akan diberi sanksi berupa ta’zir yang bentuk, jenis dan kadarnya diserahkan kepada hasil ijtihad Khalifah atau Qadhi. Bisa berupa sanksi diekspos, penjara, denda, jilid bahkan sampai hukuman mati. Disesuaikan dengan tingkat kejahatan dan bahayanya bagi masyarakat. 
Inilah sistem yang bisa menuntaskan kasus narkoba. Sistem yang bersumber dari Pencipta manusia ini jelas terbukti kehandalannya dalam mencegah kriminalitas. Jika pun terjadi kriminalitas, maka sistem Islam mampu mencegah meluasnya bahaya akibat kriminalitas. Wallahu a’lam. [MO/sg]

Posting Komentar