Oleh : Arwiyanti 
Mediaoposisi.com-  Kontroversi poligami tak pernah berakhir, bahkan kembali mencuat seiring dengan bergulirnya wacana legalisasi poligami oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Hal itu didorong oleh maraknya kasus pernikahan siri yang menimbulkan berbagai keruwetan administrasi.
Baik untuk istri siri ataupun untuk anak-anak hasil pernikahan siri. "Kami mau kasih tahu kepada perempuan-perempuan siri itu, Anda akan menjadi korban kalau (pernikahan) ini tidak tercatat. Bagaimana nanti masalah ahli waris, harta gono-gini," kata Musannif kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Sabtu (6/7). (cnnindonesia.com, 06/07/2019)

Pro dan kontra poligami memang selalu ada. Kalangan yang pro didominasi oleh kaum agamis, dimana mereka menyandarkan hukum sesuai dengan syariat Islam. Sedangkan kalangan yang kontra didominasi oleh kaum feminis.
Dimana mereka menyandarkan hukum hanya berdasarkan pada fakta buruk yang terbukti merugikan wanita dan anak-anak. Jadi pro dan kontra poligami seolah-olah perlawanan antara kaum agamis dan feminis. Hingga akhirnya saat ini, Islamlah yang dijadikan tertuduh atas maraknya poligami hanya dikarenakan adanya dalil yang membolehkan poligami. 

Padahal, jika kita menilik sejarah, maka akan didapatkan fakta bahwa praktik poligami telah berlangsung jauh sebelum Islam datang. Dan terjadi diberbagai belahan dunia. Praktik poligami itu dilakukan tanpa ada batasan dan aturan.
Rata-rata pemimpin suku saat itu memiliki puluhan hingga ratusan istri. Maka setelah Islam datang, turun ayat yang mengatur dan membatasi praktik-praktik poligami. Yakni pembatasan jumlah istri serta kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan suami terhadap istri-istrinya. 

Selama hampir 1300 tahun tak pernah ada perdebatan tentang poligami seperti yang terjadi saat ini. Mulai dari generasi sahabat hingga generasi imam mahdzab bersepakat bahwa poligami hukumnya mubah. Sebenarnya pro kontra poligami ini baru muncul pada abad ke 19. Yakni ketika adanya imperaliasi Barat ke negeri-negeri muslim dengan membawa ide sekularnya.
Ditambah lagi kondisi dunia Islam yang terpuruk saat itu. Maka kaum imperalis Barat bisa leluasa menancapkan ide-ide mereka ke dalam pemikiran kaum muslimin. Jadi sejatinya, serangan poligami merupakan bagian dari perang pemikiran (ghazwul fikr) antara kubu yang berideologi kapitalisme sekuler dengan kubu yang masih memandang Islam sebagai ideologi.
Dan sayangnya, peperangan ini dimenangkan oleh kubu sekuler. Terbukti dengan adanya pandangan dalam masyarakat bahwa, poligami adalah momok. Seolah-olah menjadi barang najis yang harus dijahui. Hingga akhirnya negeri-negeri muslim saat ini banyak yang melarang praktik poligami. 

Kita sebagai umat Islam, harus bisa mendudukan polemik poligami ini dengan kacamata dan sudut pandang Islam. Sudut pandang yang datang dari Pencipta manusia. Islam telah menjadikan poligami sebagai sesuatu perbuatan yang mubah. Bukan sunnah bukan pula wajib. Jadi poligami itu adalah pilihan kita, mau atau tidak, boleh memilih. Boleh mereka lakukan, jika mereka mau. Dan boleh tidak dilakukan ketika mereka tidak mau. 

Dasar dari kebolehan poligami adalah Surat An Nisa ayat 3. Allah SWT berfirman :
وَاِنْ خِفْتُمْ اَ لَّا تُقْسِطُوْا فِى الْيَتٰمٰى فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَـكُمْ مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ  ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَ لَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً اَوْ مَا مَلَـكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ ذٰلِكَ اَدْنٰۤى اَلَّا تَعُوْلُوْا   
"Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim."

Imam Suyuthi menjelaskan bahwa jumlah istri yang boleh digabungkan hanya 4. Dalam beberapa hadist juga Rasulullah menegaskan kebolehan atas memperistri 4 orang. Seperti hadist dari Qois bin Al Harits, ia berkata, “Ketika aku masuk Islam, aku memiliki delapan istri. Aku pun mengatakan kepada Nabi Muhammad SAW tentang hal tersebut, lalu beliau bersabda: Pilihlah empat saja dari kedelapan istrimu tersebut.” (HR. Ibnu Majah dan Abu Daud).
Dan juga hadist dari Ibnu ‘Umar, Ghoylan bin Salamah Ats Tsaqofiy baru masuk Islam dan ia memiliki sepuluh istri di masa Jahiliyyah. Istri-istrinya tadi masuk Islam bersamanya, lantas Nabi Muhammad  SAW memerintahkan agar ia memilih empat saja dari istri-istrinya. (HR. Tirmidzi) 

Dan kebolehan poligami ini, tidak bisa dikatakan bahwa syaratnya harus adil. Tapi adil adalah kewajiban dalam berpoligami. Namun jika dalam hati timbul pemikiran dan perasaan bahwa kedepannya nanti tidak bisa berbuat adil , maka Allah mendorong dengan mencukupkan satu istri saja. 

Adapun terkait dengan fakta buruk yang terjadi, tidak bisa dijadikan sebagai sandaran untuk menggugat hukum poligami. Karena fakta ini muncul sebagai imbas tak diterapkannya syariat Islam secara keseluruhan, bagaimana hukum penafkahan, perkawinan dan nasab.
Maka pasti akan timpang, jika poligami dilegalisasikan namun hukum Islam yang lain tidak diterapkan. Karena jelas, untuk menghentikan polemik poligami ini, satu-satunya cara adalah dengan diterapkannya syariat Islam secara menyeluruh, baik dalam tingkat keluarga, masyarakat maupun negara. [MO/ra]

Posting Komentar