Oleh : Sunarti

Mediaoposisi.com-"Bagai embun diujung rumput" yang artinya hubungan, pekerjaan atau kedudukan dan lain sebagainya, yang sangat rapuh atau mudah goyah. Seperti hubungan yang hanya menghasilkan manfaat, suatu ketika akan luntur seiring dengan hilangnya kemanfaatan itu. 

Sangat disayangkan, hubungan semacam ini sedang diambil oleh pemerintah untuk kebijaksanaan di ranah pendidikan. Pendidikan terhadap generasi yang seharusnya tidak bisa disandarkan kepada asas manfaat ini.

Generasi penerus merupakan generasi penting dalam menjaga estafet peradaban. Namun sayang kebijakan sekarang justru membawa ke arah kerusakan. Misalnya  baru-baru ini pemerintah mengambil kebijakan KEK pendidikan. 

Yaitu dosen asing bisa mengajar di Indonesia. Bagaimana peradaban bisa cemerlang, apabila generasinya tergenggam oleh pendidik dari asing yang notabene berlatar belakang peradaban Barat? Bagaimana generasi ini dipegang oleh pendidik asing yang jelas-jelas nantinya akan mempengaruhi pola pikir generasi di negeri ini?

Termasuk menjangkitnya kehidupan hedonis ala Barat yang bisa menular melalui para pendidik ini. Saat sekarang saja, sebelum para pendidik itu secara total masuk ke Bumi Pertiwi, kehidupan hedonis sudah mulai tampak di masyarakat. Bagaimana setelah nanti benar-benar mereka tinggal, menetap dan mengajarkan juga peradaban mereka?

Latar Belakang Ekonomi, Jadi Acuan Mendatangkan Pendidik Asing

Nampaknya kerjasama dengan pihak luar negeri hanya berdasar pada keuntungan yang bersifat bisnis saja. Benarlah jika asas manfaat tidak bisa dipakai dalam persoalan pendidikan. Hal ini bisa dilihat dari apa yang dikabarkan oleh m.detik.com. bahwa rencanannya, dalam aturan tersebut akan dibuat beberapa insentif untuk menarik tenaga pendidik asing mengajar di Indonesia.

Menurut Sekretaris Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono revisi aturan tersebut akan memberikan insentif di bidang jasa, seperti pendidikan, ekonomi kreatif, dan kesehatan.

"KEK, ada dua revisi PP, finalisasi PP kek, fasilitas fiskal di KEK. Ada beberapa pending, karena KEK ditambahi tax holiday allowace. Kek nanti ada jasa, kesehatan, pendidikan, ekonomi kreatif," jelas dia dalam halalbihalal di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (10/6/2019).

Sejatinya, pendidikan sekolah menjadi tanggung jawab pemerintah. Dikarenakan sekolah atau pendidikan adalah kebutuhan utama rakyat. Sebagai bentuk pelaksanaan pelayanan pemerintah kepada rakyat. Termasuk di dalamnya pendanaan, tenaga pendidik, penyediaan sarana dan prasarana, fasilitas yang menunjang dan kebutuhan dunia pendidikan lain yang dilayani/disiapkan oleh negara. Rakyat memiliki hak sebagai pengguna dunia pendidikan.

Jadi jelaslah, jika berlandaskan keuntungan (kerjasama ekonomi), akan menghilangkan tujuan utama yaitu "mencerdaskan umat/generasi" yang merupakan tanggung jawab negara. Karena dalam negeri ini menganut sistem ekonomi liberal, sehingga nilai yang diperoleh adalah keuntungan semata bukan bentuk tanggung jawab kepada rakyat.

Sebagai penyelenggara negara, pemerintah adalah kekuatan penting dalam mencerdaskan dan membentuk generasi tangguh, juga melundungi umat dari peradaban yang merusak. Sebagai imam, selayaknya jadi perisai. Sebagaimana disebutkan dalam hadist : "Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggungjawab atasnya)“ (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

 Sisi Positif Mendatangkan Pendidik Asing

Memang tidak semata buruk dalam kebijakan mendatangkan tenaga asing ke negeri ini. Misalkan saja tentang teknologi yang lebih canggih, peningkatan mutu pendidikan nasional dan teknik lain yang bisa meningkatkan kwalitas serta kemajuan teknologi. Guru asing bisa menjadi acuan guru lokal untuk mengupgrade diri dengan skill/kemampuannya, ketika dianggap lebih baik kwalitas kemampuannya. 

Bisa saling berbagi wawasan, pengetahuan akademik, bertukar pengalaman yang positif dan lain sebagainya. Hal-hal baik yang dimiliki guru asing dan guru lokal, bisa dipadukan untuk kemajuan anak didik. Selama semuanya bukan peradaban dan pola pikir yang merusak.

Kondisi Guru Lokal yang Belum Memadai

Ada banyak hal yang dilalaikan oleh pemerintah. Misalnya saja, tenaga pendidik di Indonesia yang masih banyak "keleleran" baik tenaga honorer atau guru yang sudah menjadi pegawai negeri yang tidak maksimal dalam pekerjaannya. Banyaknya tenaga pendidik di Indonesia yang tidak teriayah  dengan baik menjadikan mereka tidak merata dalam sistem pengajaran. Ada guru yang banyak jam kerja dan sedikit istirahat, misalnya di sekolah-sekolah favorit.

Sementara di lain wilayah atai di lain sekolah, banyak guru yang menganggur. Contohnya di sekolah yang tidak mendapatkan murid/sekolah yang muridnya sedikit, guru akan banyak jam kosong. Mereka menghabiskan waktu dengan menganggur di sekolah dan kedatangannya hanya memenuhi absensi saja. Efeknya, mereka tidak bisa mendapatkan sertifikasi, akibat kurangnya jam mengajar.

Seharusnya, ini juga menjadi perhatian. Guru lokal hendaknya juga ada pemerataan. Agar antara sekolah yang satu dengan yang lain bisa memiliki guru yang sesuai kebutuhan. Bukan malah kelebihan guru dan kekurangan murid, atau sebaliknya.

Akhlak Baik Pendidik Asing Harus Dipertimbangkan

Sisi paling penting adalah akhlak dari pendidik asing. Guru selain sebagai penyampai pelajaran, juga sebagai orang yang bisa menjadi tauladan para muridnya. Guru dalam bahasa Jawa "digugu lan ditiru" yang artinya "diteladani dan ditiru." Persoalannya, apakah guru asing yang diundang nantinya bisa menjadi tauladan dan panutan?

Sayang memang, pendidikan di negeri ini melupakan pembentukan kepribadian. Sabagai negeri muslim yang selayaknya bisa mengambil sisi baik dari pendidikan Islam, harusnya bisa mempraktekkan. Misalkan saja kepribadian Islam yang harus dilakukan pada semua jenjang pendidikan yang sesuai dengan proporsinya melalui berbagai pendekatan. Tidak bisa dipungkiri, Indonesia masih kental dengan budaya Islam. Meskipun kekentalan ini mulai memudar seiring dengan masuknya berbagai pemikiran dari luar Islam.

Memang seharusnya pendidikan yang tertata, berkwalitas, bermutu dan berkepribadian tangguh harus diwujudkan dengan berbagai upaya. Dan ini belum bisa diselenggarakan dan disiapkan dalam sistem pendidikan sekuler yang diadopsi negeri Indonesia saat ini. Dan nyatalah bila tidak akan pernah bisa berharap pada siatem ini. 

Sedemikian rupa buruknya sistem buatan manusia, akibatnya pendidikan tidak sesuai dengan harapan. Dan hasilnya sangat jauh dari kebaikan. Justru saat ini kebijakan yang tumpang tindih mewarnai dunia pendidikan.

Sistem Pendidikan Sekuler yang Merusak dan Selayaknya Kembali Sistem Pendidikan Islam

Sebagaimana diurai di atas, inilah bukti rusaknya arah pendidikan sekuleristik yang hanya mengabdi kepada kepentingan hegemoni kapitalisme global. Standart pendidikan bukan pada pencerdasan umat, perbaikan perilaku, penguatan akidah tapi justru ke arah perusakan generasi dengan kebijakan yang tumpang tindih. Sangat jelas kebobrokan rezim berparadigma sekuler neolib yang minus visi penyelamatan generasi dan minus visi pembentukan bangsa yang mandiri. Sebagai bangsa yang berpenduduk muslim tetbesar, sebenarnya Indonesia mampu menjadi negara mandiri dengan menerapkan ideologi Islam.

Bukti ketika ideologi yang mampu memberi solusi tuntas adalah ideologi yang datang dari Sang Pencipta yaitu Ideologi Islam. Beda halnya dalam sistem sekuler, aturan-aturan, pandangan dan nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. 

Kehidupan serba bebas buah dari demokrasi yang berasaskan sekuler. Kebebasan yang tanpa memandang agama tersebut menciptakan gaya hidup pemuda yang bablas. Besarnya potensi generasi yang mampu mengguncang dunia kini telah ‘mati’ karena demokrasi yang menjauhkan generasi dari Ilahi.

Keberhasilan sistem pendidikan adalah berhasilnya membentuk generasi menjadi generasi yang cemerlang. Cara yang tepat untuk menyelamatkan generasi butuh solusi fundamental untuk menuntaskan problematika sampai akarnya. 

Caranya dengan mengganti sistem sekuler yang memisahkan manusia dari agama dengan sistem yang membuat manusia selalu tunduk kepada Allah SWT, yaitu sistem Islam. Karena sangat penting (urgensi) bagi sektor pendidikan sebagai pilar tegaknya peradaban cemerlang. Semua ini tergambar dalam arah dan tujuan pendidikan Islam.[MO/vp]



Posting Komentar