Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Sungguh meriding hati ini, saat hakim MK membuka sidang untuk membacakan hasil sengketa pilpres 2019 bahwa akan memutuskan yang benar karena mereka hanya takut pada Allah. Wow, luar biasa, bahkan dia berani mengutip 2 ayat dari Al-Qur'an. 

Ini berarti hanya keputusan yang benar yang akan diambil 9 hakim bukan seperti skenario penguasa dengan mengabaikan bukti dan saksi yang meyakinkan bahwa terjadi kecurangan yang nyata di pelpres 2019.

Tapi ternyata tidak seperti harapan kita bersama tapi prediksi banyak analis yang menyatakan permohonan akan ditolak dan petahana akan terus berkuasa. Benarkah 9 hakim MK hanya takut pada Allah, Tuhan yang telah menciptakan alam semesta ini. 

Tidakkah 9 hakim melihat dan merasakan kecurangan yang nyata. Bahkan rakyat biasa saja bisa merasakan bahkan kecurangan itu ada tapi kenapa 9 hakim MK menutup mata atas bukti dan saksi yang ada. Benarkah mereka hanya takut pada Allah?

Siapa yang lebih mereka takuti jika tidak berani memutuskan yang benar. Tentunya, sang penguasa yang mereka pikir bisa memutasi mereka jika berani memutuskan di luar skenario. Mereka lebih takut sesuatu yang nyata ada, jabatan dan kedudukan yang mereka punya saat ini. 

Mereka menggadaikan keyakinannya yang hanya mampu terucap di dalam mulut saja. Tapi sayang tidak menghunjam ke dalam hati yang paling dalam sehingga mampu mengangkat palu untuk keputusan yang adil dan benar.

Sungguh merugi lebih memilih sesuatu yang tidak kekal yang akan dicabut kapan saja jika Allah menghendaki. Tetapi sesuatu yang kekal pasti terjadi seperti keyakinannya meskipun hanya terucap di mulut saja. 

Pengadilan di dunia mereka yang memutuskan namun pengadilan akhirat mereka akan dapat balasan seadil-adilnya atas keputusan dzalim yang mereka ambil ketika di dunia. 

Dampaknya begitu massive tidak hanya pada pihak pemohon yang mungkin bisa menerima hasil keputusan Mk, tapi rakyat Indonesia tidak bisa menerimanya suatu keputusan yang tidak adil.

Munafik itulah kata yang pantas bagi mereka saat yang terucap tidak sama dengan hati dan perbuatannya. 

Neraka jahannam itu tempat yang pantas bagi mereka yang berani menyebut nama Allah dan bersumpah atas NamaNya tapi hanya untuk main-main. Suatu kata yang terucap hanya untuk membuat manusia terkesan namun tidak benar-benar datang dari keyakinannya.

Memang menjadi hakim dalam sistem demokrasi yang rusak sangatlah berat. Jika tidak berani, mereka akan mengambil kaputusan yang salah apalagi jika memutuskan sebuah kasus yang melibatkan penguasa. 

Sangat berbeda dengan sistem Islam yang mana penguasa bisa dikalahkan dan dihukum jika bersalah. Keadilan benar-benar bisa ditegakkan karena hukum berlaku untuk semua orang termasuk juga penguasa. 

Sungguh rakyat sangat rindu pada sistem Islam yang akan menjamin keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Sistem yang berpihak pada yang benar bukan pada yang pandai bermain curang karena Islam tidak bisa menerima kecurangan. 

Oleh karena itu orang-orang dzalim dan rezime yang curang akan menghalang-halangi tegaknya sistem Islam.[MO/vp]

Posting Komentar