Oleh : Nasrudin Joha 

Mediaoposisi.com-Mungkin sebagian menganggap, merunduknya Prabowo ke kubu rezim dianggap sebagai akhir dari perjuangan. Namun, justru banyak yang berfikir ini adalah babak baru perjuangan.

Banyak epic dan sejarah perjuangan, khususnya menjelang Pilpres ini yang menunjukan betapa berat dan mahalnya harga untuk sebuah komitmen dan konsistensi.

Sejak MA, TGB, JM, YM, semua awalnya dianggap representasi umat, menjadi lidah umat yang menyuarakan jeritan hati dan apa yang terpendam didalam bathin umat. Namun, perlahan satu persatu merunduk, merapat ke rezim.

Semua berspekulasi, ada ancaman kasus dibongkar, ada ketidakberdayaan, namun umat melihat zahirnya. Zahirnya, dengan motif dan alasan apapun, mereka semua telah mengkhianati umat, memenuhi seruan rezim dan mengabaikan jerit dan tangisan umat.

Pada kasus Prabowo juga sama, harapan itu terlampau tinggi, ekspektasi yang tidak dilandasi akidah kadang menenggelamkan. Begitu Prabowo bertemu Jokowi, bersalaman, bercengkrama mesra, bahkan tampak wibawa Prabowo jatuh dihadapan Jokowi

Jokowi begitu congkak dan bangga dengan kemenangan, Prabowo sampai menyalami Jokowi dengan dua tangan, pertemuan yang dipermanis dengan jamuan makan, secara zahir yang nampak dimata umat sangat mengecewakan.

Prabowo tak bisa berdalih ini strategi, ini hanya memenuhi undangan, ini bukan ucapan selamat atas kecurangan dan berbagai argumen apologetik yang tidak memuaskan akal. Sederhana saja, secara zahir peristiwa Lebak Bulus sangat mengecewakan, sangat menyakitkan.

Keadaan ini, juga sudah disadari Prabowo jauh sebelum tragedi Lebak Bulus terjadi. Tentang Resiko kekecewaan umat, Resiko di cap pengkhianat, dan seterusnya.

Namun, nampaknya Prabowo lebih memilih konsekuensi itu, ketimbang berjibaku berdiri dan tenggelam bersama umat. Entah kompensasi apa yang diberikan rezim, yang jelas sangat besar, bahkan sangat besar sekali.

Tak mungkin menggadaikan reputasi untuk kompensasi yang sedikit. Jika, dalihnya demi partai, demi orang yang ada disekelilingnya, demi korban peristiwa 21-22 Mei, berarti Prabowo memang tak layak memimpin bangsa ini. Mengendalikan orang sekitarnya saja tak mampu, apalagi mengendalikan bangsa ini ?

Padahal, sejumlah Syahid dan yang dipenjara telah ridlo dengan Qadla ini. Mereka telah insyaf, bahwa Resiko perjuangan harus dibayar dengan sejumlah pengorbanan. Jadi, tidak ada alasan merunduk kepada rezim berdalih pada pengorbanan mereka.

Baiklah, kita tinggalkan Prabowo. Prabowo saat ini 'sudah menjadi masa lalu'. Kita fokus menatap Kedepan. Kita tetap wahib melanjutkan perlawanan. Namun, siapakah yang akan memimpin kita ?

Saya ingin katakan, jika kepemimpinan kita ditambatkan pada vigour atau ketokohan, ada beberapa kelemahan yang kita hadapi :

Pertama, siapapun vigour atau tokoh pemimpin kita meskipun terkenal taat dan kuat akidahnya, tapi tetap saja dia manusia biasa. Ada celah salah dan lupa, sehingga kepemimpinan model ini rawan menghadapi pengkhianatan dan kekecewaan.

Tokoh atau ulama siapapun, sangat berpotensi mengecewakan. Dan hal itu, juga sudah terjadi. Bagaimana dahulu kita meng-elu-kan MA saat aksi sejuta umat tolak RUU pornografi, kita terbius oleh TGB dan mendaulatnya sebagai capres masa depan, terlena oleh dzikir dzikir YM, bahkan terakhir tersihir dengan narasi 'ISH KARIMAN AU MUT SYAHIDAN' sehingga akhirnya umat ini kembali dipecundangi.

Kedua, vigour atau tokoh itu setelah melakukan perlawanan rawan dikriminalisasi. Salah satu strategi pembungkaman rezim adalah dengan pola 'stick n carrot'. Resiko bagi yang melawan rezim adalah kriminalisasi, persekusi, hingga dialienasi.

Ketika tokoh panutan, pemimpin kita, dipenjara, atau terpaksa hijrah, tidak lagi bisa membersamai kita untuk melakukan perlawanan diparit-parit perjuangan, mungkin saja kita akan goyah dan melemah. Ini adalah Resiko, ketika kepemimpinan kita tambahkan pada vigour dan ketokohan.

Karena itu, saya menawarkan kepemimpinan pemikiran. Kepemimpinan berdasarkan pemikiran Islam. Pemikiran inilah, yang akan memimpin kita, menjawab seruan-seruan ulama kita, menjadi standar dan kerangka perjuangan kita.

Kepemimpinan berfikir ini akan membimbing kita untuk melawan, dan melakukan berbagai perjuangan. Kepemimpinan yang berdiri kokoh diatas landasan akidah Islam, inilah yang saya tawarkan.

Prinsipnya, kita bergerak dan berjuang dilandasi syariat Islam. Pemikiran Syariat Islam akan membimbing kita melangkah, dengan standard yang telah Allah turunkan. Sederhananya, kita akan jadikan Alquran dan as Sunnah sebagai pemimpin kita.

Dengan kepemimpinan yang merujuk pada Al Quran dan as Sunnah, perjuangan kita akan terbebas dari Resiko pengkhianatan.

Jika ada Resiko dipenjara bahkan hingga kematian, kita telah ridlo karena perjuangan kita murni hanya untuk dan atas nama Islam, sehingga tak akan pernah kecewa atau dikecewakan.

Melawan rezim dengan standard Al Quran dan as Sunnah, memberi garansi bagi kita pahala dan ridlo-Nya. Kita tidak akan dikerjai oleh politisi busuk, karena Al Quran akan membimbing kita demi kemaslahatan kita, tak punya tendensi apapun.

Memang benar, dalam tahapan operasional kita membutuhkan pemimpin yang nampak, sebagaimana sahabat dahulu dipimpin Nabi SAW.

Tetapi ketika Al Quran dan AS Sunnah telah menjadi kepemimpinan berfikir, maka umat ini hanya terikat dengan dalil, hanya terikat dengan syariat, dan mudah untuk mencari vigour pemimpin maupun pemimpin pengganti.

Saat rasululah SAW meninggal, para sahabat memang sangat kehilangan. Tetapi mereka tidak kehilangan kepemimpinan berfikir, sehingga mereka segera bermusyawarah di saqifah Bani Saidah, untuk segera membaiat Abu Bakar Assiddiq menjadi pemimpin baru menggantikan kepemimpinan Rasulullah SAW.

Jadi, dengan kepemimpinan berfikir Islam kita mampu mencari pemimpin, menjadi pemimpin, bahkan mengganti alternatif pemimpin.

Ketika rezim menangkap pemimpin kita, kita dengan mudah mencari dan menetapkan pemimpin pengganti. Patah tumbuh hilang berganti, hilang satu tumbuh seribu.

Saat ini, pemimpin eksisting umat di negeri ini hanya tinggal HRS, namun kondisinya juga tidak bisa membersamai kita secara total. Rezim telah membuat tembok dan pagar pagar tinggi, agar Imam besar kita Habib Muhammad Rizq Syihab tidak bisa membersamai perjuangan kita.

Karena itu, sejak saat ini mari jadikan kepemimpinan berfikir Islam sebagai pemimpin kita, dan tidak bergantung pada figour atau tokoh tertentu. Kita tetap akan tegar di garis perjuangan, meskipun beberapa tokoh mulai membelot.

Kita akan tetapkan pemimpin alternatif, meskipun pemimpin utama kita terhalang berjuang bersama kita. Kita, akan terus melawan dan berjuang hingga Allah SWT turunkan kemenangan kepada kita, Amien yarobbal alamien.[MO/ad]

Posting Komentar