Oleh Dian Riana Sari

Mediaoposisi.com-Beberapa waktu lalu telah diputuskan hasil sengketa yang diajukan oleh kubu pihak pasangan Prabowo-Sandy ke Mahkamah Konstitusi (MK). Pengajuan perkara soal adanya kecurangan secara sistematis, tersruktur, masif, brutal dalam pemilu 17 April 2019 lalu.

Tetapi gugatan yang diajukan Ke MK ternyata ditolak. Pasca ditolaknya gugatan tersebut ditetapkanlah secara resmi bahwa pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden terpilih periode 2019-2024.

Dikutip dari Viva Usai penetapan tersebut, Jokowi mengaku bersyukur tahapan Pilpres 2019 berjalan dengan baik. Ia pun mengucapkan terima kasih atas kepercayaan rakyat Indonesia, yang diberikan kepada dirinya dan Ma'ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019-2024.

"Saya dan Pak Kiai, ucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan rakyat pada kami berdua untuk melanjutkan tugas, mengemban amanat kepercayaan rakyat, membawa seluruh rakyat Indonesia menuju Indonesia yang maju, bermartabat sejajar dengan negara lain di dunia," ujar Jokowi dalam sambutannya usai penetapan di kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Minggu.

Dirinya juga mengatakan "Kami berdua akan mendedikasikan diri kami, untuk capai cita-cita para pendiri bangsa. Kami berdua akan berjuang sekuat tenaga, akan bekerja sekuat tenaga, untuk melanjutkan pondasi yang telah kami bangun bersama Pak Jusuf Kalla para periode pertama pemerintahan,"

Bila kita tinjau kebelakang selama pemerintahan yang dipimpin oleh rezim jokowi-Jusuf Kalla nyatanya tak memberikan perubahan bagi negeri ini, bukannya tambah maju justru malah semakin menurun. 

Dimana saat ini hutang negara yang kian menggunung, perekonomian yang juga kian merosot, harga-harga bahan pokok yang semakin mahal, harga BBM yang terus mengalami kenaikan, listrik pun juga semakin naik. Lantas inikah yang dinamakan indonesia maju?

Pembangunan infrastruktur besar-besaran yang dimana dibangun atas dasar hutang riba membuat rakyat semakin dicekik dengan mahalnya tarif jalan tol. Bisa kita lihat bahwa pembangunan insfrastruktur pun nyatanya menimbulkan polemik berkepanjangan dan tak berkesudahan. 

Seperti halnya yang terjadi di daerah Ngawi, dimana ganti rugi tanah di ruas Tol Ngawi tak kunjung berakhir. Warga dan perangkat Desa Klitik Kecamatan Geneng, mengancam akan memblokir jalan tol di Tanah Kas Desa (TKD) yang belum dibayar PT Jasa Marga Solo Ngawi (JSN).

Seharusnya ini semakin menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur yang tidak dipersiapkan secara matang oleh pihak pemerintah malah menjadikan bumerang bagi negeri ini. Sehingga kembali lagi rakyat yang harus jadi korban. 

Belum lagi tarif tol yang kian hari kian naik membuat rakyat yang tergolong menengah ke bawah tak mampu menjangkaunya. Sehingga jalan biasa yang harus ditempuhnya dikarenakan saking mahalnya tarif jalan tol.

Jika melihat kondisi negeri indonesia kita saat ini sungguh sangat mengiris dan menyayat hati, bagaimana tidak ditengah kekayaan alam yang berlimpah ruah tetapi tak membuat rakyatnya sejahtera secara menyeluruh. 

Banyak sekali ketimpangan sosial yang terjadi di negeri kita saat ini. Si kaya semakin kaya, tapi si miskin semakin miskin. Itulah realitas yang harus dihadapi oleh rakyat akibat ketidakbecusan negara dalam menjamin kehidupan yang aman, nyaman, tentram, dan sejahtera untuk rakyatnya.

Ditengah Kekayaan alam yang begitu banyaknya pula bahkan termasuk negara maritim tapi nyatanya semua itu tak dikuasai oleh negeri ini. Justru dikuasai dan diserahkan kepada asing dan juga aseng. Sehingga rakyat tak dapat apa-apa selain tanggungan hutang negara yang kian menggunung. Dan ujung-ujungnya rakyat lagi yang dipalak lewat pajak.

Menyoal Indonesia Belum Maju

Saat ini negeri kita merupakan negeri pembebek. Negeri yang dimana mengekor dan hanya modal ikut-ikutan tanpa dibarengi dengan landasan yang benar. Dan mirisnya yang dijadikan panutan adalah negeri-negeri kafir penjarah dan penjajah, Seperti Amerika, china, Rusia, Iran, dll.

Ketika sebuah negara mengadopsi sistem negara yang rusak dan salah secara otomatis akan menimbulkan kerusakan pula ke seluruh lini. Sebagaimana ketika negara menetapkan sebuah aturan yang keliru secara otomatis pula rakyat akan dipaksa mengikutinya meskipun itu salah. 

Sehingga wajar saja bila kerusakan demi kerusakan terjadi di berbagai lini menimpa negeri kita, karena akar masalahnya adalah penerapan sistem negara yang salah. 

Dan saat ini negeri indonsia kita menganut sistem kapitalisme demokrasi, dimana sistem kapitalisme demokrasi ini berasaskan akidah sekuler atau pemisahan agama dari kehidupan. Sehingga pembuat aturan adalah manusia. 

Wajar saja bila para pemimpin dalam sistem kapitalisme demokrasi ini bagaikan boneka yang bisa dimainkan si empunya kepentingan dibelakang layar alias para pemodal kapitalis yang ingin menjarah kekayaan alam di negeri ini. Sehingga pengusaha bisa jadi penguasa, ataupun sebaliknya penguasa bisa jadi pengusaha.

Ironis memang bila melihat tingkah polah pemimpin yang dengan seenak dan gampangnya menyerahkan kekayaan alam yang seharusnya hak rakyat ke tangan asing dan aseng. Tidak ada lagi kepedulian dan jaminan kesejahteraan untuk rakyat secara keseluruhan. Ketika rakyat semakin susah dan tercekik lantas inikah yang dinamakan indonesia maju??

Dan tidak kalah parahnya sistem demokrasi ini juga menerapkan sistem ekonomi kapitalis. Sehingga yang menjadi barometernya adalah orang-orang pemodal/ kapitalis tadi untuk mencari materi sebanyak-banyaknya. 

Sistem ekonomi yang seperti ini jelas tidak akan membawa indonesia menjadi negara maju dikarenakan banyaknya orang-orang rakus jabatan dunia hingga menghalalkan segala cara. Termasuk menggencarkan hutang riba yang jelas bertentangan dengan Islam. Kembai lagi rakyatlah yang jadi korban.

Bagaimana Memajukan Indonesia?

Untuk itulah harus ada sistem negara yang benar dan punya solusi atas semua kerusakan dan problematika yang terjadi di negeri kita saat ini. Tidak lain sistem negara itu adalah Sistem Islam, hanya dengan penerapan sistem Islam negeri kita akan terselamatkan karena Islam adalah sebuah ideologi yang mempunyai solusi lengkap. Dan juga agar mampu menjadikan Indonesia menjadi negera yang maju tanpa diintervensi oleh pihak asing maupun aseng.

Dalam sistem Islam negara adalah pelindung dan perisai umat, pemimpin dalam Islam berkewajiban melayani dan menjamin kesejateraan rakyatnya tanpa terkecuali. Sebagaimana dalam hadist Rasulullah SAW bersabda, ‘Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.’” (HR Ibnu Asakir, Abu Nu’aim). Dan Islam telah membuktikan 13 Abad lamanya mampu menguasai 2/3 belahan dunia dan mampu mensejahterakan rakyat dalam naungan sistem Islam.

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya al-Imâm (khalifah) itu adalah #perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dll)

Tetapi sayangnya hari ini sistem Islam yang memberikan kesejahteraan untuk rakyat telah diruntuhkan oleh orang-orang kafir penjajah laknatullah. Adanya paham nasionalisme yang mengotak-ngotakan umat sehingga tak ada kepedulian atas rusaknya kondisi negeri saat ini. 

Pemikiran nasionalisme yang telah mengakar dan mendarah daging dalam benak rakyat saat ini harus di cabut dan diganti dengan pemikiran Islam. Dan hanya dengan dakwah yang sesuai dengan thariqah yang telah dicontohkan Rasulullah Sistem Islam ini mampu untuk kembali.

Maka sudah seharusnya rakyat bersatu padu untuk mewujudkan sistem Islam yang hakiki. Menghilangkan setiap perbedaan golongan ataupun mahdzab. Sejatinya umat Islam satu, diikat oleh akidah yang satu yaitu Islam. 

Mengembalikan perisai dan pelindung rakyat agar mampu melepaskan diri dari bayang-bayang dan cengkraman kapitalis. Sistem negara yang benar akan memancarkan aturan kebaikan dan kebenaran pula, dan tentunya memberikan kemaslahatan untuk rakyat secara menyeluruh. Wallahu'alam bish showab. [MO/vp]

Posting Komentar