oleh: Amirah Syafiqah (Aktivis Mahasiswi Malang Raya)

Mediaoposisi.com-Di satu sisi memang harus diakui, remaja-remaja hari ini begitu terdepan soal inovasi dan pengetahuan. Tapi, di sisi lain mereka mengalami kondisi yang disebut dengan degradasi moral.

Utamanya yang berhubungan dengan pergaulan. Tak perlu dijelaskan satu-satu contohnya, karena kita pasti sudah tahu betul seperti apa kelakuan remaja zaman sekarang. Ya, pergaulan remaja sekarang memang bikin banyak orangtua mengelus dada.

Kalau dulu pacaran saja takut untuk pegang tangan, hari ini anak-anak muda tanpa segan mencium pasangannya. Bahkan, juga sudah bukan rahasia lagi, kalau banyak remaja melakukan hal-hal yang semestinya hanya boleh dilakukan ketika sudah ada ikatan pernikahan. (VIVA.co.id)

Kondisi remaja saat ini sungguh sangat perlu diperhatikan termasuk dalam pergaulan mereka, bukan menjadi suatu rahasia lagi fenomena remaja hamil diluar nikah sudah sering terdengar, bahkan bukan hanya hamil, melainkan sampai tataran mengaborsi, membuang bahkan membunuh bayinya sendiri, sudah sering terdengar.

Kadangkala orang-orang ketika mendengar berita terkait fenomena pergaulan remaja saat ini merasa sudah biasa, bahkan saking bingung memberikan solusi, akhirnya pun tak mau tahu dan lepas tangan dengan kondisi ini, yang akhirnya hanya memaklumi dengan steatment “yang penting bukan anak saya” atau yang penting bukan keluarga saya”, alih-alih malah menjadikan setiap individu memliki sikap individualis, yang sebenarnya mereka tak menyadari bahwa itulah salah satu faktor yang semakin membuat remaja jatuh kedalam jurang kenistaan.

Kendati dari banyaknya fenomena remaja yang melakukan pergaulan bebas, akhirnya banyaklah orang-orang yang masih peduli dengan kondisi ini mencari solusi-solusi untuk menyelesaikan permasalahan remaja saat ini, yang alih-alih memunculkan solusi seperti pendidikan seks, yang bahkan pendidikan seks ini dikemas dengan indah dan menarik di dalam sebuah film yang akhir-akhir ini mengundang minat remaja dan masyarakat indonesia.

Bahkan tak dipungkiri film yang ditayangkan 11 juli 2019 ini mengundang banyak pujian bahwa film ini adalah salah satu film yang akan mendidik para remaja saat ini agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas bahkan akan menghindari dari hamil diluar nikah.

Karena banyaknya pujian serta membludaknya penonton yang tertarik dengan film ini, maka hal ini mengundang pertanyaan besar, apakah benar pendidikan seks yang dikemas dalam film ini akan membawa dampak positif atau sebaliknya, yang mana diketahui film ini tak lepas dengan beberapa adegan yang menunjukkan secara jelas bagaimana pergaulan bebas antara remaja laki-laki dan perempuan bermula.

Jika kita menelaah dengan lebih jeli lagi, maka akan didapati bukan terkait apa pesan yang disampaikan oleh film ini melainkan bagaimana adegan-adegan didalam film dapat memberikan contoh yang akan diikuti oleh para remaja atau bahkan anak-anak yang kadang tidak memahami dengan maksud dengan film ini.

Bisa diberi permisalan, banyak ditemukan fakta bahwa anak-anak yang menyukai gaya hidup layaknya pada drama-drama korea, sampai bahkan menirunya, semua itu sebabkan mereka telah menyaksikannya dilayar kaca televisi yang akhirnya dijadikan sebagai kebiasaan mereka. Dari contoh tadi dapat kita simpulkan, bahwa tidak menutup kemungkinan para remaja atau anak-anak pun akan menirukan beberapa adegan-adegan film yang sebenarnya tidak sesuai dengan umur mereka itu.

Namun, tidak menjadi hal yang tabu lagi bagi masyarakat indonesia melihat tontonan seperti itu, bahkan bukan hanya dikalangan orang dewasa, pada kalangan anak-anak sekalipun sudah menjadi hal biasa.

Hal ini terjadi sebab media massa saat ini benar-benar mengaggungkan kebebasan, dengan dalih kebebasan pula lah maka beberapa tontonan disajikan, asalkan tontonan itu memiliki keuntungan, serta ada yang berminat untuk membuat, memainkan, serta menjanjikan dalam meraup keuntungan sebesar-besarnya, maka dibuatlah film-film dengan tampilan yang indah, warnah yang menarik, bahkan trailer dibuat sedemikian rupa untuk menarik penonton sebanyak-banyaknya, yang lagi-lagi semua itu hanya untuk meraih satu tujuan yakni keuntungan pribadi semata, inilah gambaran bagaimana sistem kapitalis liberal ketika menguasai media massa. Yang sebenarnya masyarakat tak menyadari bahwa merekalah yang menjadi korban dari sistem liberal saat ini.

Tayangan-tanyangan seperti ini terus mengalir begitu saja, tanpa ada larangan dari penguasa sedikit pun, bahkan bukannya melarang, malah para penguasa ikut-ikutan dalam barisan pendukung yang melanggengkan arus media liberal yang akhirnya mengorbankan generasi muda. Sekali lagi, semua ini memiliki satu alasan yakni untuk mengambil keuntungan semata.

Sangat berbeda dengan bagaimana islam mengatur media massa serta tontonan bagi masyarakat. Islam ketika menggunakan media massa seperti tayangan iklan, film, dan lainnya, sudah pasti akan menyelaraskan dengan bagaimana pembinaan generasi yang sesuai dengan tujuannya.

Mengapa? Sebab media massa ialah suatu komunikasi yang akan memunculkan suatu opini umum, sehingga akan diharuskan berisi konten yang mendidik serta hal-hal yang akan meningkatkan ketaqwaan masyarakat. Media islam menjadi sarana menjelaskan semua tuntunan hidup baik berdasar syari'at, beberapa nilai dan panduan bersikap hingga peningkatan kualitas hidup dengan pemanfaatan iptek.

Selain itu, media dalam islam berguna untuk menjadi sarana untuk mengakses informasi, serta menjadi edukasi bagi masyarakat dalam rangakan melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, serta melaksanakan koreksi atau muhasabah bagi pemimpin.

Sehingga media massa dalam Islam akan sangat jauh berbeda dengan media massa liberal saat ini, media massa islam akan dapat mencetak genarasi yang cerdas dan memiliki tujuan hidup yang jelas sehingga dapat memantakan diri untuk menjadi khoiru ummah, serta akan tak lupa akan mencetak generasi-generasi umat terbaik yang  peduli dengan sekitarnya.

Maka, Kondisi kerusakan yang sudah terjadi saat ini tentu harus diperhatiakan secara serius oleh seluruh kalangan masyarakat serta dari dengan adanya peran negara. Tak mungkin seorang pun rela ia dipimpin oleh pemimpin yang buruk perangai serta akhlaq nya, itulah mengapa kita perlu melawan arus media liberal saat ini untuk menyelamatkan generasi kita yang mana semua solusi yang mengakar dapat kita temukan dalam Islam.

Wallahu ‘Alam bi Ash-Showab[MO/sg]

Posting Komentar