Oleh : Ilham Imanul Azka
(Aktivis Media)

Sebelum membaca saya sarankan untuk membaca : Media Alat Hipnotis Dunia

Mediaoposisi.com-Dalam Media, hoax atau bukan tidaklah menjadi persoalan yang urgent dalam sebuah narasi berita, melainkkan hanya lumuran coklat yang di oleskan di atas donat kentang yang baru saja ditiriskan.

Mengapa demikian? karena medialah yang memiliki kuasa penuh atas hoax atau tidak suatu berita, mereka memiliki kemampuan untuk memutar balikkan fakta, membenarkan suatu yang salah, menyalahkan suatu yang benar sesuai keinginan penyewa-penyewa mereka.

Dilain sisi, hal yang sangat perlu kita sadari sebelum memilih untuk terjun menjadi pembaca sebuah media adalah, Siapa media itu? dan Apa propaganda/ideologi yang mendasari semua berita yang disampaikan media itu?

Karena setiap media tentu memiliki propaganda-propaganda tersendiri untuk mencapai tujuan dari para pemilik modal mereka.

Mengapa propaganda ini yang harus diketahui terlebih dahulu? Akan saya jelaskan setelah ini

Jadi media berperan penting dalam mengatur bagaimana cara berfikir seseorang, karena media memiliki kemampuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat/umat.

Contoh : Ada dua kelompok yang diberikan informasi terkait Game

Kelompok pertama : Dia selalu dicekoki informasi bahwa game dapan melatih kecerdasan anak, mampu membuat anak cepat tumbuh dewasa, menaikkan iq seseorang, menjadi milyarder dengan main game, dan diberitakan bahwa presiden mendukung lomba game seperti e-sport.

Kelompok kedua : Dia selalu dicekoki informasi bahwa game itu dapat merusak otak anak, membuat kecanduan, membuat orang egois, membuat orang gila, membuat seseorang tidak mampu mengontrol emosinya dan kemudian ia diberi informasi terkait hukum islam terkait game.

Lalu jika keduanya dihadapkan sebuah fakta : Aceh Mengharamkan Game PUBG

Apa yang dipikirkan dua kelompok tersebut?

Yang pertama akan berfikir bahwa Aceh salah telah mengharamkan game itu, bahkan dapat dipastikan mereka akan mengumpat dan mencela Aceh karena sudah mengharamkan.

Yang kedua akan membenarkan bahwa yang dilakukan Aceh sudah benar karena untuk membangun generasi yang sholeh-sholehah diperlukan langkah untuk menjauhkan generasi dari kecanduan game.

Inilah hasil propaganda yang digadang-gadang media selama bertahun-tahun hingga saat ini membentuk cara berfikir masyarakat.

Kebebasan, Egois, Rakus, Islamophobia, LGBT, Feminis, Gaya Hidup Mewah, Kesenangan,dan lain sebagainya berhasi di bentuk di dalam alam bawah sadar setiap masyarakat sehingga menjauhkan diri mereka dari kebaikan (islam).

Media telah berhasil membuat seluruh penonton dan pemirsa tunduk menjadi boneka-boneka mereka yang bisa berfikir sesuai dengan arahan media itu tanpa mereka (boneka-boneka) sadari.

Dan fatalnya kemampuan media yang begitu menyeramkan ini diambil alih oleh sebagian besar konglomerat untuk memuaskan syahwat politik ekonomi mereka, sehingga menjadikan masyarakat/umat ini tidak lain hanyalah pemuas syahwat mereka.

Kembali Persoalan Propaganda

Sebagian besar masyarakat tidak sadar akan propaganda suatu media yang mereka baca, mereka lihat dan mereka dengarkan. Masyarakat lebih memilih terhanyut dalam lautan kedunguan yang telah disiapkan khusus untuk mereka dan bertengkar sesuai arahan dari media.

Tentu hal ini tidak berlaku bagi masyarakat yang sadar. Mereka harus terus menyadarkan masyarakat yang lain dan melakukan perlawanan terhadap media-media kapitalis yang telah menjerumuskan sebagian besar masyarakat ke dalam lautan kedunguan.

Mereka harus terus belajar dan belajar untuk melakukan perubahan dunia yang telah dirusak oleh sebagian kecil konglomerat melalui media yang telah mereka kuasai. disisi lain mereka harus terus belajar islam agar terus berjalan di dalam rel kebenaran dan tidak mudah dibelokkan dengan propaganda murahan. [MO]

Selamat datang di era media

Insya Allah tulisan akan disambung lain waktu


Posting Komentar