oleh: Ummu Muzzammil
Mediaoposisi.com-Belum lama kaum muda tanah air berbondong-bondong menyaksikan film Dilan. Dilan disebut-sebut sebagai idola baru, figur remaja kekinian, dan gambaran pria idaman bagi remaja putri.
Saat ini kaum muda tanah air kembali disuguhkan film Dua Garis Biru. Film bergenre romantis yang mengisahkan tentang sepasang remaja yang menjalin kasih hingga pasangan wanitanya hamil di luar nikah.
Seperti yang diberitakan dalam laman online detik.com ( 1 Mei 2019), sebuah komunitas pendidikan menggagas petisi penolakan penayangan film Dua Garis Biru tersebut. Petisi digagas oleh Gerakan Profesionalisme Mahasiswa Keguruan Indonesia (Garagaraguru) di Change.org. Mereka menilai ada beberapa scene di trailer yang menunjukkan situasi pacaran remaja yang melampaui batas. 
Sangat wajar jika dunia pendidikan gerah dengan scene trailer tersebut. Karena mereka yang kerap kali bersinggungan langsung dengan pelajar yang notabene generasi muda. Dan dalam hal ini generasi mudalah yang menjadibtarget market dari film yang diklaim berisi edukasi seksual  pergaulan remaja. 
Alih-alih edukasi pergaulan seksual remaja tersampaikan, yang terjadi malah sebaliknya, generasi muda menjadi terinspirasi cara berpacaran, menjadikan pacaran sebagai hal yang wajar, bahkan berduaan di dalam kamar seolah biasa saja. Pantas saja, klaim edukasi pada film-film sejenis tak membuahkan hasil.
Nyatanya pergaulan remaja saat ini sampai pada ambang batas yang mengkhawatirkan. Bertebaran kabar yang memberitakan  siswi hamil, dari yang tingkat sekolah tingkat atas bahkan sampai siswi sekolah tingkat dasar.
Merebaknya video mesum yang pelakunya pelajar, baik tingkat atas maupun tingkat dasar. Dan merebaknya penyakit HIV sebagai buah dari rusaknya pergaulan pria wanita saat ini.
Sayangnya, hiburan seperti ini justru mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sebut saja film Dilan, remaja minim prestasi dan suka tawuran, justru mendapat tempat dengan dibuatkan taman Dilan. Miris. Namun, kabar tentang remaja berprestasi yang mengharumkan nama bangsa justru hilang ditelan bumi. Kurang diapresiasi oleh pemerintah.
Hiburan baik berupa film, musik, karya tulis dan lainnya, tentunya mengandung misi. Yaitu mempengaruhi yang menikmati hiburan tersebut. Namun jika yang ditanyakan miskin edukasi maka akan susah tersampaikan misi tersebut.
Seperti tujuan baik film Dua Garis Biru, yaitu supaya generasi muda tidak jatuh dalam pergaulan bebas. Meski sayang kurang tepat dalam penyampaiannya. Karena masih memvisualisasikan adegan pacaran ataupun kemesraan saat berpacaran. Hal ini tentunya berefek pada terjangkitnya naluri seksual pada orang yang menyaksikan.
Bisa dibayangkan efeknya jika generasi muda sering dirangsang dengan adegan yang mengundang syahwat seperti itu. Ya, jawabannya seperti yang terjadi saat ini. Hamil di luar nikah, free sex, perkosaan, merebaknya perzinaan, belum penyakit-penyakit yang mengancam mereka. Nauzubillahi min dzalik.
Bagaimana Edukasi Seksual dalam Islam?
Sungguh Islam merupakan agama yang menyeluruh. Islam mengatur di semua lini kehidupan. Begitu juga tentang edukasi seksual. Perhatikan hadits ini : Rasulullah SAW.bersabda:
“Suruhlah anak-anakmu shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (tanpa menyakitkan jika tidak mau shalat) ketika mereka berumur sepuluh tahun; dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)
Edukasi seksual diberikan tanpa harus terlihat vulgar. Perintah untuk memisahkan tempat tidur pada anak laki-laki dengan anak perempuan merupakan edukasi seksual awal pada anak. Dimana anak sudah bisa membedakan jenis kelaminnya, maka dari sana edukasi seksual dimulai. Ini juga mengajarkan pada anak tentang batasan pergaulan.
Selain dengan memisahkan tempat tidur juga terdapat larangan berada dalam satu selimut. Meski sejenis. Satu selimut hanya boleh untuk satu orang saja. Tentunya hal ini ampuh untuk mengatasi terjangkitnya penyuka sesama jenis. Fenomena yang mulai merebak kembali akhir-akhir ini.
Mengenalkan batasan aurat pada anak-anak. Hal ini sangat perlu. Apalagi jika wanita muslimah sudah masuk masa baligh, tentunya sudah menjadi kewajiban baginya menutup aurat secara sempurna. T
ermasuk batasan aurat terhadap sesama jenis juga harus dijelaskan. Menumbuhkan rasa malu pada diri anak jika auratnya tersingkap. Karena malu juga bagian dari keimanan. Jika rasa malu pudar pada diri seseorang, maka pertanyaan lagi keimanannya.
Larangan jangan mendekati zina, jangan berdua-duaan dengan lawan jenis juga harus dipahamkan pada anak. Ini akan menjadi rambu-rambu  pergaulan dalam interaksi pria dan wanita. Memilih teman yang sesuai dengan jenis kelaminnya, akan menghindarkan dari pergaulan bebas.
Dan saat sudah mulai ada ketertarikan dengan lawan jenis sedang belum ada kemampuan untuk menikah maka Islam pun punya solusi. Yaitu dengan berpuasa dan menahan pandangan. Masya Allah. Indahnya edukasi seksual dalam Islam.
Hal yang harus senantiasa diingatkan adalah bahwa dimanapun kita berada pasti ada dalam pengawasan Allah. Maka berhati-hatilah dalam berbuat. Akan ada pertanggungjawaban pada semua aktivitas kita.
Negara sebagai penjaga akidah masyarakat pun harus mampu berperan. Negara berhak mengontrol hiburan-hiburan mana yang layak untuk disiarkan maupun yang tidak. Bukan hanya dari segi keuntungan materi saja tapi efek positif pada generasi.
Begitulah Islam mengedukasi dan menjaga generasi muda. Karena generasi mudalah penerus peradaban ini. Tentu akan dijaga dengan hati-hati supaya generasinya bukan generasi yang suram tapi generasi yang gemilang.[MO/sg]

Posting Komentar