oleh: Selfiyana Astuti 
(Praktisi Pendidikan SumSel)



x
Mediaoposisi.com-Dunia pendidikan kembali digegerkan dengan kematian siswa SMA Semi Militer Plus Taruna Indonesia di Palembang, Delwin Berli Juliantoro (14), saat mengikuti pelaksanaan Masa Orientasi Siswa (MOS), Sabtu (13/7). 
Polisi telah menetapkan Obby Frisman Arkataku (24), yang merupakan pembina siswa di sekolah tersebut, sebagai tersangka kasus. Status tersangka itu disematkan setelah polisi mengumpulkan sejumlah bukti dan saksi. Berdasarkan pemeriksaan sementara, Obby diduga memukuli Delwin, menarik kasar hingga kepalanya membentur aspal.
Menurut Kasat Reskrim Polresta Palembang, Komisaris Yon Edi Winara, motifnya karena kesal karena korban ini dianggap malas-malasan oleh pelaku, karenanya korban dikasari dan dipukul pakai bambu.
Akibat peristiwa itu, orang tua Delwin membuat laporan ke Polresta Palembang. Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Palembang, AKP Heri, membenarkan adanya laporan dugaan tindak penganiayaan yang mengakibatkan Delwin meninggal dunia. (Kumparan.com)
Kasus Berulang: Output Pendidikan Sekuler Liberal
Peristiwa penganiayaan murid baru sampai tewas bukan sekali ini terjadi. Kasus ini pernah terjadi di IPDN di berbagai wilayah pada tahun 2000, 2002, 2003, 2011 dan 2015, di Universitas Gunadarma pada tahun 2001,  di ST Ilmu Pelayaran pada tahun 2007, di ITB pada tahun 2008, di BP2IP Tangerang pada tahun 2012, di ITN Malang pada tahun pada tahun 2013. (news.okezone.com)

Sesungguhnya kekerasan di dunia pendidikan saat ini barulah sebagian kecil dari segala persoalan yang melingkupinya. Pendidikan sekuler liberal telah gagal menghasilkan manusia-manusia berkepribadian luhur.

Munculnya kepribadian-kepribadian yang kasar menyimpang adalah hasil dari sistem pendidikan yang memisahkan agama dari kehidupan. Pelajaran agama hanya dipelajari tanpa pengamalan. Ditambah lagi pendidik di lembaga pendidikan hanya berkutat dalam transfer ilmu, bukan transfer perilaku.

Sehingga menghasilkan manusia-manusia pintar bak buku berjalan namun minus ketaatan terhadap Sang Pencipta karena para pendidik telah gagal dalam mencontohkan ketaatan dari dirinya sendiri.

Selain itu, pendidikan saat ini telah membentuk orientasi pelajar untuk hanya mengejar nilai raport dan peringkat. Hal ini telah mengalihkan tujuan manusia dari makna kehidupan hakiki kepada tujuan-tujuan jangka pendek yang rendah nilainya di mata Allah SWT.
Diantara tujuan-tujuan itu adalah supaya dianggap berkuasa dan hebat dengan cara mengintimidasi orang lain. Di sinilah dapat dilihat pula bahwa pendidikan sekuler telah salah mengajarkan cara-cara pemenuhan naluri-naluri manusia. Lebih dari itu, kasus ini juga menunjukkan kegagalan negara dalam mengurus pendidikan.
Negara tidak memiliki tujuan pasti dalam dunia pendidikan. Pun kalau di sana tertera tujuan-tujuan pendidikan, semua berakhir kalau bukan keliru dalam metode mewujudkannya, bisa jadi hanya sekadar kata-kata atau slogan. Kekacauan tujuan ini telah merambat ke cabang-cabangnya, termasuk yaitu menjadi tidak jelasnya kepribadian-kepribadian manusia hasil pendidikannya.
Kepribadian Mulia Hasil Pendidikan Islam
Berbeda halnya dengan pendidikan Islam. Tujuan pendidikan di dalam Islam adalah membentuk kepribadian Islam. Dengan tujuan ini, maka aqidah Islam dijadikan landasan dalam pendidikan.

Para pendidik juga tak sekadar mengajarkan ilmu, tetapi juga mencontohkan dari dirinya sendiri. Sehingga pribadi yang dihasilkan olehnya adalah kepribadian pintar dan taat kepada Allah SWT. 

Pendidikan Islam juga memberikan kepada manusia pandangan dan orientasi hidup yang benar. Naluri-nalurinya akan ia penuhi sesuai syariat Islam. Ia tidak semena-mena menyiksa orang lain demi egonya karena ia menaati Allah SWT:

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (QS Al Ahzab : 58).

Pada akhirnya, untuk pemecahan dan perbaikan secara tuntas persoalan ini, sangat dibutuhkan koreksi yang mendasar yaitu dimulai dari mengubah paradigma pendidikan sekuler liberal dengan paradigma pendidikan Islam.

Paradigma pendidikan Islam hanya bisa diwujudkan oleh satu-satunya negara yang meenerapkan Islam secara kaffah dan mennjadikan Islam sebagai politik negara, yaitu Daulah Khilafah Islamiyah. [MO/sg]

Posting Komentar