Oleh: Wiji (Pemerhati remaja)

Mediaoposisi.com-Generasi milenial siapa yang tak kenal. Generasi yang suka dengan kebebasan. Kebebasan untuk menentukan jalan hidup, kebebasan untuk mencari jati dirinya. Tentu kita pernah melewati masa remaja yang indah. 
Indah karena di sana kita bebas menentukan arah hidup yang ditempuh. Mengingat masa remaja adalah masa labil-labilnya dalam mengambil keputusan, maka disinilah peran kedua orang tua untuk senantiasa ikut serta mengarahkan anak-anaknya. Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anak remajanya memilih jalan hidup yang akan bermanfaat untuk dirinya di kemudian hari. 
Generasi milenial saat ini diarahkan untuk mendapat kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa melihat apakah kebebasan yang ditawarkan saat ini membuatnya menjadi lebih baik atau tidak. Mereka justru menikmati kebebasan yang ada.
Karena menurut mereka kebebasan merupakan ekspresi yang harus dimanfaatkan. Sayang seribu sayang, kebebasan yang ada di negara dengan sistem saat ini membuat generasi remaja benar-benar hancur dan rusak serusak-rusaknya. 
Generasi milenial dirusak dengan berbagai macam cara dan diserang dari berbagai penjuru. Mulai dari game, fashion, hiburan, dan lain sebagainya. Misalnya dari segi film, di sistem liberal yang sangat mengagung-agungkan kebebasan, rumah produksi pasti akan berlomba-lomba untuk membuat film yang mempunyai daya jual tinggi dengan judul dan isi film yang menarik. 
Kalau film yang mereka angkat adalah film yang mengandung banyak pesan moral yang berguna bagi remaja saat ini tentu tak masalah. Namun bukannya mengandung moral dan pesan positif justru kebanyakan film yang mereka buat lebih banyak menjerumuskan anak-anak remaja.
Film "Dua Garis Biru" sempat viral. Dinilai sangat menggambarkan nilai-nilai yang ingin ditanamkan dalam program remaja di Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Film "Dua Garis Biru" karya sutradara Ginatri S Noer mengisahkan sepasang remaja yang melampaui batas dalam berpacaran sehingga berujung pada pernikahan usia dini.
Film tersebut memberi pesan bahwa remaja harus memiliki rencana kehidupannya sejak awal hingga kelak membangun rumah tangga. Menggambarkan pernikahan di usia muda bisa merusak masa depan dan memupuskan berbagai cita-cita.
Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (BKKBN) Dwi Listyawardani mengatakan bahwa film tersebut bisa menjadi edukasi kesehatan reproduksi pada remaja yang menontonnya. Film itu menggambarkan realita bahwa anak remaja sedikit mengetahui dan belajar tentang kesehatan reproduksi namun tidak mengetahui berbagai resiko yang bisa terjadi akibat perkawinan usia muda.
Menurut dia, menyampaikan sosialisasi mengenai kesehatan reproduksi, perencanaan kehidupan, dan nilai-nilai lain kepada remaja memang lebih tepat dengan menggunakan media film. 
"Penyajiannya memang harus seperti ini, dalam bentuk ceramah orang nggak akan dengar, tapi dengan film seperti ini bisa tersampaikan." katanya. Dwi pun mengatakan BKKBN akan membawa film "Dua Garis Biru" sebagai sosialisasi program agar bisa ditonton oleh remaja di seluruh provinsi. (pemilu.antaranews.com)
Berbeda sikap dengan beberapa pihak yang menilai berbeda mengenai film ini. Mereka yang tidak setuju dengan film ini akan melakukan cara dan upaya agar film ini tidak ditonton oleh remaja saat ini.
Misalnya petisi yang  digagas oleh Gerakan Profesionalisme Mahasiswa Keguruan Indonesia (Garagaraguru) di Change.org. Mereka menilai ada beberapa scene di trailer yang menunjukkan situasi pacaran remaja yang melampaui batas.  
Menurut mereka, tontonan tersebut dapat memengaruhi masyarakat, khususnya remaja untuk meniru apa yang dilakukan di film. Beberapa scene di trailer menunjukkan proses pacaran sepasang remaja yang melampaui batas, terlebih ketika menunjukkan adegan berduaan di dalam kamar yang menjadi rutinitas mereka.
Scene tersebut tentu tidak layak dipertontonkan pada generasi muda. Penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa tontonan dapat mempengaruhi manusia untuk meniru dari apa yang telah ditonton. (detikHOT, 01/05/2019).
Film "Dua Garis Biru" sangatlah menjerumuskan remaja yang ada saat ini. Film ini dengan nyata mengandung banyak kerusakan yang akan berdampak pada remaja saat ini. Inilah salah satu hasil dari sistem liberal yang tak mampu membendung dan mengendalikan arus liberalisasi yang kian deras menghanyutkan segalanya. Film dibuat sedemikian rupa menarik namun justru menjerumuskan. 
Berbeda dengan film yang diproduksi dengan nuansa Islam yang bertujuan sebagai ladang dakwah dan edukasi bagi masyarakat. Umat akan memperoleh nilai-nilai moral yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya film yang dibuat ini banyak mengandung hal-hal positif yang bertujuan baik. Syariat Islam dapat menyelamatkan remaja. Dimana remaja adalah generasi penerus untuk mengemban Islam. 
Negara sebagai pelindung masyarakat tentunya juga harus kuat dan kokoh. Menurut La Ode Munandar dalam karyanya yang berjudul Indonesia Tanpa Pacaran menyebutkan bahwa negara yang kuat itu adalah negara yang mampu menutup konten-konten pornografi dan melarang pornoaksi.
Negara menyediakan pendidikan Islam secara cuma-cuma, memudahkan menikah dan menyusahkan pacaran, memberikan kesejahteraan perekonomian serta mendukung poligami dan menolak selingkuh. 
Selain yang disebutkan di atas juga ditawarkan sebuah gerakan yang menolak pacaran, yaitu  gerakan Indonesia Tanpa Pacaran. La Ode Munandar sebagai pendirinya berusaha ingin menyelamatkan generasi remaja saat ini agar tidak terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan.
Seharusnya remaja saat ini bergabung dan menyambut baik gerakan Indonesia Tanpa Pacara ini agar dirinya tidak terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan yang disebabkan oleh arus deras sistem liberalisasi yang ada. Gerakan semacam inilah yang akan memberikan efek positif yang luar biasa kepada remaja saat ini. 
Negara yang kuat sesuai yang disebutkan oleh La Ode Munandar tersebut hanya bisa diwujudkan ketika Khilafah kembali tegak di tengah-tengah kita. Ketika khilafah ala manhaj nubuwwbah tegak maka negara sebagai perisai umat akan menerapkan syariat islam dengan mudah.
Khilafah yang akan menuntaskan dan mengganti sistem yang bobrok untuk menyelamatkan remaja saat ini dari derasnya arus liberalisasi. Janji Allah SWT itu pasti maka khilafah tentu akan tegak kembali. Allahu Akbar[MO/sg]


Posting Komentar