Oleh : Ummu Aqeela

Mediaoposisi.com-Pelangi, fenomena alam ciptaan Tuhan yang sekarang jarang sekali kita jumpai. Begitu pelangi muncul pasti mayoritas orang berbondong-bondong untuk melihat keindahannya. Saat kecil kita mengenal tiga warna dalam pelangi merah, kuning, hijau karena pernyataan itu tertuang dalam sebuah lagu anak-anak. Tapi nyatanya warna-warna pelangj lebih dari tiga dan sungguh sangat menakjubkan.

Yang sangat disayangkan sekarang warna pelangi itu disalah gunakan oleh sebagian besar kaum yang menamai diri mereka kaum LGBT yaitu lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Warna pelangi yang mereka angkat sebagai simbol merefleksikan keberagaman kaum mereka seolah menegaskan bahwa mereka adalah ciptaan Tuhan. 

Bahwa mereka sebagai manusia tentu saja adalah ciptaan Tuhan itu tidak terbantahkan, namun jika perilaku menyimpang mereka juga dianggap Tuhan yang menciptakan itu adalah pemikiran yang kebablasan. Saking kebablasannya mereka mempunyai ritual khusus tiap tahun untuk memparadekan simbolnya sebagai eksistensi keberadaan mereka yang ingin diakui dan juga diterima. 

Parade inipun dihadiri banyak kalangan mulai dari umum bahkan public figure, yang tentu saja mempunyai orientasi sex yang berbeda. Dari Indonesia sendiri seorang public figure yang mengaku dirinya adalah seorang transgender yaitu Dena Rahman terlihat menghadiri parade tersebut, mengatasnamakan Indonesia sambil mengibarkan merah putih disana. ( Liputan6.com 4/7/2019 )

Di Indonesia sendiri kaum LGBT menjadi polemik yang tak berkesudahan, banyak pertentangan karena sudah pasti melanggar syari'at agama namun, tidak sedikit pula dukungan moral karena dianggap sebagai hak asasi manusia. 

Demam pelangi LGBT saat ini sudah mulai mengkhwatirkan, karena warna-warna pelangi yang mereka usung sudah menyasar dalam tontonan anak-anak generasi penerus kita, seolah mencoba di cuci otaknya bahwa dari sedini mungkin mereka mencintai warna itu dan mereka mencintai keberagaman dalam warna itu. 

Pelangi memang sangat menakjubkan jika pelangi itu Allah ciptakan, namun saat ini pelangi menjadi menakutkan karena penodaan maknanya yang diciptakan manusia.

Ini membuktikan bahwa dalam hukum sekulerisme dan kapitalisme semua bisa berkembang, bahkan aktifitas yang awalnya hanya sebagai eksistensi kaumnya saja sudah menjadi aktifitas politik yang membahayakan. 

Hukum sekulerisme yang memang digaungkan untuk memisahkan peran agama dalam kehidupan lambat laun menuai hasilnya, sudah tidak terhitung umat yang terlena dalam hukum ini sehingga akidah Islam sebagai pondasi hanya sebatas di rasa dan hati namun tidak dalam pemikirannya.

Pemerintahpun yang dianggap menjadi garda terdepan dalam menangkal segala pengaruh negatif terlihat lemah bahkan terkesan membuka pintu lebar-lebar untuk kaum nabi luth ini berkembang dengan suburnya. 

Karena lemahnya perlindungan negara, maka semakin berat pula tugas orang tua dalam meri'ayah anak-anaknya. Bagaimana tidak, ibarat seekor ikan kita bertahan hidup dalam air yang tercemar, yang mau tidak mau kita meneguknya untuk bertahan hidup.

Karena berbagai fenomena yang muncul efek dari sekulerisme yaitu pemisahan agama dalam kehidupan, maka jalan satu-satunya jalan untuk menarik manusia menuju fitrahnya yaitu dengan mengembalikan fungsi agama itu sendiri dalam kehidupan. 

Agama atau syari'at Islam adalah pondasi, akidah dasar sebagai fungsi pengontrol atau rambu dalam kita melakukan berbagai aktifitas. Karena Islam mengatur semuanya, mulai dari urusan kamar mandi, politik bahkan fitrah kita sebagai manusia yaitu laki-laki dan perempuan, tidak terbatas dalam ritual peribadahan saja (sholat,zakat,puasa,dll).

Dalam Islam, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk berpasang dan memperbanyak keturunan, proses itupun harus sesuai syari'at yaitu adanya pernikahan yang sah secara agama. Semua hubungan seksualitas diluar pernikahan adalah ilegal dan menyimpang. Dan sudah pasti akan mendapatkan dosa besar dan laknat dari Allah SWT.

Untuk mengurai permasalah yang sistemik ini tentu kita tidak bisa berjuang secara sendiri-sendiri, dibutuhkan kerjasama yang solid dan sistemik pula. Namun hal yang tidak mungkin kesolidan itu terwujud ketika negara masih menerapkan sistem demokrasi. 

Karena terbukti sejak demokrasi diterapkan hingga sekarang penyimpangan seks tidak makin terberantas namun makin membebas. Tidak ada penyelesaian selain mengembalikan semuanya ke hukum-hukum Allah secara kaffah. 

Ketika penanaman ketaqwaan dan keimanan yang kuat akan adanya hisab segala perbuatan akan membuat umat berpikir seribu kali untuk melakukan maksiat. Kembali ke syari'at satu-satunya syarat menciptakan umat yang ta'at dan bermartabat.[MO/vp]

Posting Komentar