x
Oleh: Chusnatul Jannah
Mediaoposisi.com-Pepatah Jawa yang berbunyi 'lamun sira sekti, aja mateni' baru-baru ini disampaikan Jokowi dalam video singkat di akun twitternya. Sebagai pemimpin berdarah Jawa wajar saja petuah Jawa begitu melekat dalam dirinya. Petuah yang disampaikan seorang Presiden bukan sekadar petuah hampa kosong makna. Ia memiliki makna politis.
'Lamun sira sekti, aja mateni' diartikan dengan 'Meskipun kuat, jangan menjatuhkan'. Istana Kepresidenan pun langsung memberi tanggapan.
Menurut mereka, ungkapan Jokowi mengandung pesan-pesan kemanusiaan. "Ya kata 'lamun sira sekti, aja mateni' itu artinya mengandung pesan-pesan kemanusiaan dari Presiden Jokowi. Bagaimana pun juga kekuasaan tidak boleh dipakai untuk menindas," kata Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (20/7) kemarin.
Dia menambahkan, seorang pemimpin akan didukung rakyat bila tak menyalahgunakan kekuasaan. Hasto menyinggung masa kepemimpinan Presiden ke-2 RI Soeharto yang akhirnya diturunkan rakyat setelah berkuasa selama 32 tahun. (detik.com)
Nampaknya petuah Jawa itu lebih cocok dialamatkan kepada Jokowi dan jajaran pejabat di pemerintahannya. Sebab, saat ini merekalah sejatinya yang menjadi penguasa. Lamun sira sekti, aja mateni. Saat berkuasa, jangan jumawa.
'Kesaktian' penguasa nampak jelas tatkala kebijakan mereka dikritik habis-habisan. Mereka justru menanggap kritikan dengan cara tak bijak. Terkesan represif dan otoriter.
Sepanjang mereka berkuasa, hukum disalahgunakan. Mudah menjerat rakyat dengan UU ITE yang memang mengandung banyak pasal karet. Tuduhan anti Pancasila dan NKRI acap kali dijadikan dalih pembenaran untuk membungkam kritik dari rakyat dan oposisi. 
Meski sakti, jangan menjatuhkan. Meski menang, jangan sesumbar. Apa lagi kemenangan itu diwarnai dengan berbagai polemik pemilu. Mulai dari kecurangan, kematian anggota KPPS hingga sentimen terhadap umat Islam.
Lamun sira sekti, aja mateni. Meski berkuasa kembali, jangan anti kritik. Biarkan rakyat menyampaikan pendapat dengan tenang tanpa dihantui ancaman UU ITE yang kerap kali disalahgunakan. Kritik itu bertujuan mengingatkan penguasa agar tak lupa diri dan tinggi hati. 
Nasihat Jawa yang dikemukakan Presiden Jokowi juga bisa saja bermakna sindiran. Menyindir pihak-pihak yang getol memperebutkan kursi kekuasaan. Menyindir para politisi partai koalisi yang ribut dengan urusan pribadi. Menyindir siapapun yang mencoba cuci tangan dengan melemparkan kesalahan pada dirinya.
Sindiran Jawa yang seharusnya membuat pejabat sadar dan tahu diri. Rakyat memilih mereka bukan untuk kekayaan harta pribadinya. Rakyat pilih mereka untuk menjalankan mandat. 
Mungkin, petuah Jawa itu adalah bentuk kegelisahan Jokowi sebagai pemimpin yang tidak bebas. Terbebani dengan berbagai kepentingan. Terintervensi dengan berbagai macam permintaan. Semoga saja petuah itu menjadi pengingat dirinya sebagai pemimpin. Bahwa kepemimpinan itu amat berat hisabnya. Apalagi jika ia zalim, tak ada bau surga untuknya. Naudzubillah. [MO/sg]

Posting Komentar