Oleh: Nur Syamsiyah
(Aktivis BMI Community Malang Raya)

Mediaoposisi.com-Mengingat peristiwa 1998, yang menjadi saksi bagi tragedi perekonomian bangsa. Keadaannya berlangsung sangat strategis dan tercatat sebagai periode paling suram dalam sejarah perekonomian Indonesia. Krisis ekonomi ini juga terjadi di kawasan Asia lainnya yang berdampak pada stabilitas makro ekonomi dunia.

Bermula pada peristiwa itu, organisasi tujuh negara ekonomi maju atau dikenal dengan G7 dinilai gagal dalam mencari solusi meredam krisis ekonomi global. Saat itu, kekecewaan komunitas internasional terhadap G7 melahirkan aksi lanjutan. 

Negara-negara berpendapatan menengah dan memiliki pengaruh ekonomi sistemik diikutsertakan dalam perundingan internasional guna mencari solusi  meredam krisis perekonomian global.

Perundingan itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya organisasi Group of Twenty (G20) pada tahun 1999. Sejumlah negara yang tergabung dalam G20 antara lain, Indonesia, Amerika Serikat (AS), Argentina, Brazil, Australia, Kanada, Meksiko, Turki, Korea Selatan, Jepang, China, Jerman, Inggris, India, Arab Saudi, Afrika Selatan, Italia, Perancis, Rusia, dan Uni Eropa.

G20 memiliki posisi strategis, karena secara kolektif mewakili sekitar 65 persen penduduk dunia, 79 persen perdagangan global, dan 85 persen perekonomian dunia. G20 mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tiap tahunnya. KTT G20 tahun ini dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2019 di Osaka, Jepang.

Posisi Indonesia dilihat dari segi Produk Domestik Bruto (PDB) menempati posisi ke 16 di antara negara G20, dengan nominal US$1,07 triliun. Sedangkan Amerika Serikat (AS) dengan nominal US$20,41 triliun di posisi pertama, diikuti oleh Uni Eropa US$19,67 triliun, China US$14,09 triliun dan Jepang US$5,17 triliun.

Sebagai catatan, PDB merupakan nilai barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara dalam periode tertentu. PDB bisa dijadikan alat ukur dari pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sehingga PDB bisa dikatakan sebagai indikator ekonomi suatu negara untuk mengukur jumlah total nilai produksi dimana jumlah total ini dihasilkan oleh semua warga atau perusahaan baik yang dimiliki oleh lokal atau asing.

Melihat posisi PDB Indonesia sebagai posisi ke 16 menggambarkan kekuatan ekonomi Indonesia masih sangat lemah. Ekonomi Indonesia masih sangat terlampau jauh dari Amerika Serikat (AS) sebagai negara adidaya. Begitu juga dengan China, Indonesia sama sekali tidak bernilai dibanding dengan PDB China.

Dengan demikian, kita melihat bahwa Indonesia tidak akan mampu bersaing dengan negara-negara maju, khususnya Amerika, Uni Eropa dan China. Sebagai negera berideologi kapitalisme, negara-negara maju itu akan mematikan perekonomian negara-negara berkembang atas nama kerja sama, investasi dan perdagangan dalam memajukan perekonomian bangsa. 

Di sini lah, mereka akan mengintervensi kebijakan ekonomi suatu negeri dimana ia melebarkan sayap-sayapnya di negeri tersebut.

Dalam pergaulan internasional, setiap negara memiliki kepentingan yang bermacam-macam. Setiap kerja sama yang dilakukan, pasti mengandung alasan mendasar yang dibangun. Di balik itu, akan menjadi “celah” bbahaya laten bagi kedaulatan dan kemandirian sebuah negara. 

Sehingga kerja sama yang dibangun dalam organisasi tersebut akan berubah menjadi imperialisme dan kolonialisme, yaitu suatu negara terpaksa (dipaksa) tunduk terhadap intervensi negara lain. Inilah yang disebut dengan model penjajahan baru dunia tanpa senjata dan darah.

Sudah saatnya Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya sadar terhadap tipuan dan wajah bermanis muka para penguasa kapitalis yang bergabung dalam G20 ini. Sebab hal ini akan memuluskan agenda penjajahan negara adidaya terhadap negeri berkembang.

Menjadi sebuah keharusan bagi Indonesia dan negeri-negeri negeri muslim yang lain untuk berpegang teguh pada ideologi Islam sebagai modal utama untuk bangkit menjadi negara yang kuat, mandiri dan punya beginning position di hadapan bangsa lainnya. 

Hanya ideologi Islam yang mampu melawan ideologi kapitalis yang sedang berada di ujung tanduk kehancuran ini. Kapitalisme, imperialisme, liberalism, kolonialisme dan kawan-kawannya akan segera binasa dan Islam akan segera menyinari dunia. [Mo/vp].

Posting Komentar