Oleh. Reni Tresnawati 
(Ibu Dan Pemerhati Generasi)

Mediaoposisi.com-Beberapa waktu lalu, masyarakat dihebohkan, dengan kemunculan film yang kontroversi dengan judul "Kucumbu Tubuh Indahku", yang diboikot oleh beberapa pemerintah kota. Belum selesai polemik film tersebut, baru-baru ini muncul petisi untuk film "Dua Garis Biru". Sebelum ditayangkan di bioskop.

Petisi digagas oleh Gerakan Profesionalisme Mahasiswa  Keguruan Indonesia (Garagaraguru) di change. Org. Mereka menilai  ada beberapa scene di trailer yang menunjukkan situasi pacaran remaja yang melampaui batas.

Film yang di sutradarai Giantri S.  Noer, mengisahkan sepasang remaja yang melampaui batas dalam berpacaran, sehingga berujung pada pernikahan usia dini. " Beberapa scene di trailer, menunjukkan adegan berdua dalam kamar yang menjadi rutinitas mereka, scene tersebut tentu tidak layak dipertontonkan pada generasi muda. 

Penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa tontonan dapat memengaruhi orang untuk meniru dari apa yang telah ditonton, khususnya remaja" isi di dalam petisi dilihat detik HOT. Rabu (1/5)

Meski tak melihat ada adegan yang melanggar undang-undang, mereka menyebut ada pesan implisit yang ingin disampaikan lewat "Dua Garis Biru". Pesan tersebut dikhawatirkan dapat merusak generasi muda Indonesia.

Segala tontonan yang menjerumuskan generasi kepada perilaku amoral, sudah sepatutnya dilawan (bukan tentang Dua Garis Biru saja, melainkan film secara umum), karena kunci pembangunan negara ada pada manusianya. 

Mustahil, apabila kita mau mewujudkan Indonesia Emas 2045, namun generasi mudanya masih sering disuguhi tontonan yang menjerumuskan kepada perilaku amoral.

Petisi film Dua Garis Biru telah ditandatangani 158 orang hingga rabu (1/5), pukul 07.40 wib. Sejumlah netizen menyayangkan adanya petisi. Padahal film belum ditayangkan, sehingga tidak bisa melihat secara utuh pesab yang ingin disampaikan. Padahal "Dua Garis Biru" diniatkan untuk mengedukasi generasi muda tentang bahaya seks di luar nikah.

Perihal petisi "Dua Garis Biru" yang membuat masyarakat penasaran dengan isi yang disampaikan. Membuat minat masyarakat untuk menonton film "Dua Garis Biru" sungguh tak terbendung. Petisi tinggallah petisi. Kepenasaranan masyarakat, terutama kaum muda sangat antusias. Kini film tersebut sudah mencapai lebih dari satu juta penonton.

Keberhasilan ini, disambut baik oleh Deputi Bidang Keluarga Sehajtera dan Pemberdayaan  Keluarga BKKBN, M. Yani. Dia mengatakan film Dua Garis Biru, dinilai sangat menggambarkan nilai-nilai  yang ingin ditanamkan dalam program remaja di Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Film Dua Garis Biru dapat membantu BKKBN, dalam menjangkau remaja Indonesia lebih luas, dengan program Generasi Berencana (Genre). Film tersebut memberi pesan, bahwa remaja harus memiliki rencana kehidupannya sejak awal hingga kelak membangun rumah tangga. Dua Garis Biru, menggambarkan pernikahan di usia muda bisa merusak masa depan dan memupuskan berbagai cita-cita.

Setali tiga uang dengan Dwi Listyawardani, Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi yang mengatakan bahwa film tersebut bisa menjadi edukasi kesehatan reproduksi kepada ramaja yang menontonnya.

Film itu menggambarkan realitas, bahwa anak remaja sedikit mengetahui dan belajar tentang kesehatan reproduksi. Sehingga tidak mengetahui risiko-risiko yang bisa terjadi akibat perkawinan usia dini. Salah satunya kematangan ibu kehamilan usia terlalu dini.

Menurut dia, menyampaikan sosialisa mengenai kesehatan reproduksi, perencanaan kehidupan, dan nilai-nilai kepada ramaja, memang lebih tepat menggunakan media film daripada dalam bentuk ceramah, orang tak akan dengar. Tapi, dengan film bisa tersampaikan. Dwi pun mengatakan, BKKBN akan membawa film Dua Garis  Biru sebagai sosialisasi program, agar bisa ditonton oleh remaja di seluruh provinsi. ANTARA.  (11/7).

Wacana sosialisasi film Dua Garis Biru ke seluruh provinsi, agar ditonton remaja. Apakah sesuatu hal yang baik? Mengingat, scene yang ada dalam tontonan itu tidak layak ditonton oleh orang yang belum menikah, apalagi remaja. Bisa-bisa setelah setelah menonton film tersebut,malah terobsesi dan ingin mencoba semua adegan yang ada di film itu. Seperti paparan yang dikhawatiran para penggagas petisi.

Jika sudah begitu, netizen khususnya para orangtua mau bilang apa?
Inilah keadaan di sistem liberal, yang mengagungkan kebebasan. Bebas beragama, bebas berbicara, bebas kepemilikan dan bebas bertingkah laku. Memproduksi pembuatan film termasuk kebebasan bertingkah laku atau berekspresi.

Dalam sistem demokrasi, apapun bisa dijadikan bisnis, asalkan menguntungkan. Tak perduli scenenya seperti apa. Salah satunya pembuatan film yang tidak mendidik. Proyek dalam sebuah film bernilai bisnis yang menjanjikan keuntungannya, apalagi jika peminat yang menonton membludak, bisa meraup keuntungan yang fantastis. Dan film yang di produksinya juga akan dibuat dengan judul dan trailer yang 'menjual' untuk kepuasan pemikmat film.

Dunia pertelevisian saat ini, jarang sekali yang menyuguhkan tontonan yang bermanfaat buat anak-anak dan remaja. Bahkan hampir tidak ada. Ada juga film kartun tapi muatan isinya disisipi adegan orang dewasa. Dan itu bisa berpengaruh terhadap pikiran dan tingkah laku mereka. Anak-anak lebih cepat dewasa sebelum waktunya. Dan secara tidak langsung sudah tertanam dalam jiwa dan pikirannya.

Bagaimana tidak. Anak-anak disuguhi tontonan yang seharusnya buat orang dewasa. Dan itu sudah lulus sensor dari pihak yang bertanggungjawab atas perkembangan generasi penerus bangsa.
Penguasa saat ini, tidak berdaya mengendalikan arus liberalisasi, yang  menghancurkan dan menjerumuskan generasi muda melalui film. 

Bahkan penguasa ada yang bekerjasama  dengan pengusaha dalam bisnis. Karena laba yang didapat begitu menguntungkan. Misalnya film Dua Garis Biru. Penguasa di negeri ini malah mendukung dengan tayangan film tersebut.

Dengan dalih, bertujuan untuk mengedukasi remaja tentang bahaya seks bebas yang kebablasan dan menyebabkan hamil di luar nikah. Dan untuk kepentingan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi bagi remaja. Dirasa itu bukan salah satu alasan memberikan edukasi terhadap remaja. 

Malah sebaliknya, membuat remaja semakin penasaran dan mempraktekkan adegan yang ada dalam film itu.

Islam. Agama paripurna yang mengatur berbagai hal yang berhubungan dengan kehidupan ini. Termasuk hal yang berhubungan dengan interaksi wanita dan pria, sampai dengan media dalam budang perfilman.

Pergaulan antara pria dan wanita, dipisah. Tidak ada interaksi antara keduanya. Tidak ada ikhtilat (bercampur baur), apalagi khalwat (berdua-duaan). Kecuali dalam beberapa hal, boleh ikhtilat. Misalkan. Di Pasar,  di Sekolah, di Rumah Sakit, di Kendaraan umum. Karena itu tempat-tempat umum.

Dalam bidang pwrfilman, negara mempunyai peran utama dalam mengendalikan produksi film. Film dibuat hanya dalam rangka dakwah dan edukasi bagi rakyat. Jadi dunia pertelevisian selalu dipantau dan diawasi. Khawatir ada tontonan yang tidak layak dan bisa merusak generasi. Wallahu'alam. [MO/vp]


Posting Komentar