By: Fitri Dwi Anjaswangi
(Mahasiswa STEI Hamfara)

Mediaoposisi.com-Rupa-rupanya sistem liberal kini sudah mulai berani menampakkan keseriusannya untuk merusak anak bangsa dengan segala penyuguhan dalam sistemnya. Film Dua Garis Biru misalkan, selain merupakan ajang bisnis untuk mereka, namun juga merupakan sebuah cara bagaimana mereka mengusung idenya dengan epic sehingga tidak tampak sebenarnya ada konspirasi yang akan merusak anak bangsa secara perlahan.

Edukasi seks bebas lah yang diusung dalam Film Dua Garis Biru karya sutradara Ginatri S Noer mengisahkan sepasang remaja yang melampaui batas dalam berpacaran sehingga berujung pada pernikahan usia dini

Jakarta (ANTARA) - Film berjudul Dua Garis Biru yang baru tayang di bioskop hari ini dinilai sangat menggambarkan nilai-nilai yang ingin ditanamkan dalam program remaja di Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Penyajiannya memang harus seperti ini, dalam bentuk ceramah orang nggak akan dengar, tapi dengan film seperti ini bisa tersampaikan," kata dia. Dwi pun mengatakan BKKBN akan membawa film Dua Garis Biru sebagai sosialisasi program agar bisa ditonton oleh remaja di seluruh provinsi.

Omong kosong bukan? Bagaimana mungkin film ini begitu mudah ditelaah secara mentah oleh BKKBN  bahwa film ini merupakan cara mudah mengedukasi para remaja dibandingkan dengan penyajian dalam bentuk ceramah. Argumentasi yang soft ini justru sangat berbahaya sebab akan mempengaruhi persepsi masyarakat dalam hal ini.

Karena banyak di kalangan masyarakat memilih untuk baik-baik saja terkait film ini lantaran asumsi mereka hanyalah sebatas film yang juga mempunyai ibrah, dan tetap ada nilai positif terkhusus untuk kalangan remaja.

Padahal jelas-jelas di scene di trailer menunjukan adanya proses pacaran seorang remaja yang melampaui batas, terlebih menunjukan adegan berduaan dikamar  yang menjadi rutinitas merek, salah kaprah untuk mereka yang tetap ngotot film tersebut baik untuk edukasi generasi muda saat ini. 

Namun perlu kita sadari bahwa sikap pro dari  mereka yang terlibat di perfilman ini sangat jelas  menunjukan tujuan mereka yang tentu tidak jauh dari asas manfaat, ada proyek besar yang menjanjikan atas mereka, tak peduli ini akan merusak atau tidak, seribu cara menyulap untuk  menarik masyarakat, misalkan dengan tokohnya yang menarik.

Asumsi yang menipu, lagi-lagi hal ini dilakukan demi mensukseskan bisnis mereka dengan memperoleh keuntungan sebesar mungkin. Ini sebagian daripada cara licik sistem liberal yang selalu mengagungkan kebebasan untuk mendedikasi generasi muda dengan pola pikir yang rusak dan liberal.

Belum selesai polemik film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ yang diboikot oleh beberapa pemerintahan kota. Kemudian muncul kembali film dua garis biru dengan alurnya yang berbeda namun sama tujuannya untuk merusak pola pikir generasi muda menjadi bebas.

Hal ini menunjukan Rezim tidak berdaya mengendalikan arus liberalisasi yang menghancurkan generasi muda secara perlahan melalui film.

Padahal peran mereka untuk ini sangat-sangat lah penting, mereka ada andil sebagai penguat dan penjagaan generasi muda. Tentu ini berkaitan dengan edukasi pembelajaran yang diberikan kepada generasi muda saat ini, bisa melalui kewenangannya seperti penetapan dalam hal kurikulum sebagai standar pembelajaran.

Selain itu mereka juga punya hak untuk menjamin setiap keamanan warga negara baik dari segi lingkungan dan moral yang berkembang di masyarakat, termasuk pada pola pikir pengembangan intelektualitas generasi muda, yang merupakan berlian.

Tentu berlian ini merupakan investasi sebuah negara dimana dalam islam pemuda adalah tonggak perubahan, maka dari itu dia harus terjaga mulai dari segi pola pikirnya maupun akhlak.

Dan negara mempunyai kewajiban atas ini dan pengasahan skil pemudanya dengan dibarengi syakhsiyah islamiyah (Kepribadian Islam).

Dan ironisnya lagi, di sistem liberal saat ini sebaliknya, mereka begitu mudah menyuguhkan suguhan-suguhan yang justru merusak mental,  sehingga pemuda disini dijelma menjadi budak cinta (Bucin) melalui edukasi film-film nya yang liberal.

Al hasil pemuda yang tumbuh berkembang pada sistem liberalisme bukan lagi pemuda ksatria seperti pemuda-pemuda Islam terdahulu, sebut saja Muhammad Al Fatih yang tercatat di kegemilangan sejarah hingga saat ini di usia mudanya lihai dalam strategi perang dan mampu menaklukan kota Konstantinopel dengan notabene sebagai pasukan terbaik di sepanjang sejarah.

Jelas hal ini sangat kontras dengan konsep Islam, islam menjadikan sebuah film menjadi sarana dakwah dan edukasi bagi rakyat dan negara punya peran utama dalam mengendalikan produksi film. Dan tujuan Islam dalam hal penyuguhan pendidikan tentu untuk menjadikan para generasi muda ber syakhsiyah Islamiyah.[MO/sg]

Posting Komentar