Oleh : Al Azizy Revolusi

Mediaoposisi.com-Menurut data yang dilansir dari Badan Pusat Statistik, pada tahun 2018 terdapat 2,07% penduduk Indonesia yang berusia di atas 15 tahun dan masih buta huruf (pikiran-rakyat.com, 2018). Artinya, dengan proyeksi penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun pada tahun 2018, yaitu sekitar 169 juta, terdapat hampir 10 juta orang yang tidak dapat membaca.

Dari data yang sama, disebutkan pula bahwa hanya sebanyak 31,55% yang lulus SMA dan pendidikan tinggi, sedangkan sisanya atau sekitar 115 juta penduduk usia di atas 15 tahun hanyalah lulusan SMP ke bawah. Bahkan, angka penduduk yang tidak lulus SD cukup besar, yaitu 13,76% atau sekitar 23 juta jiwa.

Inilah sekilas gambaran memprihatinkan kondisi pendidikan di Indonesia. Belum lagi, fasilitas sarana dan prasarana pendidikan yang jauh dari kondisi memadai. Di Riau, misalnya. Dari 21.137 ruang kelas di SD negeri se Riau, 2.334 ruang diantaranya tergolong rusak berat.

Tidak hanya kondisi bangunan sekolah yang memprihatinkan, bahkan beberapa sekolah hanya berlantaikan tanah dalam proses belajar mengajarnya. Ini tentu saja menjadi ironi, karena Riau merupakan provinsi dengan sumber daya alam melimpah sehingga menjadi salah satu provinsi terkaya di Indonesia. Jika provinsi kaya saja demikian keadaannya, maka bagaimana dengan provinsi-provinsi lain yang kurang memiliki sumber daya alam?

Kenyataan ini cukup pahit mengingat pendidikan disebut-sebut sebagai bagian yang mendapat prioritas di negeri Indonesia. Untuk tahun 2019 ini saja, anggaran pendidikan mencapai Rp. 492,5 Triliun (visual.kemenkeu.go.id).

Sayangnya, anggaran sebesar ini hanya jadi basa-basi yang tidak kunjung dinikmati masyarakat. Guru yang notabene merupakan ujung tombak dunia pendidikan, banyak yang masih saja menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Ini bukan istilah kiasan semata.

Banyak guru honorer dan guru daerah tertinggal di Indonesia yang jasanya hanya digaji rata-rata Rp.300 ribu. Jadi jangankan untuk optimal dalam menyiapkan proses mengajar, agar dapat berjalan baik dan efektif, justru kebanyakan guru-guru tersebut harus melakukan pekerjaan sampingan agar dapat menafkahi diri dan keluarganya. Banyak guru-guru di Indonesia, yang pada pagi dan siang harinya mengajar di sekolah, sedangkan sore dan malamnya harus bekerja lagi, dari tukang ojek sampai kasir minimarket.

Ini juga menjadi pertanyaan besar bagi kita semua. Pemerintah senantiasa mempropagandakan bahwa perhatian Pemerintah terhadap pendidikan sangat besar. Pemerintah juga mengatakan mengalokasikan porsi yang cukup banyak untuk pendidikan, berupa anggaran dengan alokasi minimal sebesar 20%. Pertanyaannya, sudahkah umat merasakan perhatian besar Pemerintah?

Sudahkah saudara-saudara kita di luar sana dapat mengenyam pendidikan yang layak sehingga mampu memberi kontribusi terhadap pembangunan?

Belum lagi ketika kita ditontonkan realitas produk pendidikan. Generasi muda yang diharapkan mampu untuk mengubah negeri ini menjadi lebih baik, justru seringkali muncul sebagai biang onar banyak masalah.

Kita masih ingat bagaimana seorang siswa dari sekolah menengah atas berstatus elit di ibukota Jakarta yang terlibat dalam tawuran antara sekolahnya dengan sebuah sekolah elit lainnya, dan akhirnya membunuh murid dari sekolah lainnya itu.

Juga ketika kita melihat, bahwa ternyata narkoba dan seks bebas justru sebagian besar terjadi di kalangan pemuda dengan status terdidik. Pendidikan seperti inikah yang kita harapkan? Pendidikan saat ini seringkali melahirkan generasi yang tidak peduli pada nilai-nilai ibadah dan hanya berorientasikan materi.

Sehingga wajar, hampir di setiap tahun, kita dapat menyaksikan betapa banyak adik-adik kita yang frustasi karena tidak lulus Ujian Nasional, bahkan tidak sedikit yang akhirnya bunuh diri.

Pentingnya Pendidikan

Kita paham bersama bahwa pendidikan adalah bagian penting dalam keberlangsungan hidup manusia. Islam sebagai agama yang sempurna,  memandang pendidikan sebagai pondasi kehidupan. Demikian halnya karena pendidikan berkaitan langsung dengan aktivitas berpikir dan optimalisasi akal manusia.

Dengan pendidikan pula, manusia yang awalnya tidak tahu kemudian menjadi tahu. Maka wajar kiranya, ketika Rasulullah Saw bersabda,

Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam al-Qur’an, Allah juga berfirman,

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (TQS. Ali ‘Imran:90)

Allah Swt telah memerintahkan kepada manusia untuk memikirkan hakikat di balik penciptaan langit dan bumi, bergantinya siang dan malam, dan fenomena-fenomena lainnya di alam ini. Allah Swt juga menegaskan bahwa seluruh aktivitas berpikir tersebut hendaknya menjadi wasilah dari tujuan untuk mengenal Allah Swt.

Untuk itulah, Islam telah meletakkan aqidahnya sebagai pondasi pendidikan. Dengan demikian, maka pendidikan dapat bernilai ibadah, dan bukan hanya semata-mata menghasilkan manusia bermental mesin yang siap di eksploitasi oleh pemilik modal para kapitalis.

Perhatian ini bukan omong kosong belaka. Selama hampir 14 abad, Islam yang diimplementasikan melalui negara berbentuk Khilafah Islamiyah telah membuktikan, bagaimana negara semestinya berperan besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan rakyat.

Bukan hanya dari kalangan umat Islam, bahkan beberapa ilmuwan barat mengakui secara obyektif akan tinta emas yang ditorehkan oleh sistem pendidikan di era khilafah. Menurut Montgomery Watt dalam bukunya, The Influence of Islam on Medieval Europe, peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi motornya, kondisi Barat tidak akan ada artinya.

Khilafah menjamin pendidikan bagi seluruh warganya. Sarana dan prasarana pendidikan disediakan agar bisa dinikmati oleh masyarakat. Buku sebagai jendela dunia tidak menjadi pepatah kosong, tapi diimplementasikan melalui pembangunan perpustakaan-perpustakaan besar yang tersebar di berbagai belahan negeri.

Di Andalusia, Spanyol, terdapat 20 perpustakaan umum dan yang terbesar adalah Perpustakaan Cordova dengan koleksi lebih dari 400 ribu judul buku. Di Kairo, Mesir, terdapat Perpustakaan Darul Hikmah dengan koleksi lebih dari 2 juta judul buku.

Di Tripoli, Lebanon, terdapat perpustakaan umum dengan koleksi lebih dari 3 juta judul buku. Dan sudah menjadi sesuatu yang umum, bahwa di setiap masjid terdapat perpustakaan yang terbuka untuk setiap kalangan masyarakat.

Khilafah juga memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Khalifah al-Muntashir Billah pernah mendirikan Madrasah al-Muntashiriah di Baghdad, Irak.

Di sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar atau sekitar Rp 2 juta per bulan. Di Damaskus, Suriah, dibangun Madrasah an-Nuriah yang memiliki fasilitas asrama siswa, perumahan guru, serta auditorium untuk ceramah dan diskusi.

Dengan adanya perhatian yang begitu besar oleh negara, wajar kiranya ketika itu bermunculan nama-nama ilmuwan besar dari kalangan kaum muslimin. Kita tentu saja mengenal nama Ibnu Sina, yang dikenal di dunia barat dengan nama Avicenna.

Beliau merupakan orang yang dianggap sebagai bapak ilmu kedokteran modern. Ada juga ilmuwan muslim lain, yang oleh ilmuwan barat, George Sarton, diakuinya sebagai ilmuwan terhebat sepanjang jaman. Ilmuwan muslim ini bernama al-Biruni, seorang ilmuwan yang menguasai berbagai macam disiplin ilmu, seperti matematika, fisika, dan juga kimia. Lalu ada Al Kindi yang disinyalir banyak mempengaruhi teori relativitas Einstein seribu tahun sebelum kelahiran Einstein.

Ada Al Khawarizmi yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Matematika Modern. Ada Jabir ibnu Hayan yang dikenal sebagai Bapak ilmu Kimia. Dan tentu saja masih banyak nama-nama lain yang dilahirkan dalam sebuah negara khilafah yang diatur menggunakan aturan terbaik yang berasal dari Zat Yang Maha Benar lagi Maha Tahu.

Sekarang kita lihat, nyaris tidak ada nama-nama besar dari kalangan umat Islam yang mampu menjadi gerbong dalam sebuah cabang ilmu pengetahuan. Kita justru menyaksikan, di Indonesia, setiap tahun ajaran berakhir, setiap selesai generasi pelajar dan  mahasiswa kita di sekolah menengah atas dalam menempuh proses belajarnya, maka seiring sejalan bertambah pula angka pengangguran-pengangguran baru.

Data BPS per Februari 2019, jumlah orang yang bekerja di Indonesia mencapai 136,18 juta orang (tirto.id). Sedangkan pengangguran mencapai 7,15 juta orang menganggur dan masih dalam proses mencari pekerjaan. Dari 136,18 juta orang yang digolongkan bekerja tersebut, ada 10,57 juta pekerja setengah penganggur, dan 26,4 juta pekerja paruh waktu. Dan yang lebih mencengangkan, pekerja di Indonesia didominasi, yaitu 64,62%, berasal dari lulusan SD dan SMP.

Kondisi Indonesia dengan jumlah penduduk yang banyak tidak dilihat Pemerintah sebagai keunggulan menuju negeri yang maju dan sejahtera. Hal ini karena sistem pendidikan yang diterapkan sekarang adalah pendidikan yang menghasilkan kacung alias jongos alias pembantu.

Kurikulum pendidikan di desain untuk mencetak generasi yang siap dipekerjakan, bukan bekerja untuk mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki. Generasi yang dihasilkan lebih disibukkan untuk memikirkan bagaimana memenuhi sekadar kebutuhan perut.

Sistem kapitalisme yang diterapkan membuat hidup masyarakat tak ubahnya seperti kehidupan binatang di hutan rimba, dan berlaku pula hukum siapa yang kuat maka dia yang akan menang. Maka imbasnya adalah terhadap rakyat kecil yang tidak memiliki akses modal dan juga jaringan, ditambah bekal kemampuan yang abai diberikan dalam proses pendidikan, maka banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam tekanan dan hanya memiliki sedikit pilihan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dengan kondisi yang seperti ini, maka nyaris mustahil rasanya untuk mendorong lahirnya penemu-penemu baru yang mampu menjadikan Indonesia sebagai negeri berteknologi maju dan disegani di dunia.

Ini tentu saja berbeda dengan kebijakan khilafah yang memandang jumlah masyarakat sebagai sebuah keunggulan komparatif. Hal ini hanya bisa jika sebuah negara mampu mengubah paradigma masyarakat, dari masyarakat konsumtif industri menjadi masyarakat produsen.

Dan tak cukup hanya sekadar penggalakan di kampus-kampus, di sekolah-sekolah, akan pentingnya menjadi wirausaha ataupun ilmuwan, namun di sisi lain negara tidak menyediakan akses modal, laboratorium, lahan penelitian, dan lain sebagainya yang menjadi kebutuhan dasar dalam pengembangan inovasi. Apabila yang terjadi adalah kondisi demikian, maka sebetulnya negara hanya berbasa-basi tanpa maksud serius untuk melahirkan generasi ilmuwan yang disegani dunia.

Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah hadits yang muktabar,

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.

Salah satu bentuk manfaat itu adalah dihasilkannya rekayasa industri yang mempermudah manusia dalam mengefisienkan dan mengefektifkan pekerjaan-pekerjaannya. Rekayasa industri tidak semata-mata untuk menghasilkan keuntungan material, namun juga sebagai bentuk ibadah.

Maka khilafah sebagai payung umat Islam, menyediakan fasilitas-fasilitas yang mendorong ke arah tersebut. Kita bepergian menggunakan sarana transportasi, entah mobil, motor, kapal, ataupun pesawat. Namun hal yang jarang diketahui oleh kebanyakan umat Islam, pendahulu mereka lah yang sebenarnya meletakkan pondasi dalam pengembangan mesin otomobil.

Pada abad ke-12, Al Jazari berhasil menemukan poros mesin yang menghasilkan gerakan berputar. Penemuan ini sampai sekarang menjadi pondasi dalam berbagai aplikasi prinsip kerja mesin. Pada abad ke-10, Ibnu Al Haitam menemukan prinsip optik dan mengaplikasikannya dalam penemuan kamera obscura. Sebelumnya lagi ada pula Abbas Ibnu Firnas yang melakukan inovasi mesin pesawat yang terbuat dari kain sutera dan bulu burung elang.

Apa yang penulis sampaikan ini hanya akan menjadi sebatas romantisme sejarah dan dongeng pagi hari apabila tidak ditindaklanjuti dengan upaya untuk mengembalikan kejayaan tersebut. Dan hendaknya kita sadari bersama, bahwa kejayaan itu tidak bisa dilepaskan sama sekali dari adanya khilafah yang menjadi wadah umat Islam untuk meraih posisinya sebagai khoirul ummah.

Maka sudah seharusnya bagi kita untuk mengajak saudara-saudara kita yang lain, bahwa bukan demokrasi yang kita butuhkan, melainkan hanya khilafah yang akan mengembalikan umat Islam kembali kepada kejayaannya.[MO/sg]

Posting Komentar