Gambar: Ilustrasi
Oleh: Dina Evalina
(Aktivis Dakwah)

Mediaoposisi.com-Islam hadir ditengah umat dengan membawa kesempurnaan yang melekat padanya. Tak hanya sebagai aqidah Kaum Muslim tetapi juga mampu memberikan solusi hakiki atas permasalahan hidup yang dihadapi manusia. Orang Islam yang memahami secara menyeluruh ajaran agamanya akan menemukan banyak hal yang luar biasa tentang bagaimana Islam mengatur masalah pendidikan, ekonomi, sosial, hukum, politik, pemerintahan dan lain sebagainya. Semua itu dapat diterapkan dalam sebuah negara yang bernama Khilafah.

Namun, pernyataan dari seorang pejabat negara ini begitu menyayat hati Umat Islam. Seperti dilansir dalam detik.com, Menko Polhukam Wiranto menegaskan bahwa anggota HTI tidak boleh menyebarkan paham khilafah atau ideologi lain yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI. Wiranto juga menegaskan larangan ini juga berlaku bagi ormas lainnya.

"Jadi harap maklum bahwa jangan sampai ada pengertian organisasinya dilarang tetapi individualnya masih menyebarkan paham-paham khilafah dan anti Pancasila. Nggak bisa. Karena tidak hanya HTI. Organisasi lainnya, ormas lainnya, pun, kalau menyebarkan ajaran anti Pancasila dan anti NKRI, juga ada undang-undang yang akan memasukkan dia di ranah hukum. Saya kira itu semua paham jadi itu supaya jelas," tegas mantan Panglima ABRI ini.

Hal itu mendapat komentar dari Ketua Eksekutif Nasional BHP KSHUMI & Sekretaris Jenderal LBH PELITA UMAT, Chandra Purna Irawan,SH.,MH.

Pertama, Khilafah tidak pernah dinyatakan sebagai paham terlarang baik dalam surat keputusan tata usaha negara, putusan pengadilan, peraturan perundang-undangan atau produk hukum lainnya sebagaimana paham komunisme, marxisme/leninisme dan atheisme, yang merupakan ajaran PKI melalui TAP MPRS NO. XXV/1966. Artinya, sebagai ajaran Islam Khilafah tetap sah dan legal untuk didakwahkan di tengah-tengah umat. Mendakwahkan Khilafah termasuk menjalankan ibadah berdasarkan keyakinan agama Islam, dimana hal ini dijamin konstitusi.

Kedua, pendapat Prof. Yusril Ihza Mahendra menyatakan bahwa kegiatan yang dihentikan oleh SK Menteri dan Putusan Pengadilan TUN adalah kegiatan HTI sebagai lembaga (kegiatan Perkumpulan Hizbut Tahrir Indonesia) bukan penghentian kegiatan dakwah individu anggota dan/atau pengurus HTI. (Senin, 4/6/2018: http://detik.id/67AYOw)

Ketiga, Islam adalah agama yang diakui dan konstitusi memberikan jaminan untuk menjalankan ibadah sesuai agamanya berdasarkan Pasal 28E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Oleh karena itu, siapapun yang menyudutkan ajaran Islam, termasuk Khilafah maka menurut saya dapat dikategorikan tindak pidana penistaan agama.

Keempat, bahwa khilafah itu ajaran Islam dan milik umat Islam, bukan ajaran individu dan/atau ormas tertentu. Karenanya umat Islam wajib membela ajaran agamanya apabila dikriminalisasi.

Kelima, bahwa saya menyeru kepada segenap umat Islam tidak perlu takut untuk terus mendakwahkan ajaran Islam termasuk syariah dan khilafah.

Bertubi-tubi mereka menyudutkan ajaran-ajaran Islam dengan menyebarkan opini-opini negatif tentang Islam ke tengah umat. Apakah kekacauan yang terjadi di negeri ini karena diterapkan Islam? Hutang menumpuk hingga mencapai angka Rp. 5.577,4 triliun, kemiskinan semakin meningkat, pengangguran semakin banyak, pergaulan bebas semakin marak, kriminalitas semakin meningkat, atau munculnya OPM di Papua yang ingin memisahkan diri dari NKRI kemudian disusul dengan referendum Aceh. Atau yang jelas telah memisahkan diri dari NKRI seperti Timor Leste, apakah semua hal itu terjadi saat ajaran-ajaran Islam ditegakkan di negeri ini?

Justru sistem yang dipakai negeri ini jauh dari Islam sehingga menimbulkan permasalahan yang selalu datang menghampiri tanpa ada penyelesaian secara tuntas. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Al-Baqarah Al-Maidah ayat 50, "Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan hukum (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?"

Sistem sekuler kapitalis yang diadopsi Indonesia dari Barat masih bercokol kuat di negeri ini bahkan semakin terus dikokohkan oleh rezim yang berkuasa. Sistem yang tidak memberi peran agama dalam mengatur sendi kehidupan, sistem yang menuhankan akal pikiran serta hawa nafsunya dalam membuat segala kebijakan, telah terbukti memberikan kehancuran atas negeri ini.

Seharusnya, bangsa yang besar seperti Indonesia mampu melirik sebuah sistem yang benar dan mampu membuktikan kejayaannya selama 13 abad lebih dengan menguasai 2/3 dunia. Berhasil menciptakan peradaban yang gemilang, negara yang dikenal dengan khilafah itulah dalam sejarahnya mampu memberikan kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran bagi rakyatnya. Melepaskan mereka dari belenggu kekufuran dan kejahilan, membentuk pribadi-pribadi yang mulia dengan Islam.

Merupakan kewajiban kaum muslimin mengajak masyarakat untuk kembali kepada Islam secara menyeluruh dalam wadah yang benar yakni khilafah. Selain itu, masyarakat negeri ini membutuhkan solusi yang tepat untuk keluar dari keterpurukan yg selama ini mereka rasakan. Masyarakat membutuhkan sistem Islam yang dapat mewujudkan harapan besar mereka selama ini seperti merasakan kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran.

Terlebih lagi, tegaknya kembali Islam dalam bingkai daulah khilafah ialah janji Allah Subhanahu wa ta’ala dan bisyaroh dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, "Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam diam.” (HR. Ahmad; Shahih)

Maka, membungkam masyarakat untuk menyerukan Khilafah adalah kesalahan yang besar dan takkan pernah berhasil menggagalkan terbitnya fajar kemenangan Islam. Melarang masyarakat menyampaikan Khilafah, bukanlah orang yang benar-benar mencintai negeri ini. Pasalnya, ia lebih rela negeri ini hancur lebur daripada harus menerima solusi hakiki yang ditawarkan umat.

Kepada para pejuang syariah dan khilafah, tentara-tentaranya Allah, jagalah rasa takut bersarang di kalbu para pejuang. Cukuplah rasa takut itu hanya kepada Allah bukan kepada makhluk-Nya yang lemah. Teruslah berjuang untuk sesuatu yang sudah pasti. Teruslah Istiqomah menempuh jalan yang penuh duri yang menyakitkan. Belajarlah dari cerita keluarga Yasir yang amat teguh pendiriannya dalam mempertahankan aqidah mereka karena fajar kemenangan semakin menyingkap tabirnya. [MO/ms]

Posting Komentar