Oleh : Lia Ummi'y Ayubi
(Muslimah Sholihah Tamansari Bogor)

Membuka aib seseorang adalah sesuatu perkara yang dilarang oleh islam. akan tetapi, ada perkara-perkara yang membuat aib seseorang itu wajib untuk dibuka dan ditunjukkan.

Mediaoposisi.com-Beberapa hari ini pemberitaan mengenai perseteruan antara mantan sepasang suami istri menjadi headline di beberapa media hiburan. 

Penyebab perseteruan ini adalah karena sang mantan suami menceritakan aib sang mantan istri di sebuah kanal media online hingga beritanya menjadi viral. Lantas bagaimana Islam memandang mengenai aktivitas membuka aib ini???

Sejatinya Allah SWT dalam Alquran telah melarang keras umat Islam membuka aib dan  kejelekan orang lain. Membuka aib dan kejelekan orang lain ini disebut dengan ghibah. 

Selain dosa besar, ghibah juga dapat merugikan orang lain karena dengan ghibah yang kita lakukan, orang yang kita bicarakan akan merasa tidak senang serta kepercayaan terhadap orang tersebut akan berkurang.

Saat ini, ghibah telah menjadi komoditas dan tontonan yang mampu mengangkat rating tayangan televisi. Acara gosip yang dipandu para presenter cantik dengan pakaian setengah telanjang, menjadi primadona pengelola televisi.

Kehidupan rumah tangga orang yang sangat pribadi pun dibongkar. Dan, kita pun merasa asyik menonton gosip tersebut, bahkan turut melakukan estafet gosip ke tetangga sebelah. Maka, berantailah penyebaran gosip.

Meskipun Allah melarang dan melaknat orang yang suka bergibah, namun ada pendapat lain yang memperbolehkan ghibah dalam keadaan tertentu. Dalam Riyadlus Shalihin,  kitab al-Umurul Manhie ‘anha (Hal-hal yang dilarang dalam agama), Imam Nawawi Rahimahullah salah seorang tokoh ulama besar dari madzhab Syafi’i, menyebutkan satu bab khusus Maa Yubaahu Minal Ghibah (Apa-apa yang diperbolehkan dari Ghibah).

Dalam kitab tersebut , beliau berkata: “Ketahuilah bahwa ghibah diperbolehkan untuk tujuan yang benar sesuai dengan syariat, yang hal itu tidak mungkin ditempuh kecuali dengan ghibah".

Ghibah yang diperbolehkan tersebut dijelaskan kembali oleh Wasekjen MUI Ustadz Tengku Zulkarnain. Pertama, saat orang itu berada di hadapan majelis hakim saat bersidang di pengadilan, baik pengadilan umum atau pengadilan khusus. 

Maka, saksi boleh membuka aib terdakwa. Kedua, ulama yang melakukan kesesatan dan perbuatannya dikhawatirkan akan menjerumuskan umat. Maka boleh dibukakan aibnya. Ketiga, seorang istri yang menuntut hak atas suaminya yang tidak ditunaikan. Istri berhak membuka aib suaminya itu untuk mendapatkan haknya.

Ustadz Tengku mengisahkan pada zaman Rasulullah SAW ada seorang istri yang mengadu kepada Rasulullah jika suaminya tidak pernah memberikan uang belanja yang cukup. “Dia mengadu sama Nabi Muhammad, terus nabi Muhammad bilang ambil sebagian harta dari suamimu untuk mencukupi belanjamu, tetapi masih dalam batasan wajar,” ujar Ustaz Tengku.

Keempat, orang boleh berghibah untuk menolong orang yang nyawanya terancam. Orang yang akan dibunuh itu harus diberi tahu jika nyawanya terancam oleh seseorang. “Maka boleh dibuka jika si Anu mau membunuhmu,” katanya.

Selain empat keadaan tersebut, seseorang juga bisa membuka keburukan dalam hal kepemimpinan. Tengku mengungkapkan, kita boleh berghibah terhadap seorang pemimpin jika aibnya dapat membahayakan agama dan negara. “Kalau aibnya itu membahayakan agama atau membahayakan rakyatnya, boleh dibuka,” ujarnya.

Dia menyampaikan untuk menasihati seorang pemimpin yang telah melakukan kesalahan, caranya tidak memberi tahu di muka umum. “Harus dinasihati empat mata,” katanya. Akan tetapi, kalau pemimpinnya itu telah melakukan dosa terang-terangan, boleh ditegur secara terang-terangan pula. (m.republika.co.id, 06/02/2015).

Untuk itulah upaya untuk menasehati dan membongkar aib penguasa dzolim menjadi sebuah perkara yang wajib serta harus terus dilakukan dalam rangka membangun kesadaran politik umat. Kesadaran umat amatlah penting. Umat harus menyadari bahwa banyak kebijakan penguasa saat ini yang bertentangan dengan syariah Islam, dzalim, dan membahayakan umat. 

Seperti melakukan kecurangan pemilu, menaikkan tarif dasar listrik, menaikkan harga BBM, membiarkan skandal Bank Century berlarut-larut, tidak bersungguh-sungguh mengatasi korupsi, menjalin kerjasama yang merugikan rakyat dengan pihak aseng dan asing serta kedzaliman lain yang sudah biasa dilakukan oleh  penguasa.

Umat harus menyadari bahwa pangkal dari semua kebijakan itu adalah penerapan sistem Kapitalisme oleh negara ini dalam segala aspek. Jika umat tidak menyadari bahwa Kapitalisme adalah pangkal persoalannya, maka sampai kapanpun mereka akan memegang teguh ideologi rusak ini.

Aktivitas membongkar aib penguasa dzolim ini juga dalam rangka kasyf al-khuththat (membongkar konspirasi) negara-negara imperialis seperti Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Dunia Islam, juga menjelaskan pengkhianatan para penguasa negeri-negeri Islam yang berkerjasama dengan penjajah ini. 

Umat harus memiliki sikap yang jelas dan mengetahui mana musuh mana kawan. Kalau musuh dianggap kawan tentu sangat berbahaya. Maka aib penguasa dzolim seperti ini wajib diungkap,bukan untuk ditutupi.

Kita juga menjelaskan bagaimana solusi dari semua persoalan dan penderitaan ini. Pilihannya tidak lain kecuali kembali pada Islam dengan menerapkan seluruh syariah Islam. Untuk itu, mutlak dibutuhkan adanya negara Khilafah yang merupakan institusi formal negara yang akan menerapkan syariah Islam. Tanpa adanya Khilafah, penerapan syariah Islam secara menyeluruh hanya akan menjadi omong kosong belaka.

Walhasil dari aktivitas ini di tengah-tengah umat akan muncul kesadaran: Pertama, yang menjadi pangkal dari persoalan mereka adalah Kapitalisme. Kedua, yang menjadi pelaku dari sistem Kapitalisme ini adalah negara-negara imperialis yang bekerjasama dengan para penguasa negeri Islam yang berkhianat. Ketiga, solusi dari semua persoalan ini adalah Islam dengan menerapkannya dalam negara Khilafah Islam.

Dari kesadaran ini, umat akan mencampakkan sistem Kapitalisme. Umat juga tidak akan percaya lagi kepada negara imperialis dan penguasa pengkhianat yang menjadi boneka mereka. Umat pun akan merindukan syariah Islam dan Khilafah yang merupakan solusi. 

Dengan kesadaran ini umat akan menuntut perubahan dan bergerak ke arah yang benar, yaitu tegaknya syariah Islam dan Khilafah. Sebab, hanya dengan tegaknya Khilafah yang menerapkan syariah Islam secara menyeluruhlah persoalan umat ini akan diselesaikan.

Umat dapat mengetahui semuai itu karena ada yang bicara, ada yang menyampaikan. Menyampaikan atau berbicara tentang kewajiban ini adalah perkara yang mulia dalam Islam. Sebab, yang kita sampaikan adalah kewajiban yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah. Allah SWT pun menyatakan betapa mulianya aktivitas dakwah ini.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
 Artinya : Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS. Fussilat ayat 33)
Wallahu'alam.[MO/vp]

Posting Komentar