Oleh Azizah
Mediaoposisi.com-Pulau Jawa mulai masuk pada musim kemarau. Salah satunya Ngawi, Jawa Timur ada sekitar 45 desa yang rawan mengalami kekeringan. Padahal tahun lalu hanya ada 30 desa. Hal ini disampaikan oleh Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi,Teguh Puryadi (Solopos.com, 15/06/19). 

Kelangkaan air mulai dirasakan. Bahkan sejumlah desa telah mengajukan bantuan air bersih ke BPBD karena sumber sumber air warga telah mengering. Padahal puncak kemarau diprediksi baru akan terjadi pada bulan Agustus nanti.

Salah satu desa yang terdampak kekeringan di kabupaten ini adalah Desa Tanjungsari dan Soco Kecamatan Jogorogo. Hamparan padi di dua desa ini mengering. Para petani  terancam gagal panen. Padahal biaya tanamnya tidak sedikit. Menurut seorang warga, Supatmi, irigasi mulai "mandek" sejak awal Ramadan. Berbagai upaya sudah dilakukan tetapi tidak membawa hasil. Sungai desa sudah kering.

Selain itu kondisi sungai yang kering ini merupakan dampak dari keberadaan terminal pengisian air di desa Gentong kecamatan Paron. Terminal pengisian air tersebut berawal dari sungai Trongol. Sungai inilah yang juga digunakan para petani untuk mengairi sawahnya (Radarmadiun.co.id, 14/06/19). 

Petugas terminal pengisian air di desa Gentong juga mengamini bahwa air yang disedot terminal ini memang dari sungai Trongol. Terminal pengisian air ini di bawah naungan PDAM Ngawi.

Ironisnya di satu sisi warga Ngawi kekurangan air, di sisi lain sebagian air yang ada di terminal pengisian Gentong ini dikirim ke luar daerah seperti Blora, Cepu, Bojonegoro, Madiun, Ponorogo, Blitar dan Tuban.

Mencari Sebab Terjadinya Kekeringan

Hutan memiliki manfaat yang banyak bagi kehidupan. Hutan adalah pemberi oksigen dan penyerap karbon dioksida. Keberadaan hutan juga memiliki peran penting bagi siklus air. Pohon - pohon akan menyerap curah hujan sehingga bisa mengurangi bahaya banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. 

Diakui atau tidak pembalakan liar banyak terjadi di negeri ini termasuk di Kabupaten Ngawi. Belum lagi masifnya pembangunan infrastruktur, pembangunan kawasan industri ataupun pemukiman. Menurut kementrian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan,setiap tahun terjadi penyusutan lahan pertanian antara 150.000 hingga 200.000 hektar akibat alih fungsi hutan.

Adakah Solusi Dari Pemerintah?
Dalam mengatasi bencana kekeringan ini pemerintah mengklaim telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasinya. Tetapi bila kita lihat berbagai upaya yang dilakukan hanyalah bersifat tambal sulam. 

Jumlah hutan kritis terus bertambah dari tahun ke tahun. Investor asing bahkan diundang untuk datang ke negeri ini meski kita sendiri yang harus rugi karena apa yang investor lakukan justru lebih banyak merusak lingkungan. Bisa disimpulkan bahwa upaya yang dilakukan oleh pemerintah hanya mengatasi masalah permukaan bukan dari akarnya.

Cara Islam Mengatasi Kekeringan

Tidak ada satupun persoalan yang tidak ada solusinya dalam Islam. Termasuk di dalamnya masalah kekeringan. Dalam pandangan Islam masalah kekeringan selain terkait dengan masalah teknis akademis dan keahlian juga terkait dengan masalah non teknis. 

Secara teknis akademis dan keahlian, pemerintah Islam dalam hal ini Khilafah melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dengan tim terbaik yang dikumpulkan dari seluruh dunia akan mengkaji secara menyeluruh, cermat serta akurat akan melakukan pemetaan iklim, kondisi cuaca, potensi panas dan hujan termasuk dampak dari keduanya untuk tanaman. Secara teknis akademis kekeringan bisa diatasi dengan beberapa cara:

1. Negara bersama masyarakat membangun, merehabilitasi dan memelihara jaringan irigasi. Termasuk waduk dengan kincir air dan mesin penggerak air di sejumlah titik yang dibutuhkan oleh masing masing wilayah di seluruh dunia.

2. Negara bersama warga masyarakat membangun, merehabilitasi dan memelihara konservasi lahan dan air. Termasuk memelihara hutan, daerah resapan air agar tetap pada fungsinya. Sekaligus menindak tegas pihak yang menyalah gunakan dengan memberi sanksi hukuman yang tegas.

3. Negara senantiasa menciptakan iklim yang kondusif untuk kemajuan sains dan teknologi terutama untuk mengantisipasi dan menghadapi kekeringan akibat kemarau panjang.

4.Negara memberi bantuan sarana produksi pada masyarakat termasuk memberi bantuan makanan pokok kepada mereka yang terdampak kekeringan.

5.Negara mengeluarkan kebijakan pelarangan privatisasi/swastanisasi terhadap sumber sumber yang menjadi milik umum.

6.Sikap amanah, kerja keras dan sungguh sungguh dari Khilafah untuk mencegah dan mrngatasi bencana kekeringan. Sabda Nabi yang artinya "Imam adalah pelayan dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas seluruh rakyatnya"

Adapun mengatasi kekeringan karena faktor klimatologi yang bisa dilakukan adalah:

1.Menyebarkan informasi perkiraan iklim secara lebih akurat sesuai wilayah masing masing.
2.Membuat kalender tanam.
3.Memperhatikan dan menerapkan peta rawan kekeringan yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian.

Sedangkan secara non teknis akademis yang bisa dilakukan adalah negara memimpin rakyatnya untuk berdoa, memohon ampun kepada Allah. 

Menjalankan semua perintahnya dan menjauhi laranganNya. Ada korelasi yang erat antara kemaksiatan dan dosa yang kita lakukan dengan datangnya berbagai bencana. 

Firman Allah dalam Surat Asy Syuro ayat 30 yang artinya "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu,maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri dan Allah memaafkan sebagian dari doda dosamu".

Akhirnya bila kita ingin tinggal di negeri yang penuh berkah maka tidak ada jalan lain yang mesti kita lakukan selain kembali pada aturan Allah. Rakyatnya dipenuhi dengan rasa takut pada Allah sementara pemimpinnya bertugas menerapkan aturan Allah secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan dala naungan negara Khilafah. Wallahu 'alam bishowab[MO/vp]









Posting Komentar