Oleh : Rengganis Santika
Mediaoposisi.com-Krakatau steel pernah menjadi industri strategis kebanggaan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI). Perusahaan yang terletak di Cilegon Banten tersebut menghasilkan baja berkualitas terbaik di dunia. 

Baja merupakan kombinasi bijih besi, nikel dan mineral-mineral penting lainnya hingga terbentuklah komposisi baja yang unggul, semua mineral tambang tersebut diperoleh dari dalam perut bumi Indonesia sendiri. Baja yang unggul menjadikan Krakatau steel sebagai Industri baja kebanggaan nasional yang mampu mengekspor bajanya ke luar negri. Dan yang lebih membanggakan industri ini dibesarkan dan dikerjakan oleh putra putri terbaik negri ini.

Bagai disambar petir di siang hari bolong, industri baja kebanggaan seluruh rakyat Indonesia ini, kini tengah limbung, direksi dan manajemen mengalami kolaps hingga terpaksa harus mem- PHK (pemutusan hubungan kerja) banyak karyawan nya. 

Berita ini tak perlu diragukan lagi, karena langsung dari karyawan Krakatau steel sendiri yang mengalami PHK yang kebetulan adalah sahabat dan teman-teman kami. Dahulu mereka begitu bangga bisa bekerja menjadi bagian dari Krakatau Steel. Bukan hoax...krakatau steel kini tak lagi sekuat baja! Apa yang terjadi sebenarnya?

Disaat rezim Jokowi mengklaim melakukan pembangunan infrastruktur  besar-besaran, dimana material baja sangat dibutuhkan bagi pembangunan infrastruktur. Logikanya seharusnya pembangunan ini dapat meningkatkan produktivitas industri baja dalam negri. Dan Otomatis ketika kapasitas produksi naik maka dapat meningkatkan income perusahaan. 

Namun mengapa justru malah terjadi kerugian hingga kolaps kemudian terjadi PHK besar-besaran? Aneh...!?. Kita tahu bahwa material utama pembangunan gedung, jembatan, jalan tol dan lain-lain adalah baja. sudah pasti baja banyak dibutuhkan. 

Sungguh ironis!!. Lantas darimana baja-baja untuk infrastruktur tersebut? Mungkin tak butuh orang pintar atau mentri untuk menjawab semua ini. Cukup melihat fakta yang sudah terang benderang di depan mata. Dan rakyat pun sudah tahu jawabannya.

Proyek-proyek China bertebaran dalam pembangunan infrastruktur negri ini. Pembangunan infrastruktur tersebut memang sudah dikuasai asing dan aseng. Khususnya China yang dalam perjanjian "kerjasama"  project-nya menganut Turnkey Project. Jadi Indonesia tinggal "terima kunci", semua sudah disetir China. 

Artinya China tidak hanya memodali namun juga memastikan pasokan bahan baku proyek, bahkan sampai tenaga kerja semuanya harus dari China. Walhasil produksi krakatau steel tidak terpakai bahkan terus merosot dan anjlok. 

Realitasnya sejak lama industri strategis ini sudah tidak lagi melakukan ekspor. Akhirnya manajemen perlu melakukan evaluasi dengan memangkas tenaga kerja. Dan perusahaan baja terbesar ini tak sanggup bertahan. Bahkan yang sangat menyakitkan adalah akan dibangunnya Industri baja terbesar di Kendal Jawa Tengah.

 Rezim ini sudah tak punya bergain tak sanggup membela nasib bangsanya sendiri. "Nrimo" saja dalam kendali aseng! Ya beginilah nasib negara yang sudah berada dalam debt trap (jebakan hutang) China. Presiden China Xi Jinping dalam KTT G20 kemarin menyangkal telah melakukan jebakan, namun apalah artinya sangkalan, bantahan karena semua praktek imperialisme ekonominya sudah terbukti di negara-negara lemah di Asia dan Afrika termasuk Indonesia.

Bagaimana sebetulnya kebijakan sektor Industri khususnya industri strategis di negara kesatuan republik Indonesia ini? Tubuh kapitalisme adalah liberalisme/neoliberalisme, inilah praktek ekonomi yang diterapkan di Indonesia. 

Walhasil berlakulah praktek free fight liberalism, siapapun (apakah pribumi atau asing, aseng) bebas bertarung dalam sektor ekonomi apapun ( apakah industri strategis, pendukung atau apapun) selama ia mampu dan punya kekuatan. 

Negara kesatuan republik indonesia ini telah gagal menjaga kekayaan milik rakyat, NKRI yang harga mati ini telah begitu tega "mematikan" jalan kehidupan rakyat dan bangsanya dengan membiarkan asing menguasai nya untuk kemudian menjajah ekonomi anak bangsa!

Rezim neolib ini telah mengingkari amanat UUD pasal 33, bahwa bumi dan semua yang terkandung didalam perut bumi Indonesia digunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Bahkan rezim neolib yang mengklaim paling Pancasila ini telah mengkhianati isinya. 

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia..sebab aset ekonomi milik rakyat malah diserahkan pada para elit, pengusaha juga asing. Rezim telah ingkar janji untuk memberi lapangan kerja, justru malah menutup mata atas pengangguran anak negri yang meningkat.

Negri yang memiliki potensi industri yang luar biasa besar ini, bahkan sektor industri strategis seperti industri berat memiliki prospek besar, namun faktanya Indonesia tak punya visi politik yang jelas...tak berdaya disetir asing dan menjadi pembebek negara-negara debitor. Inilah fakta paradoks politik industri rezim neolib. 

Sungguh bertolak belakang dengan syariat islam ketika diterapkan dalam sebuah negara, yang mengarahkan agar negara membangun kemandirian. Bankan kemandirian menjadi karakter khas negara khilafah. Menjadi negara pertama sebagai adidaya juga menjadi orientasi negara.

Salah satu aspek untuk mewujudkan  kemandirian negara pertama adalah dengan memperkokoh perindustrian, dan keunggulan sebuah negara terukur dari produksi industri berat dan alat berat. Jadi untuk membangun pertanian yang tangguh harus disupport oleh industri traktor pertanian, bukan malah cangkul pun import dari China. 

Sebagai contoh sejak masa kekhilafahan umayyah sekitar tahun 800 an M. Negara khilafah membangun industri kertas sendiri dengan mempelajari dari China. 

Visi negara khilafah untuk membangun peradaban dunia yang unggul dimulai dari kemajuan literasi, dan untuk mendukung itu butuh fasilitas memadai yaitu buku, kertas...sungguh terarah! Wallohu'alam bish showab.[MO/vp]

Posting Komentar