Gambar: Ilustrasi
Oleh: Wati, SPd

Mediaoposisi.com-Tanggal 3 sampai 6 Juli, Kalsel akan dipadati 15 ribu tamu dari 33 provinsi. Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-26 kali ini mengusung tema "Hari Keluarga, Hari Kita Semua" dan slogan "Cinta Keluarga, Cinta Terencana" (m.kalsel.prokal.com, 21/06/19).

Dalam web BKKBN (keluargaindonesia.id), dijelaskan bahwa tanggal 29 Juni dinyatakan sebagai tanggal dimulainya Gerakan KB Nasional. Kemudian, hari itu dinyatakan sebagai hari kebangkitan keluarga Indonesia. Artinya, Harganas adalah tindak lanjut program KB yang tidak lain adalah upaya pembatasan angka kelahiran. Hal ini ditegaskan kembali oleh Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) jelang peringatan Harganas ke 26 ini.

"Ingat bumi kita ini stagnan, dia tidak berubah, tidak akan bertambah luas. Tanah yang ada dimanfaatkan oleh warga bumi dan semakin berkurang karena populasi manusia yang selalu bertambah. Salah satu upaya untuk meminimalkannya, dengan melaksanakan program Keluarga Berencana," tandas gubernur Kalsel dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Senin (4/2).

KB, Ilusi Solusi Kapitalis Untuk Keluarga
Bermodal fakta banyaknya keluarga yang tidak sejahtera, sistem kapitalis menyodorkan pembatasan kelahiran sebagai solusi andalan. Tak sebatas dipromosikan bahkan cenderung dipaksakan. Diantaranya, adanya pembatasan jumlah anak tertanggung bagi para ASN. Didukung dengan penyebarluasan teori ekonomi kapitalis di dunia pendidikan.

Hingga akhirnya, solusi ini tampak logis untuk diterima. Bahwa masalah ekonomi itu muncul akibat kelangkaan yang disebabkan ketidakseimbangan laju pertambahan manusia dan alat pemuas kebutuhannya. Karenanya pertumbuhan manusia harus dihambat sedemikian rupa, program KB-lah realisasinya.

Solusi lain tentu saja dengan meningkatkan jumlah produksi. Otomatis, dunia produksi memerlukan banyak tenaga. Lagi-lagi, karena prinsip ekonomi kapitalis mengajarkan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil sebesar-besarnya maka tenaga yang dipakai haruslah semurah mungkin. Itulah tenaga perempuan.

Agar para perempuan suka cita memenuhi kebutuhan dunia industri kapitalis maka dipasarkanlah ide kesetaraan gender. Dimana perempuan dianggap mulia jika bisa bekerja sebagaimana laki-laki. Hanya saja, terkadang masih ditemukan kendala dari keluarga yang masih cenderung mengutamakan perempuan untuk mengurus rumah dan anak-anak.

Untuk itu, perlu ada upaya agar seisi rumah mendukung kiprah ekonomi perempuan. Maka dalam Harganas tahun ini, panitia mendatangkan master dongeng, Kak Bimo, untuk mengedukasi orang tua dan kakek-nenek tentang cara mendidik anak (dispersip.kalselprov.go.id). Saat kakek-nenek bisa diandalkan mendampingi anak, diharapkan tidak ada lagi faktor pemberat langkah para ibu untuk melaju di dunia kerja atau usaha. Berbagai peluang kerja dan usaha pun terus menerus digulirkan untuk kaum ibu. Semakin sempurnalah pemberdayaan ekonomi perempuan.

Buah Pemberdayaan Kaum Ibu
Seiring makin tingginya partisipasi perempuan di dunia kerja dan usaha bukan kebaikan bagi keluarga yang kita jumpai. Justru sebaliknya. Hingga tahun 2018, angka perceraian dengan kasus gugat cerai meningkat pesat. Menurut psikolog Kemang Medical Care, Rahmi Dahnan, salah satu penyebab utama besarnya angka gugat cerai adalah pendapatan istri yang lebih besar dari suami (tempo.co, 21/5/19).

Dari segi generasi, kriminalitas remaja pun semakin memprihatinkan. Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sejak 2011 hingga akhir 2018, tercatat 11.116 anak Indonesia tersangkut kasus kriminal (sindonews.com, 14/5/19). Buah dari kosongnya jiwa remaja dari belaian kasih sayang dan pendidikan orangtua yang semakin sibuk bekerja dan bekerja.

Sementara itu produk-produk Barat baik food, fun, and fashion semakin laris dalam kondisi ini. Bahkan, ada yang jauh lebih penting dari itu dan harus digarisbawahi. Yakni, rusaknya generasi hari ini adalah pertanda sebuah bangsa akan dikuasai bangsa lain esok hari. Sungguh perencanaan tatanan keluarga yang ditawarkan kapitalis tak lebih dari racun berbalut madu.

Keluarga Berencana Dalam Islam
Adapun Islam, sejak 14 abad silam pun telah memiliki perencanaan dalam membangun keluarga. Bahkan, dimulai sejak pencarian pasangan hingga masa depan keluarga di dunia ini. Sebagaimana firman Allah dalam surah Ath-Tahrim ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu."

Namun, syariat Islam justru menganjurkan untuk mengawali perencanaan sebuah keluarga dengan memilih calon pasangan yang subur. Sebab, kelak Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam akan membanggakan jumlah umatnya di sisi Rabb-Nya (HR. An-Nasa'i). Sebab, Islam memandang masalah kesejahteraan keluarga sama sekali tidak ada hubungannya dengan banyak dan sedikitnya jumlah anak. Sesuai firman Allah, “Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (TQS. Huud: 6).

Dalam Islam, kemiskinan tidak disebabkan oleh kelangkaan melainkan akibat distribusi kekayaan yang tidak berjalan. Menupuk pada segelintir orang. Fakta ini tak dapat diingkari. Liputan6.com tahun 2018 pernah merilis sebuah artikel yang memperkirakan tahun 2030 nanti, satu persen orang terkaya di dunia akan menguasai 64% kekayaan dunia.

Hal ini juga bisa kita indra secara langsung. Coba tengok di sekitar kita betapa mobil dan kendaraan roda dua itu banyak sekali jumlahnya. Menumpuk di beberapa showroom dan bagasi rumah orang kaya. Sementara yang lain hanya mampu memandang tanpa bisa memilikinya. Artinya, bukan barangnya yang kurang tapi distribusinya yang buruk.

Maka saat terjadi masalah ekonomi pada keluarga, Islam tidak menyelesaikan dengan mengurangi kelahiran. Dan, tidak menyerahkan penyelesaiannya pada keluarga semata. Apalagi sampai memberdayakan perempuan. Masalah ekonomi dibebankan pada laki-laki sebagai kepala keluarga dan kepada penguasa sebagai kepala negara.

Negara akan membuka lapangan kerja dan usaha untuk para laki-laki. Juga, menciptakan lingkungan yang kondusif untuk kelancaran setiap usaha warga negaranya.

Jika kepala keluarga uzur maka negaralah yang akan mencukupi kebutuhan sebuah keluarga secara langsung. Di sisi lain, negara mengharamkan praktik penimbunan. Bahkan, menabung harta halal tanpa hajat syar’i-pun tidak diperkenankan. Dengannya, harta yang ada di dunia ini bisa tersebar merata, tidak menumpuk pada orang tertentu saja.

Adapun kaum perempuan tetap dimuliakan dengan tugas utamanya sebagai ibu dan pendidik generasi. Dengannya, akan terwujud generasi hebat pemimpin peradaban dunia. Terlahir dari anak-anak yang sempurna pengasuhan dan pendidikannya oleh keluarga, khususnya para ibu. Dikuatkan dengan sistem pendidikan berbasis Islam dan masyarakat yang syahdu dalam suasana penerapan syariat Islam.

Demikian indah dan mempesonanya perencanaan, pengaturan, dan pelaksanaan aturan keluarga ala syariat Islam. Hingga dalam sejarah peradaban Islam, sangat mudah menemukan para ilmuan dan ulama besar di dalamnya. Hanya saja, keluarga berencana versi Islam ini hanya akan terealisasi di bawah negara yang bersistem Islam pula. Bukan selainnya.

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya” (Ath-Thalaq: 2-3).

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS Thaha [20]: 124). [MO/ms]

Posting Komentar