Oleh : Nur Azizah (Aktivis Muslimah Jakarta Utara) 

Mediaoposisi.com-Film "Dua Garis Biru" yang diperankan langsung oleh Angga Aldi Yunanda yang berperan sebagai "Bima" dan Adhisty Zara salah satu personil JKT 48 yang berperan sebagai "Dara". Mengangkat sebuah cerita tentang hubungan sepasang kekasih yang masih duduk di bangku SMA, nekat melakukan bersenggama diluar nikah. Tema inipun mengangkat sebuah kisah "Kehamilan remaja". Teaser trailer film ini dipromosikan 1 bulan yang lalu di youtube dan sampai saat ini telah ditonton lebih dari 8, 2 juta penonton. 

Petisi yang digagas oleh Gerakan Profesionalisme Mahasiswa Keguruan Indonesia (Garagaraguru) di Change.org. Mereka menilai ada beberapa scene di trailer yang menunjukkan situasi pacaran remaja yang melampaui batas.  

"Beberapa scene di trailer menunjukkan proses pacaran sepasang remaja yang melampaui batas, terlebih ketika menunjukkan adegan berduaan di dalam kamar yang menjadi rutinitas mereka. Scene tersebut tentu tidak layak dipertontonkan pada generasi muda, penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa tontonan dapat mempengaruhi manusia untuk meniru dari apa yang telah ditonton," isi di dalam petisi, dilihat detikHOT, Rabu (1/5/2019).

Meski tidak nampak adanya adegan yang melanggar perundang-undangan, mereka menyebut ada pesan implisit yang ingin disampaikan lewat 'Dua Garis Biru'. Pesan tersebut dikhawatirkan dapat merusak generasi milenial di Indonesia.

"Segala tontonan yang menjerumuskan generasi kepada perilaku amoral sudah sepatutnya dilawan (bukan tentang film Dua Garis Biru, melainkan film secara umum), karena kunci pembangunan negara ada pada manusianya. Mustahil apabila kita ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045, namun generasi muda masih sering disuguhkan tontonan yang menjerumuskan kepada perilaku amoral," tulis mereka. 

Ketika petisi itu dilakukan Chand Parwez selaku produser dari film tersebut menghormati petisi yang ditujukan untuk filmnya. Ke depan ia berniat mengajak pihak terkait untuk melakukan dialog.

"Sebaiknya memberikan komentar setelah melihat materi filmnya, tapi saya menghormati perbedaan pendapat, ya silahkan saja berpendapat, tapi kan ada prosedurnya juga. Dan kita juga akan jadikan pertimbangkan untuk ajak mereka berdialog," ujar Parwez.

Pihak rumah produksi yang memproduksi film dua garis biru ini, ternyata  beberapa tahun yang lalu juga pemproduksi film "Virgin" sebuah film bertema pergaulan bebas di kalangan remaja yang juga menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat.

Jika kita membaca sinopsis dari film 'Dua Garis Biru' ini memang menceritakan bahwa hamil diluar nikah adalah hal yang biasa, asalkan sang lelaki mau bertanggung jawab. Hamil di luar nikah bukan lagi hal yang tabu bagi masyarakat, karena seks bebas sudah dianggap sesuatu hal yang wajar dikalangan muda mudi dengan ikatan sebuah hubungan berlabel "Pacaran". Jelas di dalam film ini tidak lagi menjadikan Agama sebagai tolak ukur dari apa-apa yang diperbuatnya. 

Ironis memang, karena faktanya negeri ini yang notabenenya Mayoritas Muslim, namun sayang mereka semua digiring untuk meninggalkan Agamanya. Karena industri perfilman di Indonesia lebih sering mengangkat cerita tentang Percintaan di Usia Remaja. Maka dari itu kaum remajalah yang dijadikan sebagai sasaran empuk penikmat sajian macam ini.

Hal ini memang sudah tidak asing lagi, mengingat masa remaja adalah masa puber. Masa dimana mengenal Cinta dengan lawan jenis.Padahal sudah jelas dalam pandangan Islam, bahwa perbuatan Zinah adalah salah satu dosa besar yang bahkan Islam memberi sanksi kepada pelakunya seperti yang tertera pada surat berikut ini. 
Allah SWT berfirman:
اَلزَّانِيَةُ وَا لزَّانِيْ فَاجْلِدُوْا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍۖوَّلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰخِرِۚوَلْيَشْهَدْ عَذَا بَهُمَا طَآئِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
"Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari Kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman." (QS. An-Nur 24: Ayat 2)

Sayang seribu sayang bukan? Jika film sampah semacam ini diijinkan tayang di seluruh bioskop oleh Lembaga Sensor Indonesia padahal film ini menuai pro kontra di tengah-tengah masyarakat.

Jika kita menyadari beberapa hal yang merusak generasi ini yaitu adanya sebuah gambar dan film yang tidak mendidik disebarluaskan. "Gambar ... termasuk film, punya kesempatan yang lebih baik, dan jauh lebih cepat, ketimbang bacaan untuk membuat orang memahami pesan-pesan tertentu," sebut Hitler dalam Mein Kampf.

Belakangan ini, sejumlah studi di bidang neurosains membuktikan bahwa film memang dapat mengendalikan sentimen orang.

Lewat functional magnetic resonance imaging (fMRI), para ilmuwan dari New York University mengetahui reaksi otak manusia terhadap adegan, warna, dan musik latar dalam film; dan hal itu menjadikan film-film yang mempunyai tujuan tertentu, misalnya menakut-nakuti, sukses menancapkan pengaruh dan pesan di kepala para penontonnya. Penelitian lain dari Linfield College mengungkapkan bahwa tontonan di layar kaca berpengaruh terhadap tingkat agresivitas seseorang. (Tirto.id) 

Maka sudah tidak heran lagi di dunia perfilman kerap dijadikan sebagai sarana propaganda ide sekulerisme liberal termasuk dalam hal ini,  yaitu Propaganda 'pergaulan bebas'. 

Sudah banyak contoh film-film tentang percintaan yang menampilkan adegan-adegan tidak senonoh yang ditampilkan di layar Kaca guna untuk menyebar luaskan tentang pandangan kebebasan dalam pergaulan. Dan tanpa sadar, masyarakat saat ini digiring untuk menerima paham kebebasan tersebut. Film mempunya pengaruh besar bagi penontonnya dimana film itu sendiri dengan mudah menyihir siapa saja untuk bertindak dan berfikir tanpa disadari. 

Lalu bagaimana islam memandang dunia film? 

Jika diartikan film adalah salah satu produk seni berupa gambar visual dan suara. Film juga sebagai media informasi yang bisa saja menjadi halal hukumnya, bahkan wajib atau sunnah untuk dibuat. Namun film juga bisa menjadi haram untuk dibuat atau ditonton.

Karena pada dasarnya mubah saja hukumnya menikmati karya seni anak bangsa selama didalamnya tidak ada unsur-unsur negatif, seperti maraknya pergaulan bebas dan lainnya. Jika sudah terdapat semacam itu jelas film sangat diharamkan bagi penikmat dan pembuatnya. 

Ketika sebuah Institusi yang berlandaskan Islam tegak, sudah dipastikan bahwa penggunaan dalam perfilman harus sebagai sarana propaganda yang bertujuan menyebarluaskan aqidah beserta ide-ide Islam yang cemerlang. Apalagi di abad ke 21 kali ini, dimana kecanggihan teknologi berkembang pesat dapat digunakan sebagai sarana pembuatan efek animasi dalam sebuah karya film untuk mempropagandakan Islam.

Tentunya akan berdampak positif bagi mereka yang menontonnya dan memiliki pengaruh besar untuk kemajuan Islam. Dengan begitu segala propaganda yang berdasarkan pada ide-ide Islam akan mudah diterima oleh masyarakat. Begitulah Khilafah ketika nanti ditegakkan. 
Wallahu a'lam bishawab.[MO/sg]

Posting Komentar