Oleh: Retno Kurniawati 
( Analis Muslimah Voice ) 

Mediaoposisi.com-Ancaman kekeringan sudah mulai melanda di beberapa daerah di Indonesia pada tahun 2019 ini. Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara harus bersiap-siap menghadapi kekeringan. Antisipasi urgen dilakukan karena kekeringan yang akan terjadi terbilang panjang dan ekstrem. 

Peringatan itu disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berdasarkan hasil monitoring hari tanpa hujan (HTH) hingga tanggal 30 Juni 2019. Beberapa daerah di Jawa yang berpotensi mengalami kekeringan antara lain Sumedang, Gunungkidul, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Gresik, Tuban, Pasuruan, dan Pamekasan. ( Sindonews.com, 5 Juli 2019 ).

Hal senada juga di lansir oleh metronews.com pada 6 juli 2019 tentang daerah-daerah yang mengalami kekeringan. Sebenarnya apa yang terjadi? fenomena alam atau ada hal yang lain?

Jika memang fenomena alam, sebab-sebabnya adalah sebagai berikut: penyebab kekeringan ekstrim banyak sekali secara ilmiah, bisa jadi karena letak gegrafis Indonesia yang berada ditengah Garis Katulistiwa ( penyebab dua musim sehingga peluang kemarau panjang ). Juga gejala perubahan cuaca sebagai penyebabnya. 

Dan udara dan alam yang semakin rusak dan tercemar. Jika penyebab kekeringan adalah fenomena alam biasa, sangat mudah sekali ditanggulangi karena sudah pasti hal langganan karena semua berkaitan dengan letak dan posisi indonesia.

Ada hal lain yang menjadi ancaman kekeringan yaitu bencana alam akibat ulah manusia. Segala bentuk bencana yang melanda negeri ini pada dasarnya tidak luput dari perilaku manusia itu sendiri, jika kita kembali membuka Al Quran, tampak jelas bahwa bencana dan krisis lingkungan akibat dari ulah tangan sebagian dari umat manusia. Atau salah satu yang di kenal dengan istilah deforestasi.

Deforestasi adalah proses penghilangan hutan alam dengan cara penebangan untuk diambil kayunya atau mengubah peruntukan lahan hutan menjadi non-hutan. Bisa juga disebabkan oleh kebakaran hutan baik yang disengaja atau terjadi secara alami. (Wikipedia).

Sebenarnya kerusakan lingkungan telah lama disinyalir dalam Al Quran "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar”. QS. Ar Ruum:41.

Sehingga jika kita telaah, penyebab kekeringan yang berkepanjangan adalah bukan karena fenomena alam namun lebih tepatnya adalah akibat dari ulah manusia yang mempunyai andil terbesar. Memang ada yang salah dengan paradigma pembangunan. Pembangunan sekuler kapitalistik, cenderung rakus dan merusak, salah satu dampaknya adalah kekeringan.

Kira - kira 10 tahun yang lalu, ratusan perusahaan terbesar dunia berjanji untuk menghentikan penghancuran hutan pada tahun 2020. Dengan hanya beberapa bulan yang tersisa, mereka tidak tampak mendekati tujuan ini. Namun upaya-upaya yang di lakukan tidak ada sinyal penghentian penghancuran hutan.

Di waktu yang tersisa untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim. Melindungi dan memulihkan hutan adalah salah satu pertahanan terbaik yang kita miliki untuk menghadapi kerusakan iklim. Pada tahun 2020, diperkirakan 50 juta hektar hutan - terancam dihancurkan untuk komoditas pertanian. Banyak perusahaan telah berjanji untuk mengakhiri deforestasi dalam kurun waktu sepuluh tahun, namun mereka tetap mengambil keuntungan dari perusakan hutan.

Hutan harus tetap ada, karena dia berperan sebagai jantung bumi. Memang ketika hutan diganti menjadi pertanian akan menguntungkan hajat orang banyak terutama dalam hal pangan, tapi pada akhirnya kita mengesampingkan hal yang lebih penting yaitu oksigen yang kita hirup, yang tidak hanya sebagai bahan utama bernafas makhluk hidup, tapi juga berperan sebagai keberlangsungan hidup kelak.

Sebelum semuanya terlambat, para pengusaha atau perusahaan yang berbisnis dengan mengorbankan hutan harus dicegah. Ketika sumber mata air terakhir telah kering, ketika daun terakhir telah gugur. Saat itu kita baru tersadar betapa pentingnya melindungi Hutan.

Namun yang terpenting dalam jangka panjang adalah saatnya kita menentukan batasan. Ada beberapa hal pengelolaan hutan menurut syariah. Misalnya, hutan termasuk dalam kepemilikan umum, bukan kepemilikan individu atau negara. 

Ketentuan ini didasarkan pada hadits : “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal : dalam air, padang rumput [gembalaan], dan api.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah). Juga dalam hal pengelolaan, pengelolaan hutan hanya bisa dilakukan oleh negara saja, bukan oleh pihak lain (misalnya swasta atau bahkan asing).

Dan yang paling utama negara wajib melakukan pengawasan terhadap hutan dan pengelolaan hutan. Dunia ini butuh regulasi untuk melindungi hutan. Ketika hutan semakin di hancurkan, sama halnya kita tengah mempercepat kiamat di bumi.

Greenpeace adalah salah satu lembaga yang menyuarakan penyelamatan hutan namun bisa di baca, hal demikian tidak akan mampu berbuat banyak karena pemegang keputusan adalah negara. Negara harus segera berbuat tindakan penyelamatan, dengan menciptakan peraturan yang membatasi pengelolaan hutan.

Dalam tatanan syariat islam, fungsi pengawasan operasional lapangan ini dijalankan oleh lembaga peradilan, yaitu Muhtasib (Qadhi Hisbah) yang tugas pokoknya adalah menjaga terpeliharanya hak-hak masyarakat secara umum (termasuk pengelolaan hutan).

Penerapan syariah dalam seluruh aspek kehidupan (pembangunan berbasis aqidah)  menjamin kehidupan penuh berkah. Kebaikan alam semesta akan dirasakan manusia dan makhluk hidup lainnya. (QS al a'raf 96). Islam sudah lengkap punya resep andalan mulai dari mencegah, mengatur, mengelola hutan secara sempurna sehingga kekeringan sangat minimalis untuk terjadi. [MO/VP]

Posting Komentar