Oleh: Ir. Titi Hutami

Mediaoposisi.com-Pasca keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai gugatan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi terhadap Komisi Pemilihan Umum (KPU), mayoritas rakyat Indonesia saat ini tengah besedih. 

Tumpuan harapan yang diberikan pada MK untuk dapat membuka tabir kecurangan ternyata bertepuk sebelah tangan. MK yang sebelumnya telah berjanji akan menghakimi dengan adil karena takut pada Allah, ternyata keberpihakan sepenuhnya diberikan pada kubu yang dituduh curang.

Siapapun rakyat di negeri ini sangat mudah melihat kecurangan yang dilakukan KPU untuk memenangkan pasangan calon presiden petahana. Anehnya, MK berdalih bahwa dalil-dalil yang diberikan BPN kurang kuat, saksi-saksi yang dihadirkan kurang mewakili, dan beberapa gugatan dianggap wewenang Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Tidakkah MK melihat tatapan mata penuh harap dari masa peserta aksi damai yang berdatangan selama sidang berlangsung. Belum lagi, jutaan penonton televisi yang memantau terus persidangan. Mereka merasa MK dapat bersikap adil, sehingga diharapkan MK dapat memberantas kecurangan dan memberi sanksi pelakunya. Tapi apa daya rakyat, MK memenangkan KPU dan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf.

Seharusnya MK sebagai bagian dari masyarakat bisa menyelami keinginan mayoritas rakyat Indonesia. Rakyat sudah tidak ingin dipimpin oleh calon presiden (capres) petahana, apalagi kemenangannya dalam pemilu dilakuan dengan melanggar undang-undang pemilu. Ataukah MK berlagak tidak tanggap terhadap fakta pelanggaran tersebut.

Sungguh keputusan MK membuat rakyat terkejut. Walaupun prediksi awal dari beberapa pengamat politik sudah menduga bahwa gugatan BPN akan ditolak, tapi tetap saja rakyat berharap pada hakim MK dapat memberi keputusan adil.

Beginilah jika putusan pengadilan bertumpu pada aturan buatan manusia. Tidak ada rasa takut bagi hakim untuk memilih siapaun yang ingin dimenangkan. Beda halnya jika landasan peradilannya aqidah Islam, hakim akan mengadili dengan hukum Islam dan bertanggung jawab langsung pada Allah SWT. Rasa takut pada Allah akan menuntun hakim untuk memutuskan perkara dengan seadil-adilnya.

Semoga rakyat Indonesia diberi kesabaran menghadapi proses peradilan di dunia yang tidak mencerminkan keadilan. Masih ada pengadilan yang terakhir, yakni pengadilan di hadapan Allah SWT. Dalam pengadilan ini tidak ada orang yang sanggup menolak tuduhan kecurangan, karena bagian dari tubuh manusia akan memberikan kesaksian, walaupun mulut mengelak.

Wahai para hakim dan pihak – pihak pelaku kecurangan, peradilan dunia bisa menyelamatkan Anda. Tapi ingat, Anda akan melewati peradilan terakhir di hadapan Allah SWT. Peradilan ini tidak dapat dibeli dengan apapun yang Anda miliki.

Kembali pada kesedihan rakyat, sebenarnya kesedihan yang dirasakan rakyat tidak  hanya disebabkan  kegagalan MK dalam memberi keadilan. Itu hanya salah satu dari tumpukan kesedihan. Sebelumnya rakyat sudah didera banyak kesedihan karena menghadapi kehidupan yang semakin sulit. Harga-harga kebutuhan terus memberatkan. Lowongan pekerjaan semakin sulit didapat. Pendidikan mahal. Kesehatan mahal. Sementara, pemimpin yang ada tidak mampu memberikan solusi dari semua persoalan tersebut.

Akhirnya, dengan mencermati situasi negara yang nampak sulit berpihak pada rakyat, disimpulkan bahwa penguasa melakukan salah urus negara. Kesalahan terletak pada undang-undang yang diberlakukan negara. Selama ini perundang-undangan negeri ini lahir dari cara berpikir kapitalisme – sekulerisme. Cara berpikir ini juga melahirkan sistem pemerintahan model demokrasi.

Sistem kapitalisme dan sekulerisme membawa negeri ini semakin hari semakin terpuruk luar biasa. Sementara sistem demokrasinya selama ini telah menghabiskan uang rakyat hanya untuk sekedar memilih seorang pemimpin.

Berikut fakta buruk lain dari demokrasi. Demokrasi memberikan ketentuan bahwa pemimpin dipilih oleh mayoritas suara rakyat. Faktanya, tanpa suara mayoritas pun presiden bisa terpilih. Saat ini Indonesia memiliki pemimpin hanya dari pilihan orang-orang tertentu. Potensinya terbukti empat tahun berjalan membawa kemunduran berbagai bidang kehidupan.

Demokrasi juga mengharuskan ada wakil rakyat duduk sebagai posisi legislatif. Faktanya, para wakil rakyat selama ini menghasilkan aturan undang-undang yang berdampak menyusahkan rakyat. Slogan kesejahteraan hidup yang dijanjikannya hanyalah omong kosong.  Kecuali, kesejahteraan hidup untuk penguasa dan wakil rakyat itu sendiri.

Jadi jangan heran jika rakyat menyimpulkan bahwa sistem demokrasi telah menipu rakyat. Kemunafikan sangat kentara. Ketika penguasa menyampaikan orasi, maka isi orasinya bertolak belakang dengan fakta. Misalnya, negara sudah mengalami kemajuan pesat, faktanya negara mengalami kemunduran yang luar biasa. 

Jika disebutkan bahan pangan aman tersedia, faktanya harga bahan pangan di pasaran mahal seperti kondisinya sedang langka. Saat penguasa mengajak rakyatnya untuk mandiri, nyatanya penguasa tersebut membuat perjanjian impor besar-besaran dengan negara lain terhadap produk yang sudah ada dalam negeri.

Bagian mana lagi dari sistem demokrasi yang dapat dipercaya. Apakah infrastruktur yang sedang gencar dibangun untuk kemajuan Indonesia. Layakkah Indonesia dikatakan maju jika hutangnya semakin menggunung dan rakyatnya memiliki masa depan tidak jelas.

Rakyat memang diam, nrimo, dan tidak marah. Tapi, aksi yang marak dilakukan belakangan ini, seperti aksi damai, aksi dzikir, aksi pawai, dan aksi unjuk rasa, menggambarkan ekspresi kegundahan masyarakat. 

Demikian juga dalam aksi damai 212, jutaan orang datang dari berbagai daerah dengan pengorbanan biaya yang tidak sedikit untuk sampai di Monas Jakarta. Mereka juga rela berpanas-panas berkumpul di Monas. Itu gambaran rakyat sedang menginginkan adanya perubahan bagi negeri ini.

Mohon para penguasa tidak tersinggung dengan aksi - aksi tersebut. Jangan diartikan aksi tersebut dalam rangka makar atau teror terhadap penguasa. Karena tidak ada keinginan rakyat untuk menggoyang pemerintah, berbuat kerusuhan, apalagi menghancurkan negara. Itu akan merugikan rakyat sendiri.

Rakyat Indonesia yang mayoritas muslim hanya ingin hidup tenang dan tenteram dengan kembali pada fitrahnya. Fitrah seorang muslim adalah tunduk dan patuh pada agamanya, serta meninggalkan hingar bingar kemaksiatan yang merajalela. Negara tentu saja sangat dibutuhkan rakyat untuk mewujudkan ini semua.

Negara dapat berperan meluruskan dan membersihkan aqidah setiap individu muslim. Jika ada usaha yang ingin menyimpangkan aqidah Islam umat, negara dapat dengan sigap mengatasinya. Demikian pula jika ada pihak tertentu yang berusaha menodai aqidah umat Islam, negara dapat langsung memberi sanksi pelaku penodaan tersebut.

Peran lain negara untuk ketentraman rakyat, hanya negara yang mampu menerapkan seluruh hukum agama penduduk negeri ini yang mayoritas muslim. Dengan kata lain, negara mampu menerapkan aturan Islam secara keseluruhan, baik aturan politik dalam negeri, politik luar negeri, ekonomi, keamanan, militer, sosial, budaya, industri, peradilan, pendidikan, dan kesehatan.

Penerapan aturan Islam secara menyeluruh dijamin membawa kebaikan buat semua orang, baik muslim atau non muslim. Bagi muslim, aturan Islam memberikan solusi semua persoalan hidup dengan tuntas. Sementara bagi non muslim, aturan Islam tidak memaksa dirinya menjadi muslim, dan kebebasan beribadah tetap dijaga.

Dengan sistem Islam, negara menjadi kuat, mandiri, bebas dari jeratan utang luar negeri, bebas dari korupsi, aman dari kriminalitas, fokus dalam kemajuan teknologi, dan terhormat di mata negara-negara internasional.

Saat ini, negara jangan mudah terprovokasi isu-isu yang dihembuskan Barat untuk mencitra-burukkan Islam, seperti isu radikal, teroris, arabisme, dan kuno. Justru isu-isu itu dihembuskan untuk mencegah bangkitnya kembali umat Islam di dunia. Karena jika umat Islam bangkit, Barat tiadak akan mampu memecah-belah umat Islam, menguras kekayaan alam negeri-negeri Islam, menipu dan membodohi umat Islam.

Sikap negara justru harus memberi jalan kebangkitan ini, agar Indonesia tidak lagi jalan di tempat atau bahkan terus tertinggal dari negara-negara lain. Pemimpinnya pun harus kompak dengan semangat rakyat untuk bangkit dari keterpurukannya. Dari sini, kebangkitan umat Islam akan segera menjadi kenyataan. [MO/vp].


Posting Komentar