Oleh: Salma Banin
(kontributor komunitas Pena Langit)
Mediaoposisi.com-  Kaum muslimin kembali berduka, tokoh panutan, seorang penjaga Alquran dan pejuang Syariah Islam tanah Musa, Muhammad Mursi meninggal dunia saat sedang menjalani sidang vonis. Sebelumnya beliau sempat menyampaikan pernyataan selama 20 menit dengan semangatnya hingga tetiba pingsan dan dinyatakan telah tiada oleh dokter yang memeriksanya. Kematiannya menyisakan banyak luka bagi rakyat Mesir pada khususnya dan umat muslim seluruh dunia pada umumnya. Beliau adalah sosok yang tak gentar mencita-citakan diterapkannya Syariah di parlemen, meski beliau tahu betapa resikonya tidak sedikit.
Dan itu terbukti. Baru menjabat satu tahun sebagai Presiden, kekuasaannya telah dikudeta oleh junta militer yang didukung hampir separuh dari rakyatnya. Turunnya masyarakat ke jalan sebulan sebelum beliau digulingkan, adalah bentuk protes massal atas berbagai masalah sosial dan ekonomi yang belum dituntaskan. Media memberitakan bahwa Mursi telah mengkhianati janjinya semasa kampanye. Opini yang bergulir pada saat itu adalah Mursi lebih sibuk mengembangkan pengaruh politik dari kelompoknya, yakni Ikhwanul Muslimin dibanding menyelesaikan problematika bangsa. Campur tangan Militer tak mampu terelakkan. Singkat cerita rezim Mursi akhirnya jatuh, bangkitlah Jenderal Al Sisi sebagai Presiden penggantinya hingga hari ini.
Pemberitaan media tentang kematian Mursi yang kontroversial pun sempat timbul tenggelam. Tenggelam sebab media mainstream tanah air lebih senang mengelu-elukan kemenangan petahana atas tuntutan oposisi yang ditolak Mahkamah Konstitusi, sempat timbul kembali saat perwakilan Amnesty International bercuit agar dilakukannya investigasi transparan tanpa memihak atas kondisi kesehatan Mursi yang disinyalir tak mendapat perlakuan medis yang layak selama beliau menjalani kurungan.
Namun titik kontroversinya bukan disitu, demokrasi yang digadang-gadang sebagai sistem pemerintahan terbaik kembali menunjukkan hipokrisinya. Mursi adalah satu-satunya presiden yang dipilih secara demokratis sepanjang sejarah perjalanan negara independen Mesir sejak kemerdekaannya. Legitimasi kedaulatan rakyat 50% + 1 itu tak berlaku lagi baginya, sebab visi yang dibawa Mursi dan pendukungnya adalah Islam dengan seperangkat syariatnya. Amerika sebagai kampiunnya paham betul, bahwa demokrasi diciptakan sebagai habitat sekulerisme dimana Tuhan hanya  boleh diagungkan diranah pribadi, haram dibawa-bawa untuk mengatur negeri.
Islam dengan demokrasi adalah dua kutub yang saling bertolak belakang. Meski sebagian kaum muslim masih meyakini bahwa demokrasi tidak bertentangan dengan Islam sebab unsur musyawarah yang terkandung di dalamnya. Tapi sudahkah kita mencoba menelisik lebih dalam, benarkah musyawarah dalam demokrasi dibenarkan oleh Islam? Sedang banyak hal-hal haram masih memerlukan ‘izin’ manusia untuk benar-benar dilarang dan dimusnahkan. Subhanallah!
Jargon “menggunakan senjata mereka untuk menikam mereka” sejatinya merupakan utopia yang tak bisa dinalar faktanya. Bagaimana bisa kita memenangkan kompetisi, sedang musuh memegang kendali penuh atas senjata yang kita gunakan? Senjata itu mereka ciptakan, kembangkan, sebarkan demi kepentingan mereka sendiri. Mereka yang paling tahu bagaimana menggunakannya, kelebihan dan kekurangannya mereka yang paling menguasai. Sedang kaum muslim sebagai korbannya dengan senang hati terbius olehnya, meyakini dengan sepenuh jiwa bahwa akan ada saatnya senjata itu membelot dari tuannya.
Disampingnya, ada saudara seiman yang senantiasa menyerukan persatuan. Tidak hanya dalam fikrah perjuangan, namun dalam thariqah (jalan)nya yang meski terjal, sulit dan non pragmatis akan mampu mengantarkan pada kemenangan ideologis. Tidak hanya berpuas diri dengan kesempatan (chance) namun dengan perubahan (change) yang revolusioner. Revolusi ini milik seluruh makhluk bumi, yang rindu akan rahmat dari Penciptanya.
Islam telah diturunkan dengan sempurna, syariahnya meliputi detail hingga ke tingkat DNA. Semua terangkum dalam perjalanan hidup utusanNya, sang Nabi dan Rasul terakhir, Muhammad saw. Pun dalam menegakkan kembali Islam yang sempat dipukul mundur oleh musuhnya. Kepemimpinan Islam (Qiyadah Fikriyyah fil Islam) mewajibkan untuk menempatkan Islam sebagai satu-satunya ideologi yang dibimbing oleh wahyu. Tak ada kompromi dengan ideologi lain di dunia, semisal kapitalisme maupun sosialis-komunis. Ideologi Islam berdiri sendiri, dan tegak atas jalan yang mandiri pula, sebagaimana Rasulullaah saw. mencontohkan.
Demokrasi yang cacat sejak lahir tak pantas disandingkan dengan sistem kehidupan Islam, sebab itu menjadikan demokrasi sebagai jalan perubahan menuju Islam adalah kekeliruan yang terencana. Umat Islam pasca perang salib tidak henti-hentinya digempur oleh berbagai pemikiran (tsaqafah) asing, sehingga sulit sekali memurnikan mana pemahaman yang benar sesuai Islam dan mana yang tidak. Berbagai fakta lain juga mendukung hal tersebut, kemunduran berfikir kaum muslimin yang menjadikan sejarah sebagai salah satu sumber hukum juga menambah panjang deretan ide-ide yang harus dipisahkan dari benak. Akhirnya adalah kekaburan gambaran akan negara Islam itu sendiri. Apakah kaum muslimin menginginkan banyaknya negara di negeri-negeri kita? Sedangkan tak ada satupun dari negara-negara tersebut yang menerapkan Islam secara kaaffah, sebagaimana para Khulafaur Rasyidin menjaga keberlangsungannya.
Lantas mengapa banyak dari kita yang masih betah dan berharap kebaikan instan dari sistem kepemimpinan yang dibuat untuk menjauhkan Islam dari pemerintahan?
Setidaknya ada dua kelompok besar, yakni
  1. Kaum sekuler yang mengaku Islam. Dengan keterbatasan akalnya itu tetap melanjutkan eksperimen berdemokrasi dan selalu mengatakan bahwa kerusakan yang terjadi saat ini adalah murni kelalaian personal. Berbeda lagi ucapannya jika disinggung tentang Khilafah, dimana kebobrokan yang terjadi didalamnya bukanlah sebab individu pemimpinnya, namun karna sistemnya. Blunder.
  2. Aktivis Islam yang bingung dalam menghadapi masalah yang terjadi, menjadikannya reaktif dan sudah cukup puas dengan solusi pragmatis dan ini tidak lepas dari semangat meneruskan perjuangan yang sudah ada, seraya tidak memfokuskan pada penyelesaian radikal (mengakar) yang menjadi sebab munculnya permasalahan cabang kasat mata.
Keduanya sama-sama kecanduan atau bahkan penikmat demokrasi yang tidak mampu berfikir tentang solusi kecuali dengan standar sistem yang diterapkan dengan paksa saat ini. Jika Anda salah satunya, maka patutlah membuka diskusi seluas-luasnya demi bersatunya kaum muslim tidak hanya secara fikrah, melainkan dalam thariqah perjuangannya yang haram hukumnya bergeser dari track Rasulullaah saw saat berjuang menerapkan ideologi Islam yang ideal dan atas dukungan umat yang sadar akan urgensitasnya. Wallaahu’alam. [MO/ra]

Posting Komentar