Oleh : Dian AK 
(Women Movement Institute)
Mediaoposisi.com-Ribuan massa berkumpul di Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat menjelang pembacaan sengketa Pemilihan Presiden (Pilpres) oleh Mahkamah Konstitusi. Mereka berharap putusan yang diberikan sesuai harapan yaitu membatalkan hasil Pilpres dan memenangkan pasangan calon (paslon) 02 (CNNIndonesia.com, 27/6)

Perlu diingat bahwa paslon 02 membawa kasus kecurangan 01 ke ranah hukum MK lantaran kecewa dengan hasil pemilu yang tak jujur. Hal ini menunjukkan bahwa dibalik ketidakpercayaan masyarakat terhadap hasil pemilu sebenarnya masih mengharapkan keadilan, setidaknya di hadapan MK. 

Namun jauh panggang dari api, hasil yang didapatkan serupa, sama-sama tak memberi keadilan yang berarti.

Jika kita cermati, kekecewaan akan terus dirasakan lantaran masyarakat dan politisi kita kurang begitu memahami standart keadilan. Lalu bagaimana standar keadilan yang tepat?

Berbicara tentang standar keadilan, setidaknya ada empat jenis standar. Pertama keadilan menurut individu. Keadilan jenis ini terlalu riskan untuk dijadikan sebagai tolak ukur dalam suatu masyarakat. Sebab pandangan antara orang yang satu berbeda dengan orang lain. Dengan adanya perbedaan pandangan ini maka imposible bisa disatukan.

Kedua, keadilan menurut ideologi  Sosialis dan Kapitalis. Kedua ideologi ini memiliki standar keadilan yang mengikuti kepentingan dan materi. Sehingga tak sedikit rakyat kecil yang merasa tak dipedulikan dan dihiraukan. Jadi standar keadilan jenis ini jauh dari kata pantas.

Ketiga, keadilan menurut kesepakatan. Hasil kesepakatan menjadi keputusan yang mengikat. Namun, keadilan jenis ini sarat dengan kepentingan individu dan kelompok. Maka tak ayal keadilan berdasarkan kesepakatan ini kerap mengalami perubahan tatkala kepentingan suatu kelompok terancam. Sehingga jelas keadilan jenis ini tidak bisa dijadikan standar.

Keempat, keadilan menurut Syara’ (Islam). Keadilan ini berdasarkan aturan (syariat) Islam yang berasal dari Pencipta yaitu Allah SWT. Keadilan jenis ini bebas dari kepentingan manusia. Sehingga tidak akan mungkin putusan yang diberikan akan berubah-ubah. Maka hal ini membuktikan bahwa keadilan menurut syara’ layak dijadikan standar.

Dari sini, maka jelas bahwa mengharapkan putusan yang adil dari MK atau Mahkamah-Mahkamah yang lain bersiap-siaplah kecewa. Karena semua putusannya hanya bersandar pada manusia. Lain halnya, apabila kita sandarkan putusan hukum sesuai Syara’, maka mengharapkan keadilan pasti akan terwujud.

Sejarah telah mencatat bahwa Islam memberikan keadilan kepada seorang yang dituduh mencuri baju besi Ali bin Abi Thalib sekalipun bukan beragama Islam. 

Hal ini memastikan bahwa aturan Islam adalah satu-satunya pilihan yang tepat memberikan keadilan dan membawa rahmat bagi seluruh alam. Maka tidak boleh tidak, penerapan syariat Islam dan penegakan hukum-hukum Allah di muka bumi ini adalah suatu keharusan. Maka mendambakan keadilan yang hakiki menurut Syara’ bukanlah suatu hal yang mustahil.[MO/vp]

Posting Komentar