Suryani Izzabitah
(Dosen dan Pemerhati Generasi)

Mediaoposisi.com-Setelah booming isu tentang impor guru beberapa bulan yang lalu oleh Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani, kini dunia pendidikan dihebohkan lagi dengan kisruh Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019. Di beberapa provinsi terjadi kegaduhan, baik karena permasalahan teknis maupun non teknis.

Penerapan sistem zonasi tahun ini menuai protes sejumlah orang tua murid di beberapa daerah seperti Jawa Timur dan Jawa Barat. Bahkan di Jawa Timur PPDB sempat dihentikan sementara (CNN Indonesia, 25/06/2019).

Kisruh Sistem Zonasi Sekolah
Sistem zonasi penerimaan siswa baru diatur dalam Permendikbud 17/2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) kemudian disempurnakan lewat Permendikbud 14/2018, dimana kriteria utama adalah jarak. Sistem ini mengatur bahwa jarak dari rumah ke sekolah sebagai syarat utama, bukan nilai rapor dan ujian nasional (Kompas.com, 24/06/2019).

Berbeda dengan fakta yang dialami oleh orangtua salah satu siswa di Jakarta, “Katanya mendaftar sekolah dimana saja bisa asal KK (Kartu Keluarga) masuk zonasi di sekolah tersebut. Tapi mana? Ternyata anak saya gak bisa tuh,” ungkap Jelita setelah mendaftar di 8 sekolah yang direkomendasikan (Wartakota, 25/06/2019).

Peraturan ini sudah memasuki tahun ketiga. Dalam implementasinya di lapangan masih banyak kegaduhan yang terjadi disebabkan ada beberapa Pasal yang bias dan minimnya sosialisasi serta tidak meratanya sarana dan prasarana sekolah yang memenuhi standar yang tersebar di semua kabupaten/kota.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi mengatakan, sistem zonasi yang digunakan dalam penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 merupakan jalan untuk menemukan solusi-solusi atas permasalahan pendidikan di Indonesia  (KOMPAS.com, 24/06/2019).

Sistem Pendidikan Tergadai
Pemerintah tengah merevisi aturan terkait Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Rencananya, dalam aturan tersebut akan dibuat beberapa insentif untuk menarik tenaga pendidik asing mengajar di Indonesia. Menurut Sekretaris Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono, revisi aturan tersebut akan memberikan insentif di bidang jasa; seperti pendidikan, ekonomi kreatif, dan kesehatan (detikfinance, 10/06/2019).

Menristekdikti, Mohammad Nasir melepas 45 orang delegasi mahasiswa Indonesia yang akan melaksanakan kunjungan ke China mulai 15 hingga 21 Juni 2019. “Saya ingin mengajak mahasiswa untuk berpikir lebih maju dan punya wawasan lebih luas,” kata Nasir dalam acara pelepasan delegasi mahasiswa Indonesia untuk kunjungan ke China, Tangerang, Banten (ANTARANEWS.com, 14/6/2019).

Fakta-fakta di atas mencerminkan betapa sistem pendidikan di negeri kita begitu semrawut. Dari tahun ke tahun, pemerintah berusaha melakukan upaya “perbaikan” yang sejatinya hanya tambal sulam terhadap permasalahan di bidang pendidikan tapi tidak pernah efektif karena tidak menyentuh akar masalah. Problem guru yang konon katanya “kurang”, sehingga harus mendatangkan guru asing adalah alasan yang dibuat-buat. Belum tuntas masalah guru honorer yang digaji sangat rendah, kini pemerintah ingin membuat instrumen baru dengan memberikan insentif bagi guru asing agar tertarik untuk mengajar di Indonesia. Naudzubillah!

Ini hanya sekelumit masalah teknis, masalah non teknis seperti output generasi yang dihasilkan dari sistem pendidikan kapitalis hari ini juga tak kalah semrawutnya. Generasi yang dihasilkan hanya berpikir materi, tidak melahirkan generasi yang mampu merubah peradaban dengan kepribadian dan pemikiran yang cemerlang. 

Sistem Pendidikan Islam Adalah Solusi Terbaik
Islam datang untuk memberikan cahaya dengan ilmu, menyinari dunia dengan cahaya petunjuk rabbaniyah. Sebagaimana firman-Nya, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maaidah: 50). Tidak ada ruang sedikitpun dalam Islam untuk menolerir kebodohan atau prasangka, ragu atau keraguan.

Sejarah mencatat, pada tahun 721 H, Sultan daulah Mariniyah di Maroko, Abu Said Ustman bin Ya’kub (731 H), memerintahkan untuk membangun sekolah yang berada di daerah Fez baru dengan mendirikan bangunan yang kokoh dan indah, memberikan beasiswa bagi para penuntut ilmu qiraat Al-Quran, meminta fuqaha untuk mengajarkan ilmunya, memberikan gaji kepada mereka dan segala kebutuhannya setiap bulan, di samping memelihara wakaf-wakaf tersebut demi mengharapkan ganjaran Allah dan apa yang ada di sisi-Nya.

Ada juga sekolah khusus di bidang ilmu eksperimen (teori) dan praktik, seperti khusus mempelajari kedokteran dan spesialisasinya. Misalnya, Sekolah Zhahiriyah Al-Baraniyah di Damaskus yang merupakan pusat para ilmuan besar khusus di bidang penelitian.

Perhatian kaum Muslimin terhadap pendirian sekolah di segala penjuru negeri, menunjukkan betapa tinggi peradaban mereka. Umat Islam memandang bahwa ilmu merupakan asas setiap kemajuan. Bahkan, seorang berpengetahuan lebih diutamakan untuk menyebarkan ilmu diantara orang fakir dan kaya, besar dan kecil, lelaki dan wanita, sehingga terbentuklah peradaban Islam yang terdidik dengan nilai perkembangan ilmu dalam beberapa dekade.

Selain itu peradaban Islam dengan sistem yang paripurna karena berasal dari Zat Maha Sempurna, juga memerhatikan masalah ijazah (pengakuan/akreditasi). Ijazah tersebut bukan sebatas ilmu syariat saja, bahkan meliputi seluruh ilmu syariat dan ilmu sains. 

Dari sini kita mengetahui bahwa ijazah merupakan kebiasaan terdahulu peradaban Islam yang tiada duanya dalam lintas perjalanan kemanusiaan. Hal ini baru ditemukan pada kuliah dan universitas Eropa lebih dari 10 abad kemudian.

Sesuatu yang sangat menarik perhatian dalam peradaban Islam, bahwa peradaban Islam telah memosisikan dirinya sebagai aturan yang mempunyai metode menakjubkan, yang dapat berjalan pada kurun waktu panjang. 

Telah mengeluarkan beribu-ribu ilmuan besar yang berperan dalam memajukan peradaban dan lembaran sejarahnya, karena esensi dari tujuan menuntut ilmu merupakan jalan untuk mendapatkan keridhaan Allah Rabbul Alamin.Wallahua’lam bishshowab.[MO/vp]

Posting Komentar