Oleh: Fardila Indrianti, S.Pd
(The Voice Of Muslim Papua Barat)








Mediaoposisi.com-Publik dihebohkan dengan ditangkapnya komedian Tri Retno Prayudati alias Nunung Srimulat terkait kasus narkoba. Aparat Polda Metro Jaya  menangkap Nunung bersama suaminya July Jan Sambiran di kediamannya Jalan Tebet Timur, Jakarta Selatan, Jumat (19/7/2019) pukul 13.15 WIB.
Penangkap berawal ketika polisi mendapatkan informasi dari masyarakat bila kediaman Nunung sering terjadi penyalahgunaan dan transaksi narkoba. Dari penggerebekan tersebut, polisi mengamankan barang bukti berupa satu klip sabu seberat 0.36 gram. (Tribunnews.com/19/07/2019)
Tidak berselang lama polisi juga menangkap Jefri Nichol terkait penyalahgunaan narkotika jenis ganja. Artis yang sedang digandrungi para remaja tanah air berkat kemampuan aktingnya di sejumlah film tanah air ini diamankan polisi setelah terbukti positif menggunakan narkotika jenis ganja. 
Jefri Nichol diciduk aparat di apartemennya pada Senin (22/7/2019) malam sekitar pukul 23.30 WIB. Menurut Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Indra Djafar, saat ditangkap Jefri Nichol diketahui telah membuka paket ganja yang dimilikinya. Ia terbukti menyimpan paket ganja seberat 6,01 gram di dalam kulkas. (Tribunnews.com/25/07/2019)
Ini bukan kali pertama para artis atau public figure terjerumus ke dalam obat-obatan terlarang. Sebut saja Amar Zoni, Roy Marten, Steve Emanuel, Andika 'The Titans', Ello, Ridho Rhoma, Iwa K, Tora Sudiro, Jennifer Dunn, dan masih banyak lagi artis yang mengkonsumsi barang haram tersebut.
Namun mirisnya, para artis itu masih tetap digandrungi dan diidolakan oleh para penggemarnya, seolah hal itu tidak menjadi penghalang mereka untuk tetap mendukung dan mengidolakan idolanya, na'uzubillah. 
Indonesia memang menjadi sasaran empuk penyebaran dan perdagangan narkoba. Mirisnya pengguna dan pengedar tidak hanya dikalangan orang dewasa saja tetapi menjerat anak di bawah umur, baik laki-laki maupun Perempuan, dari masyarakat biasa sampai public figure
Survei dari Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan 2,3 juta pelajar atau mahasiswa di Indonesia pernah mengkonsumsi narkotika. Angka itu setara dengan 3,2 persen dari populasi kelompok tersebut.
Penggunaan narkoba di kalangan pelajar ini juga jadi persoalan di skala global. World Drugs Reports 2018 dari The United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) menemukan 5,6 persen penduduk dunia atau 275 juta orang dalam rentang usia 15 hingga 64 tahun pernah mengonsumsi narkoba minimal sekali. (CNNIndonesia.com/22/06/2019)
Begitu banyak Undang-Undang yang berkaitan dengan hal ini, begitu pula telah gencar upaya yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam menanggulangi bahaya narkotika.
Melakukan sosialisasi ke berbagai kalangan, memberikan sanksi hukum terhadap pengedar maupun pemakai obat-obatan terlarang, adalah upaya yang dilakukan pemerintah, namun hal ini belum memberikan dampak yang signifikan.
Pemerintah dinilai lalai dalam menangani peredaran narkoba, ini bukan tanpa sebab. Fakta mengungkapkan bahwa peredaran narkotika di dalam lapas juga marak. Artinya, vonis pidana penjara dan penempatan para pecandu narkotika di dalam lapas tidaklah efektif, dan tidak menimbulkan efek jera.
Yang terjadi justru para pecandu tersebut  akan semakin kecanduan dan makin mudah memakai barang haram tersebut karena berbaur dengan para bandar, sindikat, dan pengedar narkotika. Disisi lain, sanksi hukum yang dijatuhkan terlalu lunak, vonis mati yang diharapkan bisa menimbulkan efek jera pun justru dibatalkan oleh Mahkamah Agung dan grasi presiden.
Bandar dan pengedar narkoba yang sudah dihukum juga berpeluang mendapatkan pengurangan masa tahanan. Parahnya lagi, mereka tetap bisa mengontrol penyebaran narkoba dari dalam penjara. Tidak sedikit pula kasus narkoba yang melibatkan aparat penegak hukum, baik sebagai pengguna maupun pelindung para bandar narkoba.
Penyebab utama maraknya narkoba saat ini adalah penerapan pemahaman sekularisme, sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya di pandang sebagai sesuatu yang telah kuno dan usang, yang penerapannya hanya dilaksanakan di tempat ibadah saja, agama hanya sebatas ibadah ritual saja tanpa harus diterapkan ke dalam segala sendi kehidupan.

Hal ini menyebabkan pemahaman-pemahaman yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama atau yang dikenal dengan gaya hidup hedonisme, apapun sah-sah saja dilakukan (permisif), ummat tak ubahnya menjadi pemburu kesenangan duniawi semata.

Bukan lagi tentang haq dan bathil atau halal haram tetapi berdasarkan “suka-suka gue”, “suka sama suka”. Pada akhirnya, pergaulan bebas yang mengarah pada miras, narkoba, perzinaan, seks bebas, pelacuran, dan sebagainya, menjadi bagian dari kehidupan sebagian besar masyarakat kita. Dalam pandangan Islam, tidak ada perbedaan di kalangan ulama mengenai haramnya narkotika.

Sebagian ulama mengharamkan narkoba karena diqiyaskan dengan haramnya khamr, karena ada kesamaan illat (alasan hukum) yaitu sama-sama memabukkan (muskir).

Sebagian menyatakan haramnya narkoba bukan karena diqiyaskan dengan khamr, melainkan karena dua alasan, Pertama, ada nash yang mengharamkan narkoba. Kedua, karena menimbulkan bahaya (dharar) bagi manusia. Ibnu Taimiyah berkata, “narkoba sama halnya dengan zat yang memabukkan diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama.

Bahkan setiap zat yang dapat menghilangkan akal, haram untuk dikonsumsi walau tidak memabukkan”. (Majmu’ Al Fatawa, 34: 204)
Allah SWT telah mengharamkan segala sesuatu yang memabukkan dan yang dapat merusak jasmani dan rohani. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
“Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk”. (TQS. Al-A’raf : 157).
Begitu juga dalam surat Al-Baqarah ayat 195 yang artinya, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”. (TQS. Al-Baqarah: 195).
Dari Ummu Salamah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir (yang membuat lemah)”. (HR. Abu Daud dan Ahmad).
Islam melarang keras manusia untuk melakukan hal-hal yang dapat merusak dirinya sendiri. Oleh sebab itu jika tetap bertahan pada sistem yang rusak sekarang ini, maka pemberantasan narkoba yang digadang-gadang pemerintah tidak akan pernah bisa terlaksana dengan baik.

Tentu perlu ada upaya penyadaran pada setiap individu dan menghentikan laju penyebaran narkoba baik dikalangan pelajar, mahasiswa, masyarakat luas serta para public figur.  
Beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam memberantas penyebaran narkoba sesuai dengan aturan Islam.

Pertama, harus ada kesadaran dalam diri setiap individu. Seorang muslim yang memiliki aqidah dan keimanan yang kuat akan berusaha menjalankan dan menjadikan seluruh syariat Allah SWT sebagai landasan dalam menjalani kehidupannya, ia akan menjadikan aturan Allah di atas segalanya sehingga hal-hal yang menimbulkan kemudharatan baginya dan orang lain akan dihindari.

Jika banyak yang terjerumus mengkonsumsi barang haram tersebut dengan  alasan karena dirinya dibelit dengan berbagai problematika hidup, maka hal itu tidak akan terjadi pada individu yang bertakwa. Setiap muslim yang beriman, sejak awal meyakini bahwa Allah akan menguji dirinya dengan berbagai musibah dan cobaan.

Sehingga jika suatu saat dirinya dihempas masalah berat yang belum bisa diselesaikan, ia tidak akan melarikan diri pada narkoba dan tenggelam dalam kenikmatannya. Ia akan meyakini dengan sepenuh hati bahwa musibah dan cobaan pasti datang menghampirinya untuk membuktikan tingkat keimanannya.
Kedua, peran serta masyarakat. Islam sangat menekankan pen­tingnya hidup berjamaah dan men­jaga kesehatan jamaah dengan cara amar ma'ruf nahi mungkar.

Amar ma'ruf yang dilakukan secara me­nyeluruh, baik di keluarga dan lingkungan, organisasi dan jamaah dakwah, baik melalui media cetak maupun elektronik, akan membentuk kesadaran dalam masyarakat bahwa apa yang diharamkan Allah SWT dan Rasulullah SAW secara mutlak harus dijauhi. 

Masyarakat harus bersinergi dalam menciptakan lingkungan yang sehat, yang bebas dari berbagai rangsangan yang dapat mempengaruhi kehidupan menuju pola hidup materialistis, konsumeris, hedonis, sekularis, dan lain sebagainya.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja di antara kamu yang melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Apabila ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu maka dengan hatinya, yang demikian itu merupakan selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)
Ketiga, peran negara. Dibutuhkan ketegasan pemerintah dalam upaya memberantas segala bentuk tindakan kriminal yang mengancam kelangsungan hidup rakyatnya. Hukuman tegas yang diberikan oleh negara dan upaya-upaya yang dilakukan untuk mencegah penyebaran narkoba di tengah masyarakat, yang dapat memberikan efek jera kepada pelaku dan para pecandu narkoba.

Semua ini tidak dapat dilaksanakan jika negara masih menerapkan sistem kufur yang telah nyata menyebabkan banyak kerusakan dalam kehidupan ummat manusia.
Dengan demikian, perlu dilakukan berbagai upaya dan tindakan nyata dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada khususnya pemberantasan narkotika ini.

Semua itu dapat diwujudkan dalam suatu institusi pemerintahan Islam yang menerapkan segala aturan dan syariat Allah Ta'ala sehingga mampu menjaga jiwa tiap-tiap individu dari hal-hal yang akan merusaknya. [MO/sg]

Posting Komentar