Oleh : Fitri Wulandari

Mediaoposisi.com-Sebanyak 29 perempuan Indonesia menjadi korban pengantin pesanan di China. Diduga, mereka terperangkap dalam modus kejahatan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).(liputan6.com). Perdagangan manusia (trafficking) melalui jalur migrasi telah menjadi salah satu bentuk kejahatan transnasional. 

Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) memperkirakan korban perdagangan perempuan berkisar 700.000 hingga dua juta orang tiap tahunnya. Perempuan diperdagangkan dengan tujuan memasok pasar industri seks dan pasar tenaga kerja murah. PBB juga memperkirakan pemasukan setiap tahun dari industri ini mencapai US$ 7 milyar. 

Bahkan trafficking diyakini sebagai sumber pemasukan ketiga terbesar dari aktivitas kejahatan transnasional, setelah narkotika dan penjualan senjata api. Sementara di Asia tenggara merupakan sumber dari sepertiga kasus trafficking global. Dari jumlah korban trafficking, perempuan menempati posisi terbesar sebagai korban trafficking.

Dalam sistem kapitalisme perempuan sangat rentan menjadi korban perdagangan dikarenakan persepsi bahwa perempuan adalah komoditi yang dapat dipertukarkan dan diperjualbelikan. Perepsi bahwa perempuan sebagai komoditi semakin menguat seiring dengan maraknya industri hiburan dan seks. 

Perempuan dan anak-anak dijadikan komoditas seksual yang dapat diperjualbelikan atau dipekerjakan. Para Kapital jelas meraup untung yang besar dari industri seks, prostitusi dan pornografi ini. 

Disatu sisi tidak dipungkiri berbagai tekanan masalah ekonomi yang dihadapi perempuan mulai kemiskinan, tidak memiliki pekerjaan, menjadi tulang punggung keluarga, korban KDRT dan perceraian menjadi faktor yang mendorong para perempuan ini merelakan dirinya menjadi korban trafficking. 

Tindak pidana Perdagangan Orang (TPPO) akan terus terjadi jika negara masih mengunakan sistem Kapitalisme. Di Indonesia sekalipun ada hukum yang ditetapkan tetapi tidak mampu menyelesaikan permasalahan ini. Hukum baru ditegakkan ketika terjadi kasus trafficking, tetapi tidak ada tindakan nyata untuk mencegah terjadinya trafficking.

Berbeda dengan Kapitalisme, Islam tidak pernah menjadikan perempuan sebagai komoditi. Islam sangat memuliakan perempuan, bahkan perempuan merupakan pemegang kunci  peradaban Islam yang strategis dan politis. 

Allah telah memberikannya tugas utama  sebagai ibu yang akan melahirkan generasi yang tangguh dan pengatur rumah tangganya.  Diruang publik sebagai intelektual dan pengerak opini untuk menghadang propaganda jahat terhadap islam dan umatnya. 

Allah juga memuliakan perempuan sebagai suatu kehormatan yang harus dijaga segenap jiwa. Pandangan Islam tentang tingginya status dan pentingnya peran ibu ditegakkan kembali oleh aturan spesifik terkait peran, tugas dan hak yang spesifik untuk laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga. 

Islam  mendefinisikan peran utama perempuan sebagai ibu rumah tangga dan pengasuh anak-anak, dan peran laki-laki sebagai penjaga dan pencari nafkah bagi keluarga. Peran utama perempuan ini tidak menghilangkan hak mereka untuk bekerja jika mereka menginginkannya. 

Melainkan memberikan perempuan hak istimewa atas nafkah – yang selalu disediakan oleh suami atau kerabat laki-laki mereka yang berkewajiban untuk secara finansial memelihara anggota perempuan dari keluarga mereka, mengangkat beban mencari nafkah dari perempuan. Allah SWT berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” [QS An-Nisa: 34]

Nabi SAW berkata, “Masing-masing dari kalian adalah seorang pemimpin, dan masing-masing bertanggung jawab atas mereka yang berada di bawah kepemimpinannya. 

Seorang penguasa adalah seorang pemimpin; seorang laki-laki adalah pemimpin keluarganya; seorang perempuan adalah pemimpin rumah dan anak suaminya ... ”(HR Bukhari dan Muslim)

Dalam Islam, Negara juga mempunyai tugas menjaga dan melindungi perempuan agar kemulian dan kehormatanya terjaga. 

Khilafah berdasarkan metode Kenabian akan menjaga peran laki-laki dan perempuan yang telah didefinisikan Islam dalam kehidupan keluarga, dan mengangkat status penting perempuan sebagai istri dan ibu. 

Hal ini akan mencakup jaminan penyediaan nafkah bagi perempuan sehingga mereka tidak ditekan untuk mencari nafkah dan mengganggu tugas-tugas penting mereka terhadap anak-anak dan keluarga mereka. 

Sebagai contoh, jika seorang perempuan tidak memiliki kerabat laki-laki yang mendukungnya, maka di bawah Islam, negara berkewajiban menyediakannya. Oleh karena itu hukum Islam yang dilaksanakan di bawah Khilafah mendukung para ibu dalam memenuhi kewajiban vital mereka yaitu merawat dan membesarkan anak-anak mereka serta menjaga rumah mereka. 

Mereka juga menjamin keamanan finansial bagi perempuan dan memastikan bahwa mereka tidak pernah ditinggalkan untuk mengurus diri mereka sendiri dan anak-anak mereka, atau dibiarkan menderita kesulitan keuangan.

Nabi Saw bersabda, “Jika seseorang meninggal (di antara kaum Muslim) meninggalkan beberapa harta, harta tersebut akan diserahkan kepada ahli warisnya; dan jika dia meninggalkan hutang atau tanggungan, kami akan mengurusnya.” (HR Muslim)

Demikianlah Islam menempatkan perempuan pada posisi yang sangat mulia. Kapitalisme telah gagal dan tidak bisa menuntaskan masalah trafficking. Umat membutuhkan Khilafah yang akan mengembalikan kemuliaan perempuan dan melindungi keamanan mereka. [MO]

Posting Komentar