Oleh: Fitri Irawati
(Member Komunitas Remaja Islam Peduli Negeri)

Mediaoposisi.com-Setuju tidak dengan pernyataan bahwa wanita itu ribet? Sebab untuk segala hal, dari sisi manapun wanita punya 'porsi'-nya sendiri yang tidak sembarangan untuk diberi tindakan.

Mulai dari tata cara berbicara, berjalan, merias diri, menutup aurat, sampai pada tata cara mengurus keuangan dalam rumah tangga. Hal ini seolah menjadikan segala sesuatu yang berikaitan dengan wanita memang ribet. Banyak yang harus disesuaikan dan dipertimbangkan.

Kenapa? Karena wanita itu mulia. Sangat berharga sampai-sampai harus dijaga 'sebegitunya'. Ibaratnya, tak sembarang kumbang bisa menjamah. Tak semua orang bisa punya mutiara berharga.

Jika saja seluruh wanita memiliki kesadaran demikian, pastilah mereka aman. Sebab terlindung dan dilindungi. Lain hal dengan masa sekarang yang kebanyakan perempuan disibukkan dengan berbagai hiruk-pikuk duniawi.

Tak sedikit wanita yang akhirnya melewati batas-batas fitrahnya. Bahkan tak jarang dunia berhasil membeli kehormatan dan kemuliaannya sebagai sebaik-baik perhiasan.

Kini wanita menjadi topik pembicaraan yang tak ada hentinya. Perdagangan wanita, penculikan, pembunuhan, dan berbagai tidak kekerasan lain bukan hal yang asing di telinga dunia.

Baru-baru ini Indonesia dikagetkan dengan adanya 29 warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban pengantin pesanan di China. Mereka berhasil ditipu dan dijerat hanya karena diiming-imingi uang dan kesejahteraan hidup.

Begitulah, ketika sistem kapitalis sekarang berhasil mencuri harga diri wanita yang amat mahal dengan menyisipi pemikiran-pemikiran sekulernya. Nilai-nilai agama dan hak Pencipta sebagai sebaik-baiknya pengatur tak lagi menjadi pondasi dalam menjalani kehidupan.

Menurut kesaksian salah satu korban yang berhasil melarikan diri, beliau menyatakan bahwa keberadaannya sebagai wanita dan istri disana tak dihargai. Beliau dipekerjakan tanpa henti, dipaksa melakukan hal-hal yang diperintahkan suaminya tanpa diberi hak semestinya

Kejadian ini tentu sangat mengiris hati khususnya para wanita di penjuru dunia. Dan solusi untuk mengakhiri segala macam kekerasan dan masalah-masalah tersebut tak lain adalah mengembalikan pandangan hidup masyarakat dari kapitalis menjadi Islam Kaffah yang menyeluruh, termasuk tata cara penjagaan wanita di seluruh dunia. Bukan parsial (sebagian-sebagian) seolah Islam hanya dipakai pada aktivitas agamis saja.

Sistem Kapitalis membawa pemikiran bobrok dan rusak telah kita lihat dengan berbagai kejadian-kejadian di atas. Harus ada tindakan pengembalian hak-hak wanita yang sesuai koridornya. Bukan malah kesetaraan gender yang justru semakin me-'murah'-kan harga diri wanita.

Sebab jikalaupun kesetaraan gender yang digaungkan masyarakat kapital terwujud, wanita tetaplah hanya dijadikan sebagai obyek dan komoditas belaka.

Bukan mutiara berharga yang dilindungi harga diri, martabat, dan kemuliaannya sebagaimana telah dicapai pada masa tegaknya sistem Islam, 14 abad lamanya.

Hanya Islam satu-satunya solusi terbaik. Sebab berasal dari Sang Pencipta yang tentunya paling tahu dengan segala pengaturan untuk ciptaannya.

Sistem kapitalis hanya akan terus menjadi bahaya yang mengancam kehidupan wanita dan segala sesuatunya jika masih menjadi pijakan dalam menentukan berbagai aturan dan kebijakan.

Sebab segala sesuatu yang berasal dari pemikiran manusia tanpa diarahkan pada aturan penciptanya selalu membawa pada berbagai masalah, sebagai bukti kelemahan dan betapa terbatas akalnya.

Mari kembali pada aturan Sang Pencipta yang telah menciptakan dan mengatur alam serta segala isinya sempurna tanpa cacat sedikitpun.[MO/ad]

Posting Komentar