Oleh : Miniarti Impi, S.T
Mediaoposisi.com-Era digital menjadikan media sosial  seakan sudah menjadi kebutuhan primer, terutama bagi generasi millenial.  Tak dapat dipungkiri, internet dalam hal ini social media merupakan bagian terdekat anak saat ini.  Apa yang menjadi konten di social media dengan cepat membanjiri ponsel pintar anak. 

Mudahnya mengakses beragam konten virtual dalam waktu bersamaan menjadikan mereka nyaris menghabiskan seluruh waktu di depan smartphone daripada melakukan aktivitas di luar ruangan.  

Eksistensi media sosial sebagai salah satu simpul edukasi publik yang banyak di akses saat ini, justru dibanjiri informasi murahan, miskin edukasi bahkan memuat nilai-nilai kebebasan. Banyaknya konten-konten iklan yang sangat tidak mendidik muncul tanpa ada filterisasi. 

Iklan rokok misalnya, begitu massif melakukan promosi di media penyiaran yang bertujuan menjerat anak menjadi perokok pemula. Promosi rokok di media sosial sering mengasosiasikan rokok dengan citra keren, gaul, percaya diri, setia kawan dan macho.

Untuk itu pemerintah menjadikan ketiadaan iklan rokok di media sosial sebagai indikator internet layak anak. Sebagai mana dilansir dalam AntaraNews, Deputi  Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Lenny N. 

Rosalin mengatakan, salah satu indikator Kabupaten/Kota Layak Anak adalah tidak ada iklan, promosi dan sponsor rokok. Bila masih ada iklan rokok, berarti internet  di Indonesia belum layak anak.

Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, menyatakan keseriusan pemerintah memblokir iklan rokok dikanal-kanal media sosial guna mencegah peningkatan jumlah perokok pemula yang menyasar anak anak. Atas permintaan Kementerian Kesehatan Kominfo telah melakukan crawling. 

Dari hasil Craw itu, Kominfo menemukan 114 kanal dimedia sosial Facebook, Instragram dan Youtube yang jelas melanggar Undang-Undang 36/2009 Pasal 46, ayat (3) butir c tentang promosi rokok yang memperagakan wujud rokok. Saat ini kominfo sedang melakukan proses take down atas akun/konten pada platform-platform diatas.(Tempo.co)

Untuk mewujudkan internet layak anak sesungguhnya tidak cukup hanya dengan meniadakan iklan rokok. Tak dapat dipungkiri banyak konten-konten lainnya yang juga sangat mempengaruhi mental generasi. Kita ketahui media sosial juga sangat ampuh dalam penyebaran konten-konten yang  mengandung pornografi dan pornoaksi. 

Dengan dalih seni dan budaya konten-konten porno banyak bertebaran bertebaran dan begitu mudah diakses. Tontonan di berbagai linimasa justru menjadi tuntunan saat mencapai viral dan bertahan di ruang virtual.  

Parahnya, generasi kita merasa bangga saat mampu menirukan konten-konten tersebut.
Disamping itu, konten negatif  seperti pornografi, dan perilaku menyimpang lainnya juga masuk lewat game online yang banyak dimainkan anak Indonesia. 

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Putu Elvina, mengatakan  konten pornografi memiliki kaitan atau relevansi terhadap perilaku kejahatan seksual pada anak, sekitar 30 persen anak yang menjadi pelaku kejahatan seksual bermuara dari konten-konten yang bernuansa pornografi (Medanheadlinenews).

Media sosial juga banyak menyuguhkan tayangan syirik dan tulisan berbau syirik yang akan merusak akidah muslim. Perdukunan adalah satu praktik kesyirikan yang banyak digandrungi masyarakat. Ramalan zodiak, meramal rezeki seseorang, jodoh, dan peruntungan lainnya menjadi satu perkara yang sangat batil karena sudah melanggar perkara iman kepada yang gaib. 

Kesyirikan yang seharusnya diingkari dan dihilangkan justru menjadi satu ritual budaya yang disiarkan berbagai media. Akhirnya, tidak ada lagi kebencian kepada syirik sebagaimana yang diajarkan oleh agama. Generasi muda dan anak-anak tumbuh dalam keadaan demikian.

Internet layak anak akan sulit diwujudkan selama negara masih mempertahankan sistem sekuler demokrasi yang menjauhkan peran agama dari kehidupan. Demokrasi dengan sekulerisasinya tak mengenal halal haram serta memisahkan agama dari kehidupan. 

Demokrasi dengan ide kebebasan membawa bencana paling mengerikan yang menimpa seluruh umat manusia. Ide ini telah mengakibatkan berbagai malapetaka secara universal, serta memerosotkan harkat dan martabat masyarakat sampai ke derajat yang lebih hina daripada derajat segerombolan binatang

Kebebasan kepemilikan melahirkan para kapitalisme yang menghalalkan segala cara untuk mengejar materi duniawi. Kebebasan ini memberikan hak kepada siapapun yang memiliki harta sekaligus mengembangkannya dengan sarana dan cara apapun tanpa mengenal halal dan haram. 

Alhasil, internet pun tidak luput dari peran para kapitalis yang hanya mengutakan keuntungan semata, tanpa mempertimbangkan halal dan haram. 

Tak heran, banyaknya konten-konten yang bertentangan dengan agama dan moral, bahkan merusak generasi bangsapun tetap ada selama itu menguntungkan para pemilik modal. Dan inilah yang menjadi lahan subur untuk meraup keuntungan walaupun sebenarnya merusak anak dan generasi bangsa.

Kemajuan teknologi bukan berarti bebas nilai. Sudah selayaknya perkembangan teknologi ini diiringi dengan soft skill berupa ketakwaan yang harus ada pada diri individu, adanya kontrol masyarakat terhadap berbagai materi yang disajikan di linimasa, serta pentingnya peran negara dalam menjalankan tugasnya sebagai pengurus urusan rakyatnya.

Negara bukanlah entitas yang lepas dari segala hal yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Sebaliknya justru wajib memperhatikan segala kemaslahatan maupun yang berpotensi menimbulkan mudarat bagi rakyatnya. Sudah selayaknya negara peduli dan menerapkan kebijakan preventif agar mampu mewujudkan internet yang layak bagi anak anak.

Di sisi lain, negara betul-betul menempatkan fungsi media sebagai sarana edukasi tsaqofah keislaman dan menancapkan pemahaman akidah pada rakyatnya. Alhasil, perkembangan teknologi berjalan sebagaimana fungsinya yakni mempermudah transaksi masyarakat tanpa melanggar apa yang telah ditetapkan syariat.[MO/vp]


Posting Komentar