Oleh : Fani Ratu Rahmani 
(Aktivis Dakwah Muslimah)

Mediaoposisi.com-"Millenial Sehat tanpa Narkoba Menuju Indonesia Emas" adalah jargon yang dibuat untuk memperingati Hari Anti Narkotika Internasional tahun ini. Peringatan yang jatuh di setiap tanggal 26 Juni ini kembali mengingatkan negeri ini akan tugas besar yakni memberantas adanya narkoba. 

Berbagai upaya telah ditempuh tapi kasus demi kasus senantiasa muncul bagai jamur di musim hujan. Data pengguna, pengedar, hingga bandar pun terus diperbarui dan belum menunjukkan penurunan signifikan.

Merujuk data BNN pada 2018, prevalensi angka penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar di 13 Ibu Kota Provinsi di Indonesia mencapai angka 3,2 persen atau setara dengan 2,29 juta orang. Sementara pada 2017, BNN mencatat angka prevalensi penyalahgunaan narkotika sebesar 1,77 persen atau setara 3.376.115 orang pada rentang usia 10-59 tahun.

Menurut Heru, Ketua BNN RI, Salah satu kelompok masyarakat yang rawan terpapar penyalahgunaan narkotika adalah generasi milenial, yakni mereka yang berada pada rentang usia 15-35 tahun.

Belum lagi ketika kita telusuri di skala daerah. Provinsi Kalimantan Timur menduduki ranking lima peredaran narkoba tertinggi di Indonesia pada tahun 2018. Ranking ini turun dari sebelumnya menduduki ranking tiga. Tentu kita tidak bisa berpuas diri karna pada faktanya negeri ini masih jadi 'surga' barang haram ini.

Memang benar, lemahnya aqidah kaum muslim mempengaruhi terjerumusnya mereka pada perbuatan yang haram. Menginginkan hidup bebas tanpa aturan adalah esensi dari tujuan hidup yang dirumuskan oleh kehidupan yang sekuler ini.

Tapi persoalan narkoba tidak bisa hanya dilihat dari aspek individual, tapi butuh perspektif bagaimana masyarakat dan juga negara ikut mempengaruhi.

Tidak dipungkiri, masyarakat yang individualistik dan berfikir hanya soal materi juga menumbuh-suburkan peredaran narkoba ini. Tak sedikit para bandar narkoba 'dianggap' pahlawan untuk masyarakat karna soal dana. Walhasil, masyarakat mendiamkan sebuah keharaman dan enggan melakukan amar ma'ruf nahi Munkar.

Lalu, adanya realisasi konsep demand-supply yang juga ditopang oleh sistem ekonomi kapitalisme. Bagi ideologi Kapitalisme, narkoba merupakan komoditas bisnis yang 'layak' untuk diperjualbelikan. Para pelaku bisnis melihat permintaan narkoba di negeri khatulistiwa ini senantiasa meningkat, ini tentu menjadi 'angin segar' bagi jejaring narkoba skala global.

Dan kondisi ekonomi yang sulit turut jadi faktor yang mempengaruhi. Dengan dalih memenuhi kebutuhan hidup, tak sedikit masyarakat yang terjebak pada lingkaran setan dari bisnis barang haram ini.

Tentu benar adanya jika dikatakan pangkalnya terletak pada ideologi yang saat ini diterapkan bagi negeri ini. Diakui atau tidak, negeri ini dijalankan dengan ruh sekuler-liberal yang lahir dari rahim kapitalisme.

Kegagalan demi kegagalan untuk mewujudkan kesejahteraan terus terukir di negeri yang mengadopsi ideologi ini. Alih-alih memberi solusi tuntas terkait narkoba, justru akan terbuka lebar pintu untuk masuknya barang tersebut atas nama kepentingan dan manfaat yang diraih.

Melihat semua ini, kita tentu ingin masalah Ini segera diakhiri. Ketika Islam diterapkan di seluruh aspek kehidupan dalam ranah sistem, sistem Islam memahamkan setiap muslim untuk menyadari Allah sebagai Al Khaliq dan Al mudabbbir, ada kesadaran diri bahwa Allah adalah pencipta  dan pengatur segala sesuatunya. 

Oleh sebab itu, harus ada upaya menanamkan mulai dari level terkecil yakni keluarga hingga negara akan kepatuhan pada syariat Islam sebagai konsekuensi keimanan dirinya kepada Allah.

Kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar dalam sistem Islam adalah sebuah kewajiban. Sikap apatis dan individualis harus ditinggalkan. Masyarakat harus kembali mengambil peranan pentingnya yakni menjadi kontrol sosial dalam kehidupan. Menjalankan amar makruf nahi munkar karna ketaatan kepada Allah ta'ala.

Kemudian hadirnya pemerintah (negara) sebagai pelindung dan pengatur urusan rakyatnya. Ketakwaan individu dan kepedulian masyarakat tidak akan terwujud tanpa ada suport dari negara. Oleh karena itu, peran negara dalam membuat kebijakan-kebijakan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara sangatlah vital. Berbagai keputusan yang dihasilkan akan berpengaruh langsung bagi corak kehidupan.

Syariah Islam yang diterapkan dalam bidang ekonomi mampu menjamin kebutuhan hidup masyarakat. Islam mendorong masyarakat untuk mencari nafkah yang halal. Dan negara berusaha memfasilitasi segala kebutuhan masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan, sebagai bagian dari tanggung jawabnya yang tidak dibebankan pada individu.

Dalam sistem ekonomi islam, tidak diperbolehkan melakukan transaksi perdagangan yang berasal dari zat haram seperti narkoba. Sehingga melalui ini, bisa mengeliminir adanya penyelundupan maupun peredaran barang karna dijaga langsung oleh Negara.

Akan ada bentuk pengawasan terhadap permintaan dan penyediaan barang haram. Hal ini akan ditindak oleh aparat yang diberikan amanah untuk senantiasa menjaga masyarakat. Sebab, syariat Islam kaffah hadir juga untuk menjaga akal manusia.

Dan luar biasanya sistem Islam, aqidah dan sistem ekonomi yang berlandaskan Islam ini disokong dengan sistem sanksi Islam yang akan mencegah (zawajir) penggunaan narkoba terulang kembali. Sanksi yang memberikan efek jera bagi siapapun yang terlibat dalam bisnis haram ini. 

Adanya sanksi ini sebagai ujung dari upaya Islam menjaga masyarakat dari narkoba. Dengan penerapan Islam secara kaffah dalam institusi khilafah Islamiyyah, Indonesia bukan lagi surga narkoba. Wallahu'alam [MO/vp]

Posting Komentar