Oleh Ammylia Rostikasari, S.S. (Aktivis Komunitas Penulis Bela Islam)
Mediaoposisi.com-Lagi lagi GP Ansor membuat ulah. Tak habis-habisnya mempersoalkan kegiatan dakwah Islam kaffah dalam rangka menerapkan syariah dan khilafah. GP Ansor DKI Jakarta seolah menyesalkan tindakan Pemprov yang mengundang Ustadz Felix Siauw untuk mengisi kajian di sana. Namun, Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta mampu menanggapinya dengan bijaksana.
"Kita tertib ikuti peraturan, insyaallah apa yang dikerjakan Korpri jalan sesuai ketentuan yang ada," tutur Anies di Balai Kota DKI, Rabu (26/6/2019) (detik.com 26/6/2019).
Bukan cuma pihak GP Anshar yang berupaya membuat penjegalan terhadap dakwah HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), Menko Polhukam pun kerap melontarkan pernyataan yang tak berdasar terhadap gerakan tersebut. Dengan mengatakan HTI yang memboncengi keruwetan negeri ini, sampai pada nada intimidasi jika penyebar paham khilafah akan dikriminalisasi, dipaksakan kena jeratan hukum.
"Organisasi itu dibubarkan karena pahamnya. Ideologinya, visi-misinya sudah jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila dan NKRI. Kalau individual atau mantan-mantan anggotanya beraktivitas tetapi aktivitasnya masih melanjutkan paham-paham yang anti-Pancasila, anti-NKRI, ya masuk ke ranah hukum. Harus kita hukum," kata Menko Polhukam Wiranto, Jumat (detik.com.19/7/2019).
Selain itu, perlakuan tidak berkenan pun dihadapkan pada Muslimah HTI. Semula dilibatkan dalam agenda pembahasan  konten poster anti kekerasan terhadap perempuan dan anak oleh  Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DPPAPP) Provinsi DKI Jakarta, tetapi pembatalan sepihak pun dilayangkan Jumat (14/6).
"Dikarenakan adanya yang mengkritisi terkait dua organisasi (Muslimah HTI dan Indonesia Tanpa Feminis) yang terundang tersebut. Maka kami membatalkan kegiatan rapat tersebut," kata Plt Kepala Badan Kesbangpol DKI Jakarta Taufan Bakri melalui pesan singkat, Kamis (detik.com/13/6/2019).
Begitulah beberapa perlakuan tak berkenan yang didapati HTI. Upaya sistematis untuk selalu membatasi ruang gerak dakwah dan pembusukan ala rezim begitu garang dilancarkan. Namun, masyaallah hal demikian sama sekali tak menyurutkan langkah dakwah untuk membumikan pentingnya penerapan syariat Islam kaffah dan penegakkan kepemimpinan Islam dalam institusi khilafah.
Hizbut Tahrir sebagai gerakan dakwah politik Islam, tetap gigih berjuang meneladani jejak perjuangan Rasulullah Saw. Gerakan ini kuat, tak mudah “baper" walau hantaman keras didapati bertubi-tubi. Mengapa tetap bertahan? Karena landasan dakwah dan berkurangnya lillahi ta’ala bukan karena mencari muka di hadapan manusia.
Hizbut Tahrir sebagai gerakan dakwah politik transnasional memiliki konsep perjuangan yang jelas. Ide dasarnya ideologis nan cemerlang senantiasa bersandar pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, menjadikan ideologi Islam sebagai kepemimpinan berpikirnya.
Islam dipandang sebagai satu-satunya sebagai aqidah yang shahih dan solusi mendasar dari segala permasalahan yang menimpa kehidupan setiap umat, masyarakat juga negara.
Metode perjuangannya pun teguh kukuh menapaki jejak Rasulullah Saw. Tiada lain adalah dengan berdakwah Islam kaffah tanpa kekerasan dengan melangsungkan kehidupan Islam. Thoriqoh (metode) yang murni tak kenal jalan kompromi dengan sistem demokrasi. Tak mudah dipukul mundur oleh para pemuja sistem kufur. Tak mudah tergiur tawaran tampuk kuasa juga harta yang disodorkan “penjilat” dunia.
Orang-orang yang berada dalam barisan gerakan ini bukanlah manusia yang hanya berbekal semangat saja dalam berjuang. Namun, mereka adalah manusia yang berbekal keyakinan bahwa dakwah dan berjuang merupakan konsekuensi dari keimanan dan ketakwaan kepada Allah Azza Wajalla. 
Tak pandang kedudukan dunia, tak pandang pria atau wanita, juga berkuasa atau jelata. Selama ia adalah seorang Muslim dan meyakini Allah Swt sebagai Sang Pencipta dan Pengatur Kehidupan hamba-Nya. Selama ia meyakini bahwa Muhammad sebagai Rasulullah dan sebagai sebaik-baik teladan dalam kebaikan, selama itu juga dirinya akan terdorong untuk berjuang.
Gerakan ini juga dipersatukan oleh ikatan yang shahih. Bukan ikatan semata organisasi atau ikatan kepentingan yang hadir dalam sistem demokrasi. Ikatan akidah dan tsaqofah (pengetahuan Islam) yang menyatukan erat perjuangan gerakan Hizbut Tahrir. 
Di mana pun mereka berjuang, di mana pun mereka berdakwah. Seruannya sama, ujarannya menyeru agar Islam kaffah diterapkan dalam lini kehidupan.
Memahamkan umat bahwa segala problematika yang menimpa umat manusia karena ketiadaan kepemimpinan Islam yang menjadikan Al Quran dan Sunah sebagai landasan dalam kehidupan. Menyadarkan bahwa sistem selain Islam hanya akan menghantarkan umat manusia pada jurang kesempitan hidup. 
Oleh sebab itu, HTI yang dibuat Malang, tetapi HTI tetap berjuang teguh pada teladan Nabi. Semoga kiprahnya ada dalam perlindungan Allah Subhanahu wata'ala meski banyak manusia berupaya memojokkannya, meski penguasa rezim bertindak semena-mena.
Namun, mereka senantiasa berbaik sangka bahwa pertolongan Allah akan datang bagi orang-orang yakin dalam memperjuangan agama-nya untuk tegak di muka dunia. Begitulah nikmat berjuang. Wallahu’alam bishowab

Posting Komentar