Oleh : Nani Mmbaginawangsasih,SH

Mediaoposisi.com-Dunia perunggasan khususnya ayam, pada sepekan terakhir ini sedang diramaikan dengan permasalahan merosotnya harga ayam di tingkat peternak. 

Hal ini terjadi di beberapa wilayah terutama di pulau jawa, seperti jawa tengan dan jawa barat. Harga terendah hanya Rp.5.000 saja perkilonya.

Sementara biaya produksi mencapai Rp.18.700 per kilonya. Untuk mengurangi resiko kerugian lebih besar, para peternak dengan terpaksa menjual dengan harga sangat rendah.karena ketika dipertahankan sampai menunggu harga stabil dan itu tidak ada kepastian kapan harga akan stabil. 

Bahkan asosiasi peterna ayam dibeberapa wilayah seperti Jogja, solo dll mereka membagi2kan ayamnya ke masyarakat.

Mereka berpendapat bahwa merosotnya harga diakibatkan oleh banyaknya peternakan besar di pulau jawa ini dengan produksi ayam yang besar. Penurunan harga disebabkan produksi ayam yang berlimpah. Seiring dengan tumbuh subur peternakan modern yan melibatkan pemodal besar.  Sementara peternak mandiri di diberbagai wilayah jumlahnya terus merosot. 

Perusahaan multinasional tersebut telah menggandeng peternal lokal untuk membangun peternakan modern dengan kapasitas puluhan ribu ekor, dengan membangun kandang sistem close house. "Kerja sama tersebut berhasil, produksi melimpah, karena sistem close house menekan angka kematian," tambahnya.

Peternakan modern tumbuh subur di di pulau jawa. Sementara kemampuan peternakan mandiri yang dikelalo secara tradisional rata-rata dibawah dibawah 5.000 ekor.  Disisi lain dengan produksi yang melimpah tidak diimbangi dengan pasar yang ada. Kebutuhan daging ayam  pascalebaran ada kecenderungan menurun apalagi menjelang tahun ajaran baru. "Produknya melimpah tapi pasarnya sama bahkan volumenya merosot sejak tiga lebaran ini”.

Disamping itu juga perusahaan peternakan besar ini selain mampu memproduksi ayam dalam skala yang sangat besar, mereka juga memroduksi dari hulu hingga hilir untuk keperluan peternakanya,sehingga mampu mengendalikan harga dipasaran,dan mengakibatkan peternak local yang skalanya kecil menjadi gulung tikar. Terlebih dengan pasar bebas dan semakin meningkatnya penanaman modal asing di Indonesia mengakibatkan perusahaan-perusahaan besar ini seperti jamur dimusim semi yang tumbuh subur. Peternak lokal yang minim modal semakin gulungtikar karena tidak mampu bersaing.

Mekanisme Pasar : Perspektif Islam

Ekonomi Islam memandang bahwa pasar, negara, dan individu berada dalam keseimbangan(iqtishad), tidak boleh adasub-ordinat, sehingga salah satunya menjadi dominan dari yang lain.  Pasar dijamin kebebasannya dalam Islam. 

Pasar bebas menentukan cara-cara produksi dan harga, tidak boleh ada gangguan yang mengakibatkan rusaknya keseimbangan pasar. Namun dalam kenyataannya sulit ditemukan pasar yang berjalan sendiri secara adil(fair).Distorasi pasar tetap sering terjadi, sehingga dapat merugikan para pihak.

Pasar yang dibiarkan berjalan sendiri (laissez faire), tanpa ada yang mengontrol, ternyata telah menyebabkan penguasaan pasar sepihak oleh pemilik modal(capitalist)penguasa infrastruktur dan pemilik informasi.Asymetrikinformasi juga menjadi permasalahan yang tidak bisa diselesaikan oleh pasar. 

Negara dalam Islam mempunyai peran yang sama dengan dengan pasar,   tugasnya  adalah mengatur  dan   mengawasi ekonomi, memastikan kompetisi di pasar berlangsung dengan sempurna, informasi yang merata dan keadilan ekonomi. 

Perannya sebagai pengatur tidak lantas menjadikannya dominan, sebab negara, sekali-kali tidak boleh mengganggu pasar yang berjalan seimbang, perannya hanya diperlukan ketika terjadi distorsi dalam sistem pasar.

Konsep makanisme pasar dalam Islam dapat dirujuk kepada hadits Rasululllah Saw sebagaimana disampaikan oleh Anas RA, sehubungan dengan adanya kenaikan harga-harga barang di kota Madinah. Dengan hadits ini terlihat dengan jelas bahwa Islam jauh lebih dahulu (lebih 1160 tahun)  mengajarkan konsep mekanisme pasar dari pada Adam Smith. Dalam hadits tersebut diriwayatkan sebagai berikut :

Rasululloh SAW. Orang-orang ketika itu mengajukan saran kepada Rasulullah dengan berkata: “ya Rasulullah hendaklah engkau menetukan harga”. Rasulullah SAW. berkata:”Sesungguhnya Allah-lah yang menetukan harga,yang menahan dan melapangkan dan memberi rezeki. Sangat aku harapkan bahwa kelak aku menemui Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntutku tentang kezaliman dalam darah maupun harta.

Inilah teori ekonomi Islam mengenai harga. Rasulullah SAW dalam hadits tersebut tidak menentukan harga. Ini menunjukkan bahwa ketentuan harga itu diserahkan kepada mekanisme pasar yang alamiah impersonal. Rasulullah menolak tawaran itu dan mengatakan bahwa harga di pasar tidak boleh ditetapkan, karena Allah-lah yang menentukannya.

Sungguh menakjubkan, teori Nabi tentang harga dan pasar. Kekaguman ini dikarenakan, ucapan Nabi Saw itu mengandung pengertian bahwa harga pasar itu sesuai dengan kehendak Allah yangsunnatullahatau hukumsupplyanddemand

Menurut pakar ekonomi Islam kontemporer, teori inilah yang diadopsi oleh Bapak Ekonomi Barat, Adam Smith dengan nama teoriinvisible hands.Menurut teori ini, pasar akan diatur oleh tangan-tangan tidak kelihatan (invisible  hands). Bukankah teoriinvisible handsitu lebih tepat dikatakan God Hands(tangan-tangan Allah). 

Oleh karena harga sesuai dengan kekuatan penawaran dan permintaan di pasar, maka harga barang tidak boleh ditetapkan pemerintah, karena ketentuan harga tergantung pada hukumsupply and demand. Namun demikian, ekonomi Islam masih memberikan peluang pada kondisi tertentu untuk melalukan intervensi harga (price intervention) bila para pedagang melakukan monopoli dan kecurangan yang menekan dan merugikan konsumen.

Di masa Khulafaur Rasyidin, para khalifah pernah melakukan intrevensi pasar, baik pada sisisupply maupun demand.Intrevensi pasar yang dilakukan Khulafaur Rasyidin sisisupply ialah mengatur jumlah barang yang ditawarkan seperti yang dilakukan Umar bin Khattab ketika mengimpor gandum dari Mesir untuk mengendalikan harga gandum di Madinah.

Sedang intervensi dari sisidemand dilakukan dengan menanamkan sikap sederhana dan menjauhkan diri dari sifat konsumerisme.Intervensi pasar juga dilakukan dengan pengawasan pasar(hisbah)

Dalam pengawasan pasar ini Rasulullah menunjuk Said bin Said Ibnul ‘Ash sebagai kepala pusat pasar (muhtasib) di pasar Mekkah. Penjelasan secara luas tentang peranan wilayah hisbah ini akan dikemukakan belakangan.

Dengan ini jelaslah Negara sebagai pengawas harus mampu meriayah umatnya,terlebih dalam permasalahan-permasalahan yang terjadi harus segera mengatasi supaya keseimbangan dan kesinambungan kehidupan tetap terjaga sehingga tercapai keberkana dunia dan akhirat.


Posting Komentar