oleh: Marhamah
Aktivis Muslimah di Banda Aceh

Mediaoposisi.com-Terpidana kasus pelecehan seksual yang juga mantan guru Jakarta Internasional School (JIS) Neil Bantleman telah bebas atas pemberian grasi oleh presiden Jokowi . Neil ditahan di Lembaga Permasyarakatan Kelas 1 Cipinang, Jakarta Timur.
"Sudah bebas dari Lapas kelas 1 Cipinang tanggal 21 Juni 2019," kata Kabag Humas Ditjen Permasyarakatan Ade Kusmanto saat dikonfirmasi Kompas.com, Jumat (12/7/2019).
Orang tua korban dugaan pelecehan seksual oleh Guru Jakarta International School (Kini Jakarta Intercultural School/JIS) mempertanyakan pemberian grasi terhadap warga Kanada, yang juga guru JIS Neil Bantleman. CNNIndonesia.com

Grasi yang diberikan  presiden Jokowi kepada Neil dari 11 tahun penjara menjadi 5 tahun 1 bulan serta denda sebesar Rp.100 juta.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyesalkan kebijakan Presiden Jokowi memberikan grasi kepada warga Kanada, Neil Bantleman, terpidana kasus pelecehan seksual siswa Jakarta Internasional School kini Jakarta Intercultural School (JIS). Jakarta, CNN Indonesia
Anggota KPAI Putu Elvina mengatakan grasi Jokowi menjadi lembaran hitam terhadap upaya perlindungan anak di Indonesia pemberian grasi kepada terpidana kasus pelecehan seksual tentu bertolak belakang dengan upaya pemerintah melakukan perlindungan anak-anak dari kekerasan seksual.
Menurutnya, sebelum memberikan grasi seharusnya Jokowi mempertimbangkan nasib korban kekerasan seksual.
Memang grasi adalah salah satu hak presiden yang diatur dalam undang-undang, namun sangat disayangkan grasi tersebut diberikan kepada seorang pedofillia, bukankah ini akan menimbulkan sebuah ancaman di masa depan?
Ketika seorang pedofilia diberikan grasi ini akan membuat para pelaku fedofillia akan semakin merajalela dalam melakukan aksinya terhadap anak-anak sehinnga orang tua akan selalu was-was ketika anaknya berada dalam didikan guru.
Pemberian grasi oleh presiden Jokowi menggambarkan  buruknya penerapan hukum di negara ini, mengapa harus diberikan kepada seorang pedofil yang betul-betul sudah masuk ke dalam kejahatan yang sangat besar serta ancaman besar bagi generasi bangsa.
Mengapa tidak diberikan kepada mereka yang layak seperti ustad Abu Bakar Ba’asyir, nenek pencuri beras, nenek pencuri coklat serta kepada yang lainnya.
Inilah realita hukum dalam demokrasi yang bisa dipermainkan dan diubah sesuai kondisi serta keinginan para penguasa.
Seharusnya kekuasaan yang dimiliki oleh seorang muslim yang diberi amanah untuk memimpin menerapkan hukum-hukum Allah swt bukan mengikuti hukum buatan manusia apalagi hukum yang berasal dari orang-orang kafir yang benar-benar ingin merusak generasi bangsa ini. 
Pemimpin dalam islam yang disebut khalifah bertugas layaknya perisai yang benar-benar akan memberikan perlindungan, keamanan, keadilan, kesejahteraan kepada seluruh rakyatnya baik muslim maupun non muslim yang berada dalam kepemimpinan khalifah dengan aturan islam, dengan demikian khalifah akan memastikan generasi muslim maupun non muslim akan dilindungi dari segala hal yang merusak seperti pedofil.
Syariah Islam telah menetapkan hukuman bagi para pelaku pedofil sesuai dengan fakta dan penjelasannya sehingga tidak boleh diberlakukan jenis hukuman di luar ketentuan dari syariah Islam.
Terkait perbuatan zina dalam Islam diberlakukan hukuman rajam bagi yang muhshan atau yang sudah menikah, lakukan cambuk sebanyak seratus kali bagi yang bukan muhshan, kemudian sodomi yang dilakukan oleh seseorang maka hukuman yang diberikan adalah hukuman mati bagi pelaku bukan hukuman yang lain yang dibuat oleh manusia dan jika pelecehan seksual yang dilakukan oleh seseorang yang tidak sampai pada zina maka hukumannya ta’zir yang diberikan oleh khalifah.
Inilah solusi praktis yang diberikan oleh negara Islam dengan sistem khilafah, adapun dalam keluarga dan masyarakat memastikan dalam kondisi ketaatan sehingga orang akan malu untuk melaksanakan kemaksiatan, maka hukum siapa yang lebih baik dari pada hukum dari Allah sebagai sang pencipta. 
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi oang-orang yang yakin?.” (QS. Al Maidah: 50). [MO/sg]


Posting Komentar