Oleh :  Halimah
Kasus perdagangan manusia di Indonesia akan terus terjadi dan bahaya terus mengancam remaja putri kita bila kapitalisme masih menjadi pijakan dalam menentukan kebijakan dan aturan. Pola pikir remaja-remaja kita dan gaya hidup bebas serta konsumtif (Hedonisme) menjadikan mereka menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuanya.

Mediaoposisi.com-Seperti yang dilansir VOA Indonesia (24/6) Dua puluh sembilan perempuan warga negara Indonesia dinikahkan dengan orang China namun dipaksa bekerja tanpa upah. Mereka diduga menjadi korban perdagangan orang yang melibatkan sindikat China dan Indonesia. 

Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) mencatat ada 29 perempuan jadi korban pengantin pesanan di China selama 2016-2019. Para perempuan ini berasal dari Jawa Barat (16 orang) dan Kalimantan Barat (13 orang). Mereka dikenalkan dengan lelaki di China lewat mak comblang atau pencari jodoh. 
Dilansir VOA Indonesia (24/6).

Sungguh sedih dan miris melihat fakta-fakta yang terungkap tersebut.

Permasalahan perdagangan manusia saat ini seperti fenomena gunung es yang belum menemukan solusi namun dampaknya sudah sangat meluas dan mengkhawatirkan. Lalu pertanyaannya mengapa hal ini bisa terjadi? 

Dan mengapa para korban berdalih bahwa mereka mudah tergiur oleh iming-iming harta karena alasan ekonomi sehingga rela mengorbankan jiwa dan keselamatan mereka sendiri?

Fakta ini menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah dalam dan luar negeri terutama negara-negara yang termasuk dalam permasalahan perdagangan orang ini tidak mampu memberikan jaminan kesejahteraan dan keamanan bagi rakyatnya. 

Masalah ini muncul karena kondisi carut marutnya pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang tidak berdampak pada kesejahteraan rakyatnya. Selain itu sistem kapitalisme yang membawa pengaruh besar bagi pola pikir masyarakat Indonesia yang membawa mereka kepada pola hidup hedonisme, sehingga menyebabkan mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan materi demi kesenangan dunia.  

Pada akhirnya masalah seperti ini akan terus melebar kepada permasalahan yang lain salah satunya maraknya perdagangan orang ini. 

Sudah saatnya kita sebagai rakyat terutama perempuan yang peduli pada masa depan anak cucu kita untuk bangkit dan memahamkan umat agar kembali kepada syariat Allah sebagai aturan hidup serta menjadikan Islam sebagai ideologi dalam setiap tingkah laku kita, sehingga segala perbuatan kita harus sesuai dengan hukum syara'. 

Ketika semua itu dijalankan atas dasar mencari ridho Allah, maka pikiran kita akan jauh dari sikap diperbudak hawa nafsu, Hedonisme dan Wahn.

Seharusnya di sini pemerintah berperan aktif dalam memberikan jaminan kesejahteraan kepada rakyatnya dan ikut memahamkan umat agar tidak mudah tergoda oleh jebakan perdagangan orang yang justru akan berdampak buruk bagi citra suatu bangsa dan sangat merugikan rakyatnya.

Satu-satunya jalan menuju perubahan yang sempurna dan hakiki untuk melindungi diri dan anak cucu kita dari sindikat perdagangan manusia adalah hadirnya negara sebagai perisai (pelindung) bagi rakyatnya.

Hal ini dapat terwujud ketika negara menerapkan hukum Allah dalam segala aspek kehidupan untuk menentukan kebijakannya, dan hanya Islamlah yang memiliki aturan yang jelas dan rinci mengenai pengaturan hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia lainnya dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri.  Sehingga kasus perdagangan manusia seperti ini tidak akan terjadi lagi jika negara hadir dengan menerapkan Islam secara kaffah. Wallahu'alam [MO/vp]

Posting Komentar