Hasil gambar untuk bobroknya kapitalisme


Oleh : Dina Evalina



Mediaoposisi.com-Indonesia dikenal sebagai zamrud khatulistiwa karena kekayaan alam dengan segala keanekaragaman di dalamnya. Sayangnya, dengan Kekayaan Alam yang melimpah ruah tak menjadikan negeri ini maju, mandiri dan unggul di mata Dunia.
Justru sebaliknya negeri ini diselimuti dengan  keterpurukan yang semakin parah disegala aspek kehidupan. Tingkat kemiskinan yang tidak dapat  ditekan, sebanyak 25,14 juta orang di Indonesia berada di garis kemiskinan.
Sulitnya mencari lapangan pekerjaan masih dirasakan oleh sebagian besar masyarakat negeri ini sehingga jumlah pengangguran terus meningkat, ditambah dengan hutang Indonesia yang setiap tahunnya terus meroket.
Pada akhir Mei 2017 lalu, jumlah total hutang luar negeri Indonesia mencapai Rp 3.672,33 triliun. Jumlah hutang luar negeri RI meningkat hingga Rp 1.067,4 triliun sejak awal pemerintahan Presiden Joko Widodo pada 2014 hingga Mei 2017.
Sementara pada tahun 2018 Bank Indonesia mencatat Hutang Luar Negeri Indonesia pada kuartal I 2018 naik 8,7 persen mencapai US$ 387,5 Miliar atau sekitar Rp 5.425 triliun. Kemudian di tahun 2019 tercatat Hutang luar negeri Indonesia sebesar 389,3 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 5.528 triliun (kurs Rp 14.200 per dollar AS).
Negeri ini juga mengalami defisit anggaran hingga akhir Mei 2019 tercatat Rp 127,5 triliun. Yang mana, membuat Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun was-was karena belum tahu secara pasti mengenai arah perekonomian.
Defisit anggaran terjadi dikarenakan realisasi pendapatan negara lebih rendah dibandingkan dengan belanja negara. Pada akhir Mei 2019, realisasi pendapatan negara Rp 728,4 triliun, sedangkan belanja negara Rp 855,9 triliun. Sehingga defisit anggaran sebesar Rp 127,5 triliun atau 0,7 %dari produk domestik bruto (PDB).
Namun, dengan kondisi perekonomian yang genting tak menyurutkan langkah Pemerintah untuk terus meningkatkan pembangunan-pembangunan infrastruktur yang sejatinya tak memberikan manfaat yang signifikan terhadap kesejahteraan rakyat.
Bahkan rakyat harus membayar sejumlah uang untuk menikmati manfaat infrastruktur yang dibangun. Pembangunan-pembangunan infrastruktur yang dilakukan di tengah perekonomian yang mengkhawatirkan adalah langkah yang tidak tepat. Sehingga pemerintah memperoleh dana untuk pembangunan dari hutang yang diberikan oleh berbagai negara besar di dunia. 
Sumber pemasukan terbesar negeri ini salah satunya dari hutang seperti dilansir dalam Kompas.com, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza adityaswara mengatakan Indonesia masih butuh Hutang Luar Negeri. Pasalnya, Hutang Luar Negeri  Indonesia menjadi sumber pembiayaan terbesar kedua pada perekonomian setelah kredit bank umum.
" Jadi bisa enggak negara ini hidup tanpa Hutang Luar Negeri ? Indonesia memang masih membutuhkan Hutang Luar Negeri, tapi Hutang Luar Negeri ini mesti dikelola secara hati-hati," ungkap Mirza Adityaswara dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (23/7/2019). 
Selain hutang luar negeri, bertengger di posisi pertama sumber pemasukan Indonesia diperoleh dari pajak. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat pendapatan negara  hingga akhir April 2019 sebesar Rp 530,7 triliun atau 24,51 persen dari target APBN 2019 sebesar Rp 2.165,1 triliun.
Pejabat Bendahara ini merincikan penerimaan negara itu berasal dari penerimaan perpajakan yang tembus mencapai Rp 436,4 triliun hingga akhir April 2019, atau sudah mencapai 24,43 persen dari target APBN. Dimana, pendapatan berasal dari perpajakan terdiri dari Pajak Penghasilan (PPh) migas mencapai Rp 387 triliun. Sementara pendapatan dari cukai tercatat sebesar Rp 49,4 triliun.
Hutang dan pajak memiliki korelasi yang kuat, hal ini dikarenakan Indonesia yang memiliki kekayaan alam melimpah yang seharusnya menjadi pemasukan negara, tetapi sebagian besar kekayaan alam tersebut dikelola oleh para investor sehingga Indonesia hanya mendapatkan keuntungan yang kecil dari hasil pengelolaan tersebut.
Dengan kondisi demikian negara telah kehilangan pos pemasukan yang besar maka meningkatkan tarif pajak dan memunculkan jenis-jenis pajak lainnya adalah langkah yang akan diambil pemerintah sebagai sebuah solusi atas permasalahan ekonomi Indonesia.
Semua itu menegaskan bahwa Sistem Kapitalisme Neoliberalisme masih menjadi urat nadi di negeri ini. Sistem yang begitu mengagungkan kebebasan ini merupakan anak kandung dari pemahaman yang rusak, yang meniadakan peran Tuhan dalam mengatur seluruh  sendi kehidupan.
Suatu hal yang biasa dalam Sistem Kapitalisme Neoliberalisme memberikan kebebasan kepada para pemilik modal untuk menanamkan investasinya mengelola Kekayaan Alam Indonesia meskipun harus mengorbankan kesejahteraan rakyat yang sejatinya adalah pemilik Kekayaan Alam tersebut. 
Selain merampas kekayaan Alam suatu negeri, jerat hutang merupakan bagian dari strategi politik yang telah dimainkan oleh negara pengusung ideologi sekuler kapitalis seperti Amerika Serikat.
Bertujuan untuk terus mencengkeram dan menancapkan ideologinya terhadap negara-negara jajahan, ia akan menjadikan negara jajahan sebagai negara pengekor untuk semakin mengokohkan ideologi yang diembannya, dengan hal itu akan memuluskan hasratnya untuk bertahan di posisi sebagai negara adidaya.
Merampok kekayaan alam suatu negara kemudian hadir bagaikan pahlawan yang menjanjikan untuk memberikan kehidupan yang lebih baik, dengan manisnya  memberikan hutang sebanyak-banyaknya. 
 Dari hutang yang diberikan akan semakin memudahkan pihak luar mengintervensi berbagai kebijakan sebuah negara.
Dari hutang pulalah tak tercapai cita-cita sebuah negara untuk menjadi negara yang maju, mandiri dan unggul. Yang ada kesuksesan itu berada digenggaman negara adidaya karena berhasil  meneguhkan kekuasaannya dengan mempertahankan ideologinya hidup di berbagai negara yang tunduk dengannya.
Maka, semakin menumpuk hutang yang diambil dari negara berideologi sekuler kapitalis, pada hakikatnya juga semakin menjerumuskan negeri ini ke lingkaran permainan mereka yang mana setiap negara yang masuk dalam lingkaran permainan ini hanya akan mendapatkan kesengsaraan dan keterpurukan yang terus menerus.
Dan rakyatlah yang paling merasakan buah dari permainan memabukkan dan menyesatkan. Hingga detik ini rakyat selalu diikutsertakan membantu membayar hutang negara dengan mekanisme pajak. Maka ini menjadi tanda detik-detik kehancuran suatu negara sudah tidak lama lagi.
Menurut Ibnu Khaldun "Tanda-tanda sebuah pemerintahan (negara) akan hancur maka akan semakin bertambah besarnya pajak yang dipungut".
Sistem Kapitalisme Neoliberalisme layak untuk dicampakkan kemudian diganti dengan Sistem yang benar, sistem yang mampu memberikan solusi atas permasalahan yang melanda negeri ini. Memiliki seperangkat aturan yang komprehensif yang mampu menjawab tantangan zaman untuk mewujudkan negara yang maju, berdaulat, unggul dan mampu bersaing dengan negara lainya.
Hanya Sistem Islam yang telah terbukti dapat mewujudkan itu semua. Sebuah negara yang  disebut Khilafah telah menerapkan sistem Islam selama lebih dari 13 abad lamanya. Khilafah berhasil memberikan kesejahteraan, kemakmuran, keadilan, keamanan kepada seluruh rakyatnya.
Dengan hadirnya seorang pemimpin yang menerapkan seluruh hukum-hukum Islam, menjadi sebaik-baiknya pelayan rakyat, berada diposisi rakyat akan mencegah para investor untuk mengelola kekayaan alam yang menjadi milik umat.
Negara akan mengelola Kekayaan Alam tersebut dan sebagai salah satu pos pemasukan negara yang hasilnya nanti dikembalikan kepada rakyat.
Dalam Sistem Islam, negara tidak harus memungut pajak kepada rakyat kecuali hanya pada saat kas negara kosong dan disaat yang bersamaan negara memerlukan dana untuk membiayai suatu keperluan yang mendesak seperti misalnya untuk membiayai perang, membeli perlengkapan perang dan lain sebagainya. 
Terlebih, negara akan meninggalkan hutang yang berbasis riba yang diberikan oleh berbagai negara terkhusus dari negara kafir harbi yang secara terang-terangan memusuhi kaum Muslimin.
Dengan ini harusnya membuat kita sadar mengharapkan kehidupan yang sejahtera di alam kapitalisme adalah sebuah ilusi yang tak akan terwujud, seperti dalam ungkapan 'bagai pungguk merindukan bulan'. [MO/sg]

Posting Komentar