Oleh : Indi Lestari

Mediaoposisi.com-Polemik kehidupan di layar kaca kembali menuai kontropersi,  film bergenre remaja "Dua Garis Biru" karya sutradara Ginatri S Noer mengisahkan sepasang remaja yang melampaui batas dalam berpacaran sehingga berujung pada pernikahan usia dini. 

Hingga menggambarkan pernikahan di usia muda bisa merusak masa depan dan memupuskan berbagai cita-cita. Kemunculan Trailernya Film ini menuai pro dan kontra, petisi pun muncul yang digagas oleh Gerakan Profesinalisme Mahasiswa Keguruan Indonesia (Garagaraguru) 

"Beberapa scene di trailer menunjukkan proses pacaran sepasang remaja yang melampaui batas, terlebih ketika menunjukkan adegan berduaan di dalam kamar yang menjadi rutinitas mereka. Scene tersebut tentu tidak layak dipertontonkan pada generasi muda, penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa tontonan dapat mempengaruhi manusia untuk meniru dari apa yang telah ditonton,"

Mereka juga berpendapat "Segala tontonan yang menjerumuskan generasi kepada perilaku amoral sudah sepatutnya dilawan (bukan tentang film Dua Garis Biru, melainkan film secara umum), karena kunci pembangunan negara ada pada manusianya. Mustahil apabila kita ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045, namun generasi muda masih sering disuguhkan tontonan yang menjerumuskan kepada perilaku amoral." (m.detik.com)

Di pihak yang berbeda justru film ini mendapatkan apresiasi yang cukup baik, "Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Dwi Listyawardani mengatakan bahwa film tersebut bisa menjadi edukasi kesehatan reproduksi kepada remaja yang menontonnya.

Bahkan dilanjutkan dengan statementnya bahwa "menyampaikan sosialisasi mengenai kesehatan reproduksi, perencanaan kehidupan, dan nilai-nilai lain kepada remaja memang lebih tepat dengan menggunakan media film, penyajiannya memang harus seperti ini, dalam bentuk ceramah orang nggak akan dengar, tapi dengan film seperti ini bisa tersampaikan. (Pemilu.antaranews.com)

Lantas bagaimana kelanjutannya?

Fakta kembali menohok meskipun petisi tersebut telah ditanda tangani oleh 158 orang (m.detik.com), seperti angin yang berlalu akhirnya pada tanggal 11 Juli 2019 film ini resmi tayang di bioskop-bioskop kesayangan masyarakat indonesia.

Inilah sistem Liberal yang bercongkol di negeri ini yang mengagungkan kebebasan, membuktikan bahwa pembuatan film dapat bernilai bisnis yang menguntungkan selama ada yang berminat dan menjanjikan keuntungan maka sebanyak apapun petisi yang diajukan, film akan tetap dibuat tentu dengan judul dan trailer yang menjual.  Kembali membuktikan bahwa rezim saat ini tidak berdaya mengendalikan arus Liberalisasi yang menghancurkan generasi, salah satunya melalui film.

Sebelum ada film ini pun di lingkungan kita sudah terbukti garis-garis biru yang tidak diinginkan, lantas sekarang dipertontonkan, apakah ada jaminan jika para remaja bisa menangkap maksud edukasi sex yang digandangkan atau justru bumbu-bumbu film yang akan lebih melekat diingatan mereka. 

Dan apakah ada jaminan jika semua remaja yang nonton didampingi orangtuanya. Oleh karena itu penyebab utamanya adalah penerapan sistem kapitalis sekuler dan standar baik buruknya adalah standar manusia bukan lagi halal atau haram suatu perkara.

Sesungguhnya apabila mencari solusi atas berbagai permasalahan yang menimpa negeri ini termasuk masalah remaja. Tidak ada cara lain selain kembali kepada hukum Allah. Karena hanya islam yang mampu mencabut masalah sampai keakar-akarnya,  Islam mampu memadukan pembinaan generasi mulai dari individu, keluarga, pendidikan juga media melalui payung negara. 

Negara wajib memastikan keluarga muslim memiliki fondasi keimanan dan ketaqwaan yang kuat, melalui sistem pendidikan Islam yang memiliki kurikulum dengan asas akidah Islam yang pastinya berkontribusi besar dalam membentuk kepribadian Islam para generasi. 

Selain itu, Media Massa dalam Islampun diatur dengan menyelaraskan pembinaan generasi sesuai dengan tujuannnya, karena tujuan media dalam Islam ialah untuk membuat opini publik dalam masyarakat hingga bertransformasi menjadi opini umum di tengah-tengah mereka. 

Yang mana di dalam negeri membangun masyarakat Islami, sedangkan diluar negeri massif mendakwahkan dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia.

Maka sudah saatnya kita kembali kepada Syariat Islam yang merupakan hukum-hukum yang berasal dari wahyu Allah SWT. Allah Al-Khalik sang pencipta, sudah pasti punya aturan untuk keberlangsungan mahkluknya. Karena dengan pemikiran perasaan, dan peraturan islamlah yang akan menghasilkan perubahan yang hakiki. Wallahualam bishawab [MO/vp]

Posting Komentar