Oleh: Dita Puspitasari 
(komunitas Setajam Pena)


Mediaoposisi.com-Dunia perfilman Indonesia nampaknya semakin menggeliat. Ini ditandai dengan beragamnya genre film dan karya yang diciptakan. Ditambah lagi film merupakan komoditas yang selalu diincar dan diminati.
Genre remaja pun tak pernah tertingggal untuk ditayangkan. Jika sebelumnya sempat viral dengan film Dilan 1990 yang disutradarai oleh Pidi Baiq. Maka sekarang ini yang menjadi topic perbincangan untuk pecinta film adalah “Dua Garis Biru”. 
Film yang berjudul “Dua Garis Biru” yang diperankan dua artis belia dan memiliki penggemar tersendiri ini menceritakan tentang dua muda mudi yang masih duduk dibangku SMA. Diawali dengan pertemanan, hubungan mereka kian dekat hingga akhirnya melanggar batas sampai dua garis biru itu meminta pertanggungjawaban dari mereka dan mengubah hubungan mereka seketika. 
Film yang baru tayang di bioskop ini sangat menggambarkan nilai-nilai yang ingin ditanamkan dalam program remaja di Badan Kependudukan dan Keluarga Nasional (BKKBN). Deputi bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Dwi Listyawardani mengatakan bahwa film tersebut bisa menjadi edukasi kesehatan reproduksi kepada remaja yang menontonnya. 
Menurut dia, menyampaikan sosialisasi menganai kesehatan reproduksi, perencanaan kehidupan dan nilai-nilai lain kepada remaja memang lebih tepat dengan menggunakan media film. Dwi pun mengatakan BKKBN akan membawa film Dua Garis Biru sebagai sosialisasi program agar bisa ditonton oleh remaja di seluruh provinsi.
Menuai Pro-Kontra 
Munculnya film ini pun banyak menuai pro dan kontra dari masyarakat. Belum selesai polemic “Kucumbu Tubuh Indahku” yang diboikot oleh pemerintah kota, kini muncul petisi untuk film Dua Garis Biru ini yang tayang di bioskop. 
“Beberapa scene di trailer meununjukkan proses pacaran sepasang remaja yang melampaui batas kwajaran, terlebih ketika meunnjukkan adegan berduaan di dalam kamar yang menjadi rutinitas mereka.
Scene tersebut tentu tidak layak dipertontonkan pada generasi muda, penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa tontonan dapat mempengaruhi manusia untuk meniru dari apa yang telah ditonton,” isi di dalam petisi. (detikHOT.com, 1/5/2019).
Apa yang digambarkan di film ini merupakan gambaran yang nyata terjadi sekarang ini. Kehidupan remaja yang terbelenggu dengan liberalism yang memeberikan kebebasan bergaul tanpa ada batasan antara laki-laki dan perempuan. Namun benarkah sex education harus dengan tontonan atau gambar? 
Karena jika dilihat justru film ini mengandung propaganda liberalism, dimana menjadi hal yang lumrah jika seorang wanita dan laki-laki yang bukan mahrom menjalin hubungan haram pacaran, ikhtilat hingga zina. Bukankah tontonan akan membuat para remaja berpikir melakukan seks sehat dengan pasangan agar tidak hamil. 
Propaganda yang dibuat olah kaum kafir memiliki tujuan untuk melemahkan generasi remaja muslim. Dengan begitu mereka akan mudah menaklukkan dan menguasai sumber daya kaum muslim dan menancapkan hegemoni mereka. Sehingga yang terjadi adalah generasi akan rusak, padahal ditangan mereka lah estafet kepemimpinan akan berlanjut. 
Sex Education kacamata islam 
Pahamkan mereka dalam hal pergaulan sehat ala Rasulullah yang takut akan azab Allah sehingga menghindari khalwat (berdua-duaan), ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram), lalu menjadikan sifat malu sebagai perisai diri, menutup aurat, ghadzul bashar, dan rasa takut kepada Allah dalam kondisi sendiri atau di tempat umum.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya : 
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Q. S. An Nur 30
Agar terbentuk kepribadian Islam (syakhsiyyah Islam) pada remaja Muslim sehingga mereka akan tumbuh menjadi generasi tangguh, cerdas, bertanggung jawab dan tak lebay.
Film dalam sistem islam dalam rangka dakwah dan edukasi bagi rakyat dan negara mempunyai peran utama dalam mengendalikan film. Dalam hal ini, perlu adanya perhatian dan kesadaran para orang tua,  kontrol masyarakat dan peran negara dalam menerapkan aturan Allah dan mencegah sumber maksiat salah satunya seperti film-film yang merusak, agar tidak tayang di negeri Muslim.[MO/sg]

Posting Komentar