Oleh: Faizah Azzahro

Mediaoposisi.com-Impor yang dilakukan Indonesia rupanya tak hanya dibidang pengadaan barang saja. Setelah impor tenaga kerja asing yang sempat ramai penolakan beberapa waktu yang lalu, kini masyarakat dibuat was-was dengan adanya wacana tentang impor dosen asing  terutama di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang telah memiliki aturan khusus bahkan oleh pemerintah telah dianggarkan dana insentif sebagai daya tarik (www.m.detik.com, 10 -06-2019).

Pemerintah juga akan mempertimbangkan besaran pajak yang akan ditarik dari dosen asing, agar ke depannya tidak memberatkan. Singkatnya, pengajar asing mendapatkan kemudahan dan layanan yang istimewa.

Kekhawatiran masyarakat terutama kalangan umat Islam sangat beralasan. Pasalnya dengan masuknya tenaga pengajar asing ke Indonesia berisiko menjadi pintu masuk dan menyebarnya paham-paham Barat yang tidak hanya bertentangan dengan budaya ketimuran, namun juga tidak sesuai syariat islam. 

Melalui sejarah, umat Islam telah sadar bahwa pendidikan oleh Barat berhasil menanamkan nilai-nilai yang sarat dengan kepentingan penjajahan hingga akhirnya sistem demokrasi sekuler yang menjadi alat penjajahan itu sendiri, berhasil diadopsi di negeri ini melalui tangan tokoh-tokoh bangsa yang pernah mengenyam pendidikan ala Barat.

Perparah Sekulerisasi-Liberalisasi

Ideologi Barat dan turunannya yang berbahaya seperti sekulerisme, liberalisme, kapitalisme, hedonisme, dan materialism, justru menjadi paham yang merusak SDM dan peradaban Indonesia di masa depan. Lihat saja, kerusakan yang terjadi di negeri asalnya sudah sedemikian parah dan kompleksnya akibat ideologi yang diadopsi Barat.  

Kini, bangsa Indonesia, sedikit demi sedikit juga merasakan dampak kerusakan yang ditimbulkan ideologi tersebut. Apalagi jika ditambah dengan memfasilitasi pengajar asing agar leluasa mentransfer nilai-nilai Barat ke dalam negeri, tentu kerusakan yang terjadi akan lebih parah dan meluas.

Dengan mengimpor pengajar asing berikut ideologi Baratnya, Indonesia akan semakin mudah masuk ke dalam perangkap penjajahan ala kapitalisme. Sebab, arah pendidikan sekuleristik yang dibangun hanya mengabdi kepada kepentingan hegemoni kapitalisme global. 

Tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum, sudah jelas akan sulit bahkan mustahil diwujudkan. Bagaimana bisa terwujud, jika pendidikannya sudah di-setting untuk kepentingan kapitalis global dan rezimnya saja sudah berparadigma sekuler, kapitalistik, dan neolib? Sempurna sudah bibit kerusakan yang ditanamkan pada bangsa ini.

Pendidikan Berparadigma Isam Pilar Peradaban Cemerlang

Di tengah kerusakan generasi yang sudah sedemikian kompleks dan merajalela, para tokoh bangsa dan umat Islam khususnya, sudah saatnya menyadari bahaya ideologi Barat dan turunannya, serta bersegera memikirkan penyelamatan generasi dan bangsa secara keseluruhan. 

Sebagai pilar tegaknya peradaban, sektor pendidikan memiliki urgensi tinggi untuk dilakukan perubahan secara sistemik dan paradigmatis. Paradigma pendidikan yang benar akan membawa sebuah peradaban kepada keagungan dan kemuliaannya. 

Tidak hanya agung di hadapan Sang Pencipta, namun juga mulia di mata makhluk alam semesta. Penyelenggaraan pendidikan wajib menanamkan visi benar dan visi besar kepada generasi yang akan mengemban peradaban cemerlang. 

Pendidikan yang bervisi benar, menanamkan nilai-nilai kehidupan yang paling asasi, yakni jawaban atas tiga pertanyaan besar tentang hidup (uqdatul qubro).  Visi yang benar ini akan mengantarkan manusia pada pemahaman yang tepat tentang hakikat kehidupan sehingga durasi hidup di dunia yang begitu singkat ini, tidak akan disia-siakan apalagi diisi dengan kerusakan. 

Visi pendidikan yang benar ini sekaligus mengarahkan manusia pada visi besar yakni pemahaman bahwa hidup ini harus dijalankan dengan aturan shahih yang dapat mendatangkan maslahat atau rahmat bagi seluruh alam semesta, bukan sebaliknya yakni menimbulkan kerusakan dan kekacauan di muka bumi sebagaimana yang ditimbulkan ideologi sekuler.

Paradigma yang memiliki visi benar sekailgus bervisi besar hanya bisa kita temukan jika pendidikan dibangun dengan landasan ideologi Islam. Ideologi Islam sudah mendapatkan jaminan kesejahteraan di dunia dan keselamatan di akhirat, dengan syarat jika ideologi tersebut diterapkan secara kaffah (sempurna) di berbagai lini kehidupan. 

Jadi, tidak hanya aspek pendidikan saja yang diatur dengan Islam, namun aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, dan sebagainya juga harus terintegrasi dalam sistem Islam.

bertujuan untuk mengabdi kepada Allah SWT sebagai bentuk ibadah. Sumber daya manusia dibina dengan nilai-nilai kehidupan yang bervisi benar dan besar. [MO/vp]


Posting Komentar