Oleh : Risnawati, STP 
(Staf Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kolaka)

Mediaoposisi.com-Presiden Joko Widodo menanggapi beberapa kampus yang terindikasi terpapar radikalisme. Jokowi menyampaikan saat ini pemerintah terus melakukan deradikalisasi untuk menanggulangi paham radikalisme yang semakin meluas.

"Memang radikalisme ini tidak muncul tiba-tiba. Ini sudah proses yang lama dan tidak mendadak datang," kata Jokowi di Desa Majasari, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, seperti dikutip dari rilis Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Kamis (7/6).

Jokowi menjelaskan proses-proses untuk deradikalisasi sudah digerakkan oleh pemerintah misalnya di BNPT. BNPT untuk pencegahan atau tindakan kemudian juga di Polri dan TNI.

Namun Jokowi berharap bahwa proses deradikalisasi yang saat ini digerakkan pemerintah tidak hanya berjalan sendirian. Menurutnya, keterlibatan berbagai elemen masyarakat dan organisasi keagamaan juga penting sebagai upaya pencegahan sejak dini.

"Misalnya Majelis Ulama Indonesia juga ikut berperan, kemudian Nahdlatul Ulama juga ikut berperan, dan Muhammadiyah juga kita ajak berperan bersama," lanjut dia.

"Memang kalau melihat data yang terpapar itu angkanya sudah sangat mengkhawatirkan. Ini yang terus akan kita kerjakan," ucap Jokowi.

Jokowi lalu menyatakan saat ini sedang dilakukan kajian oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mengenai perlu atau tidaknya regulasi yang secara khusus mengatur soal radikalisme di lingkungan kampus ini.

"Baru dalam proses kajian oleh Kemenristekdikti. Tetapi kalau memang regulasi itu diperlukan, akan kita buat. Tapi ini masih dalam kajian," tegasnya.

Seperti dilansir dalam Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah mulai aktif bergerak 'masuk kampus' untuk menangkal radikalisme. Ini tak lepas dari keterangan sejumlah pihak bahwa kampus adalah tempat menyemai benih-benih radikalisme sejak lama, serta temuan keberadaan bukti terorisme di kampus.

Bentuk Pemerintah 'masuk kampus' itu pun beragam. Misalnya, penggrebekan terhadap terduga teroris oleh Detasemen Khusus 88/Antiteror Polri bersenjata menangkap terduga teroris bersama bom siap ledak saat menggeledah Gelanggang Mahasiswa Universitas Riau, 2 Juni.

Hal ini menuai kritik dari Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah. Menurut dia, kampus, sebagai pusat intelektual, seharusnya steril dari keberadaan senjata.

Deradikalisasi Bidik Siapa?

Berdasarkan hal itu, jelas terjadi kesalahpahaman mengenai deradikalisasi atau upaya penghilangan pemahaman Islam secara mengakar, sesuai prinsip menjadi moderat dapat dikatakan sebagai deislamisasi. Maka dari itu, perlu disadari bahwa deradikalisai sangatlah berbahaya bagi umat Islam. Keberadaanya akan mengancam kemurnian Islam dan menjauhkan umat Islam terhadap prinsip agamanya sendiri. Sedangkan terorisme menurut KBBI adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan. Islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam tentu  tidak akan melakukan teror, melainkan menebar kemashlahatan/rahmat bagi umat manusia. Untuk hal ini tampak jelas bahwa ada upaya monterisasi terhadap Islam.

Deradikalisasi, bukanlah hal baru yang pernah didengar. Saat ini bukan ditujukan kepada orang atau kelompok yang brutal bertindak dengan kekerasan melainkan ditujukan kepada orang atau kelompok yang jiwa dan ruh islamnya kuat sekali. Sarang deradikalisasi yang dianggap sebagai ancaman adalah perguruan tinggi. Bagaimana tidak. Perubahan itu kebanyakan di mulai dari gerakan pemuda termasuk mahasiswa. Terutama mahasiswa yang memiliki pemikiran ideologis terhadap penegakan syariah Islam.

Saat ini deradikalisasi disandangkan pada orang atau kelompok yang getol terhadap perjuangan tegaknya syariah, jiwa dan ruh islamnya kuat dan apabila ini melekat dalam pemikiran mahasiswa tentu mahasiswa akan terus menyuarakan tegaknya penerapan syariah. Hal inilah yang ditakuti oleh rezim, sehingga hal seperti itu perlu dilakukan penanganan di perguruan tinggi untuk menangkal upaya deradikalisasi ini.

Tindakan yang dilakukan oleh rezim adalah penangkalan paham radikal di perguruan tinggi. Penangkalan paham radikal di perguruan tinggi merupakan rapat yang dihadiri oleh sejumlah rektor perguruan tinggi di Indonesia. Rapat ini digelar oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dengan hasil bahwa pihak universitas sepakat akan membangun komunikasi yang baik dengan BIN dan BNPT. (detiknews)

Berdasarkan hal tersebut, perguruan tinggi ditakuti sebagai tempat perkembangbiakan deradikalisasi. Padahal yang mereka sebut sebagai radikal adalah pihak yang menginginkan kemuliaan tegak di muka bumi ini, yaitu penerapan syariah Islam secara sempurna (kaffah).

Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi kalau tidak di rezim anti kebangkitan Islam. Sedangkan pada masa kejayaan Islam, penerapan syariah Islam secara sempurna merupakan hal yang sangat dibanggakan.

Tidak seperti saat ini yang justru dianggap membahayakan. Pengaruh untuk membungkam mahasiswa ataupun masyarakat pejuang syariah Islam didapatkan dari pemikiran barat yang telah menjamur.

Sesungguhnya, yang membahayakan pemikiran barat yaitu ide liberal-sekulerlah yang harus dihapuskan dari negeri ini. Yang telah merasuk dan merusak pemikiran masyarakat termasuk mahasiswa dan pemuda.

Deradikalisasi Dalam Perspektif Islam

Sesungguhnya proyek deradikalisasi adalah proyek deislamisasi. Deradikalisasi merupakan upaya deislamisasi yang akan membawa ke arah sekulerisme. Sasaran tembak dari proyek deradikalisasi adalah umat Islam secara keseluruhan.

Ajaran-ajaran Islam tentang jihad, negara Islam, syariah dan khilafah dianggap sebagai sumber terorisme dan merupakan ide-ide radikal. Kenyataan bahwa banyak yang menganggap ide-ide Islam adalah ‘ide-ide radikal‘ tersebut akan menjadikan non Muslim hatta umat Islam jadi phobia (alergi) dengan Islam. Alhasil, Islam hanya dikenal sebagai agama ritual, mengajarkan ibadah dan moral semata, bukan dijadikan ajaran yang mengatur kehidupan seluruh umat manusia (ideologi).

Deradikalisasi sekali lagi menjadi bukti ketakutan musuh-musuh Islam. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an bahwa orang-orang kafir tidak akan pernah ridha terhadap Islam dan kaum muslimin, hingga kita mengikuti ‘millah’ mereka.

Deradikalisasi teramat berbahaya bagi umat. Bahaya-bahaya tersebut antara lain, bahwa melupakan akar hulu terorisme yang hakiki, melahirkan tafsiran yang menyimpang terhadap nash-nash syariah, menghambat kebangkitan umat Islam, langgengnya imperialism barat atas kedok GWOT, HAM, Pasar Bebas, dan Demokrasi, umat Islam dapat meninggalkan agamanya sebagai sistem kehidupan.

Sepak terjang deradikalisasi di lingkungan kampus sangat masif digalakkan. Mereka melakukan berbagai cara untuk memuluskan tujuannya.

Program deradikalisasi bertujuan untuk membentuk kalangan intelektual yang moderat dan liberal, sehingga pada akhirnya akan berdampak ke masyarakat secara umum pula, karena biasanya kalangan intelektual merupakan sumber rujukan bagi masyarakat.

Karena itu proyek deradikalisasi ini sangat berbahaya dan wajib dicegah. Bagaimana caranya Pertama, meningkatkan kesadaran politik kaum Muslim termasuk mahasiswa dan pemuda melalui edukasi yang kontinyu, berkesinambungan.

Yang dimaksud dengan kesadaran politik di sini bukanlah kesadaran berpolitik seperti yang dimiliki politisi sekular, tetapi kesadaran yang mendorong umat untuk memandang setiap persoalan dari sudut pandang akidah dan syariah Islam.

Kesadaran inilah yang akan memandu kaum Muslim selalu waspada terhadap setiap upaya yang ditujukan untuk menghancurkan eksistensi Islam dan kaum Muslim, termasuk melalui proyek deradikalisasi. Kesadaran ini pula yang akan mendorong mereka untuk membela ajaran Islam dari para perongrongnya.

Kesadaran politik hanya akan tumbuh jika di tengah-tengah umat ada pembinaan yang bersifat terus-menerus hingga umat menjadikan akidah Islam sebagai satu-satunya sudut pandang hidupnya dan syariah Islam sebagai satu-satunya aturan yang mengatur seluruh perbuatannya.

Kedua, memberi penjelasan yang benar kepada umat tentang Islam secara benar, baik ajaran tentang makna jihad, taghut dan Khilafah, sekaligus menunjukkan letak kesalahan pemaknaan yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam terhadap istilah-istilah tersebut.

Ketiga, membangun sebuah kesadaran bahwa menerapkan syariah, menegakkan Khilafah dan berjihad di jalan Allah adalah kewajiban agama. Seorang Mukmin wajib menjalankan syariah Islam secara menyeluruh dalam koridor sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah Islamiyah.

Selain itu, perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah justru ditujukan untuk mengentaskan manusia dari keterpurukan akibat penerapan sistem demokrasi-sekular dan mengembalikan supremasi Islam dan kaum Muslim; bukan untuk menciptakan teror dan kekerasan.

Keempat, mengungkap rencana-rencana jahat musuh Islam serta makar dan persekongkolan para penguasa sekular dengan negara-negara imperialis Barat (kasyf al-khuththat). Upaya ini ditujukan agar umat Islam mampu melihat dan menghindarkan diri dari kejahatan tersembunyi yang ada di balik makar dan persekongkolan tersebut.

Alhasil, proyek deradikalisasi akan menuai kegagalan atas izin Allah SWT. Mengapa demikian? Sebab, proyek ini justru akan mempertebal keyakinan umat Islam atas kebenaran agamanya, dan semakin memperbesar ketidakpercayaan umat terhadap para penguasa sekular. Jika ini yang terjadi, insya Allah, pertolongan Allah SWT akan diturunkan kepada kaum Muslim dalam waktu tidak akan lama lagi. 

Allah SWT berfirman. “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya” (QS.Ali-Imran:54). Wallahu a’lam.[Mo/vp]
            


Posting Komentar