Oleh : Mira Susanti
(Aliansi Penulis Perempuan Untuk Generasi)




Mediaoposisi.com-Publik kembali dihebohkan oleh  pola tingkah laku para elite politik  lulusan demokrasi. Pergulatan serta persaingan antara lawan politik hanya sebatas panggung sandiwara dalam pentas demokrasi.
Berlagak layaknya  pemain profesional mereka berusaha untuk tampil maksimal sesuai perannya di hadapan rakyat .Keberhasilannya mampu mengaduk-aduk pikiran serta perasaan  orang - orang yang mengidolakan jagoannya. Meskipun di depan layar mereka menunjukkan peran yang saling bertentangan.
Namun dibalik layar mereka baik- baik saja atau bisa jadi  sebaliknya. Walhasil itu hanya sekedar panggung, dimana akhir ceritanya sudah ditentukan oleh sang pembuat skenario. 
Sebagaimana  panggung demokrasi yang dijalani oleh bangsa ini. Persaingan antara 01 dan 02 dalam merebut kursi singgasana istana cukup menguras energi dan pikiran rakyat. Mereka merelakan semua itu dengan satu harapan untuk masa depan negara lebih baik.
Ketika  capres 01 dinobatkan sebagai pemenang dengan pernak- pernik persoalannya. Tentu saja menggoreskan luka bagi pendukung capres 02. Persoalan tersebut berujung pada meja hijau hingga tak satupun pengaduan pihak 02 terhadap 01 diterima.
Permainan elite politik tak hanya sampai disitu, rakyat akhirnya dibuat semakin kecewa dengan sikap sang jagoannya. Karena dinilai telah mengkhianati kepercayaan masyarakat yang telah mati- matian memperjuangkan kemenangannya. 
Berbagai pertemuan  yang diadakan antara 01 dan 02 melahirkan sebuah rekonsiliasi politik baru yang semakin mengkhawatirkan. Publik semakin bertanya-tanya dengan perubahan sikap sang jenderal  dalam mengambil sikap politik. Hingga berujung pada politik nasi goreng antara sang jendral Prabowo Subianto dengan Ketua Umum Partai PDIP Megawati Soekarnoputri.
Pertemuan tersebut  dijadikan ajang reunian sebagai tindak lanjut dari rekonsiliasi. Hal ini memberikan aroma koalisi semakin jelas tercium . Publik semakin yakin sang jendral akan masuk di jajaran kabinet pemerintahan Jokowi-Ma'ruf nanti.
Bahkan presiden Joko Widodo (Jokowi) merespons langsung pertemuan Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto dengan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri. Dia menganggap pertemuan kedua elite politik itu merupakan hal yang biasa. (Rebuplika.co.id).
Pada saat yang bersamaan beliau  juga mengomentari pertemuan Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Nasdem mengaku siap mendukung Anies mencalonkan diri sebagai calon presiden 2024.
Tentu saja hal ini semakin membuktikan kepada rakyat bahwa sikap berebut kue kekuasaan tak bisa dihindari.  Rakyat hanya dijadikan sebagai legalitas semata dalam pertunjukan pentas demokrasi.
Inilah akhir pentas panggung  politik ala demokrasi. Yang menyisakan kekecewaan rakyat banyak.  Seolah kepentingan partai mereka lebih utama dibandingkan dengan kepentingan rakyat. 
Mereka hanya menunjukkan sikap saling " lawan". Tapi bebas berjabat tangan atas nama rekonsiliasi setelah pentas usai. Masihkah rakyat tetap yakin bahwa  sistem demokrasi adalah harga mati bagi NKRI?. Lalu sampai kapan rakyat akan gigit jari dan terbuai dengan nyanyian janji- janji palsu pejuang demokrasi?.
Maka disinilah rakyat harus menyadari bahwa demokrasi bukanlah rumah kita. Karena demokrasi hanya ada bagi orang-orang yang haus dengan kekuasaan semata. Corak kehidupan perjuangannya  hanya diwarnai oleh slogan " Tak ada lawan sejati yang ada adalah kepentingan sejati".
Sementara perjuangan sejati adalah berjuang untuk melanjutkan kehidupan islam melalui penerapan sistem  islam. Dorongannya bukanlah karena kepentingan pribadi tapi ia didorong oleh kesadaran dan tuntutan keimanan. [MO/sg]

Posting Komentar