oleh: Ernadaa Rasyidah
(Penulis Bela Islam )
Mediaoposisi.com-Pilpres telah usai, dengan segala hiruk-pikuknya. Pemenang telah ditetapkan untuk periode lima tahun kedepan. Disisi lain, kegaduhan elit politikus dalam ajang bagi-bagi jatah kursi menggambarkan mereka hanya memperdulikan nasib diri dan dan partai belaka.
Begitupun kompromi-kompromi politik dibalik istilah rekonsiliasi membuat rakyat kembali gigit jari untuk kesekian kali.
Pengamat politik menilai pertemuan yang dilakukan Prabowo dan Jokowi di Stasiun MRT Lebak Bulus beberapa waktu yang lalu, disusul rencana pertemuan Megawati dan Prabowo pada Rabu, 24 Juli tidak lebih sekedar ajang negosiasi untuk mengamankan posisi yang dikemas dalam istilah rekonsiliasi. 
Pendiri Kantor Hukum Lokataru Hariz Azhar, menuturkan bahwa pertemuan keduanya kurang tepat disebut sebagai rekonsiliasi, keduanya hanya mencari posisi sama-sama untung, kubu Jokowi menggunakan kata rekonsiliasi untuk menundukkan kubu Prabowo. 
Sementara kubu Prabowo menggunakan kata rekonsiliasi dalam rangka mencari keuntungan bagi pihaknya. Ujung dari negosiasi ini hanyalah bagi-bagi kekuasaan, proyek, jabatan dan sumber daya alam. Tidak ada pembicaraan mengenai pemulihan masyarakat yang terbelah “Ujung-jungnya negosiasi, bukan rekonsiliasi,” tandasnya. (tempo.co 13/07/19).
Dalam sistem demokrasi, istilah “No Free Lunch” menjadi sangat wajar. Ada bayaran untuk setiap keputusan. Sekalipun dalam keputusan tersebut, rakyat kembali menjadi tumbal kekuasaan.
Istilah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, faktanya hanya omong kosong. Pasalnya, rakyatlah yang selalu jadi korban janji- janji politik dari para politikus busuk.
Menjelang pemilu, rakyat dibujuk memenuhi bilik-bilik suara, namun setelah pemilu usai, suara rakyat dicurangi dan dikhianati dengan sangat nyata. Harapan tentang perubahan yang diinginkan rakyat, jika bertentanggan dengan harapan Barat (sebagai punggawa demokrasi) tidak akan pernah mendapatkan legitimasi.
Apa yang terjadi pada FIS di Aljazair pada awal tahun 1992 yang memenangkan pemilu dengan persentase yang sangat tinggi, menjadi bukti bahwa pertarungan pemilu dalam demokrasi tidak akan memberikan jalan berkuasa bagi Islam.
Hal serupa terjadi pada hamas di Palestina dan Ikhwanul Muslimin di Mesir, mereka berhasil memenangi pemilu namun hal tersebut tidak akan dibiarkan oleh Barat.
Bahkan di Mesir, Kemenangan Mohammad Mursi dikudeta oleh militer atas dukungan Barat.  Standar ganda HAM yang digembor-gemborkan barat, justru bungkam atas kudeta yang jelas-jelas bertentangan dengan prinsip demokrasi.
Arah Politik Umat Islam
Umat Islam Indonesia, sebagai penduduk muslim terbesar dunia, tentunya harus memiliki arah politik sendiri dan berlepas diri dari politik pragmatis. Tidak perlu bermanis muka untuk mengkompromikan  segala bentuk kecurangan, karena selamanya antara haq dan batil ibarat minyak dan air yang tidak akan pernah bisa menyatu.
Baginda nabi yang mulia, mencontohkan sebuah sikap konsisten dalam menggenggam kebenaran, ketika diajak oleh para pemuka kafir Quraisy dengan imin-iming tahta, harta dan jabatan agar beliau berhenti dalam memperjuangkan kebenaran dakwah Islam.
Kemudian beliau menjawab dengan penuh percaya diri  “Demi Allah, seandainya mereka mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, maka aku tidak akan pernah meninggalkan dakwah hingga Allah menampakkan kemenangan atau aku binasa karenanya,”.
Kebobrokan sistem demokrasi, sejalan dengan figur politikus yang tamak dan rakus harusnya menjadi pelajaran agar umat Islam menyusun kekuatan tandingan, meneguhkan arah perjuangan politik yang mampu mengantarkan pada kemenangan Islam.
Kekuatan yang mampu menyatukan, membangun kesadaran politik Islam dengan menjadikan aqidah Islam sebagai landasan. Wujud perjuangan ini harus sesuai dengan tharriqah dakwah yang telah dicontohkan rasulullah yaitu dengan dakwah pemikiran, bukan dengan kekerasan., Allah Swt berfirman yang artinya :
“Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik  mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan banyak mengingat Allah,”. (QS.Al-Ahzab:21)
Karenanya, sebagai muslim kita wajib mengikuti metode perjuangan yang dicontohkan Rasulullah dalam melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakat. Tahapan pertama, disebut dengan tahapan pembinaan (Tasqif) agar terbentuk individu yang memiliki kepribadian Islam.
Kedua, Tahapan Interaksi dan Perjuangan (Tafa’ul Wa Kifah), merupakan fase interaksi/kontak dengan masyarakat, membersihkan pemikiran masyarakat dari ide-ide kufur, membongkar makar-makar penguasa dzalim dan menentang segala bentuk sistem hidup jahiliyah.
Fase ini merupakan fase terpanjang dan ujian dakwah paling sulit yang dilalui oleh Rasulullah dan para sahabatnya, mulai dari propaganda, pengusiran, penyiksaan, hingga pemboikotan. Meski demikian, keistiqomahan nabi dan para sahabat dalam berdakwah mendapatkan simpati dan dukungan.
Suku Aus dan khazraj memberikan dukungan dan perlindungan terhadap dakwah nabi melalui thalabun nusroh. Dukungan dakwah semakin kuat dan siap untuk memasuki tahapan ketiga, yaitu tahap penerapan syariah Islam secara kaffah (Istilamul Hukmi).
Sejak saat itu daulah Islam pertama di Madinah terwujud, yang dipimpin langsung oleh Rasulullah sebagai Kepala Negara Islam Madinah ketika itu. Kemudian setelah  beliau wafat, estafet kepemimpinan beliau dilanjutkan oleh kepemimpinan para Khalifah setelahnya.
Sejarah kemenangan Islam pasti akan berulang, karena itu adalah janji Allah dan kabar gembira dari baginda Rasulullah. Dengan menjadikan Islam sebagai Ideologi, yakni pandangan hidup yang melahirkan aturan di segala aspek kehidupan.
Sebuah sistem pemerintahan Islam Khilafah Islamiyah yang akan menerapkan aturan Islam secara totalitas.
Khilafah yang memiliki susbstansi syariah, ukhuwah dan dakwah akan membawa pada kemenangan Islam yang hakiki, mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh warga negara baik muslim maupun non muslim. Lahirnya peradaban ini akan mengubur peradaban kelam Kapitalisme-Demokrasi, juga Sosialisme. In syaa Allah.
Wallahu a’lam bi ash-Showwab[MO/sg]

Posting Komentar