Oleh : Shita Ummu Bisyarah

Mediaoposisi.com-Arab Saudi memiliki kedudukan yang istimewa dimata kaum muslim seluruh dunia. Memang benar disanalah islam berawal dan mengetuk pemikiran orang berakal. Hadirnya menerangi gelapnya relung jagad raya, memberi cahaya kepada hati yang hampa dan jiwa yang gulana. Hadirnya menjadi pembeda antara yang batil dan haq. 

Mengubah kondisi negara terbelakang segalanya menjadi negri istimewa yang akan menjadi pusat peradaban dunia. Tak hanya itu, hadirnya pun berhasil mencetak peradaban mulia yang menjadi mercusuar dunia.

Begitulah bagaimana Arab begitu istimewa, karena dia dipilih Allah sebagai tempat tinggal orang paling istimewa yakni Rosulullah Muhammad SAW. Bahasanya dipilih sebagai bahasa benda langit istimewa yang rela diturunkan ke bumi yakni Al-Quranul Karim. Disana juga terlahir orang - orang yang bahkan surga merindu mereka hingga dari tangan mereka islam sampai kepada kita dan juga menyinari kita dengan cahayanya.

Maka tak heran jika islam sangat identik dengan Arab, bahkan seringlah ada istilah "Kalau mau menerapkan islam ya ke Arab saja sana, jangan di Indonesia" atau istilah " kalau mau pakai baju muslim ya ke Arab saja sana, jangan di Indonesia". 

Seolah - olah Arab saat ini adalah tolak ukur Negara yang "menerapkan" islam, negara yang paling islami dan segudang labeling yang diidentikkan dengan islam.

Padahal faktanya Arab Saudi beberapa kali menghianati umat islam. Dari mulai perilaku pemimpinnya yang hedonis ketika umat muslim menjerit di nagara lain hingga kebijakan - kebijakan negaranya yang justru menyayat hati ummati Muhammad. 

Sebut saja ketika Arab Saudi memfasilitasi Amerika menggempur Irak, negara yang mayoritas penduduknya muslim. Bahkan saking dekatnya Arab dengan Amerika yang notabennya secara terang - terangan memerangi umat islam, sekarang Raja Salman malah setuju untuk menjadikan Arab sebagai pangkalan militer tentara Amerika demi keamanan negaranya ( Okenews.com 20/07/2019). 

Tak hanya itu, ketika Palestina digempur Israel pun Arab diam membisu, tak ada jet - jet tempur dikirim untuk menyelamatkan mereka. Bahkan dibelakang layar Arab sangat mesra dengan Zionis Israel yang telah membantai ribuan warga Palestina.

Di dunia hiburan pun Saudi tak kalah hedon dengan negara - negara lain, bahkan jauh dari nilai - nilai islam. Invasi K-Pop mulai meramaikan jagad hiburan negri ini yang kemudian disusul konser - konser musik lain. Super Junior menandai konser artis K-Pop perdana di Arab Saudi. 

Delapan anggota grup senior itu akhirnya menggelar konser mereka, Super Show 7S, di King Abdullah Sports City, Jeddah, pada Jumat, 12 Juli 2019. Bahkan dikabarkan tiket mereka habis hanya dalam beberapa jam. ( www.viva.co.id 15/07/19 ). 

Sehari setelah konser solo Suju, subunit Super Junior, yakni KRY (Kyuhyun, Ryeowook, dan Yesung), serta D&E (Daesung dan Eunhyuk) pun tampil dalam festival musik terbesar di Arab Saudi, Jeddah Season, 13 Juli 2019. Dan banyak lagi planing konser musik di Arab di bulan - bulan berikutnya.

Peserta yang dibanjiri para K-Popers hawa memadati ruang konser bahkan mereka juga turut histeris karena kedatangan artis korea idolanya. Lautan wanita bercadar rela mengantri berjam - jam hanya untuk menonton konser musik ini. Sungguh miris melihat pemandangan diluar dugaan ini.

Lantas muncul banyak pertanyaan dan juga terbesit pemikiran "oh, ternyata Arab sama aja ya seperti negara lain? Mayorotas wanitanya juga penggila opa - opa korea, penggemar drama korea dsb" pemandangan ini diluar dugaan kaum muslim lainnya. 

Hal ini memaparkan fakta bahwa mayoritas kaum muslim baik di Arab ataupun negara muslim lain juga terbawa tranding dunia walau tak sesuai dengan nilai - nilai islam. Dan juga menunjukkan bahwa Arab tak layak sama sekali disebut negara Islam apalagi negara yang menerapkan Islam. Karena faktanya jauh dari hal itu. 

Pertanyaan selanjutnya mengapa fenomena ini bisa terjadi? Bahkan tak hanya di Arab, namun di negeri - negeri mayoritas muslim lain?

1. Karena menancap kuatnya virus sekulerisme

Sekulerisme adalah pemisahan antara agama dan kehidupan. Agama tak boleh ikut campur pada urusan dunia seseorang. Semisal politik, ekonomi, sosial tak boleh islam masuk di dalamnya. Islam hanya boleh dilaksanakan oleh individu - individu saja, seolah terpojokkan di pojokan masjid saja, setelah keluar masjid ya sudah tidak perlu memakai islam.

Sekulerisme adalah aqidah dari ideologi kapitalisme, yang dulunya muncul sebagai jalan tengah karena masyarakat Eropa kala itu tak percaya lagi dengan aturan gereja yang sudah ditunggangi oleh kepentingan para pejabat yang berkuasa demi dunia. 

Aturan tak lagi dibuat oleh pendeta - pendeta gereja, tapi dibuat oleh akal manusia dengan jalan musyawarah. Padahal pada prakteknya tetaplah aturan itu bisa dipesan asal punya kuasa dan uang tentunya.

Virus ini disuntikkan kepada kaum muslim, hingga kaum muslim yang keras hatinya lagi munafik terinveksi dan menjadi orang - orang yang anti aturan islam bahkan menentangnya, dengan berjualan ayat yang tak dimaknai dengan benar dan diplintir sesuai pesanan tuannya. 

Virus ini juga membuat kaum muslim jauh dari aturan islam hingga mereka yang dulunya umat terbaik dan mulia, terperosok terlalu dalam menjadi umat hina bahkan tersiksa. Termasuk dalam memilih "idola". Mereka tak lagi menstandarkan perilakunya dengan aturan islam, karena islam telah terpisah daribkehidupan mereka dan terbuang dipojokan masjid saja. 

Rosulullah manusia paling mulia tak lagi mereka kenal dengan sempurna, bahkan hanya tau namanya. Hingga tak menjadikannya idola malah menjadikan orang kafir opa korea sebagai pria sempurna yang paling layak jadi idola.

2. Lemahnya benteng diri dan keluarga dan negara

Sekulerisme juga telah menggerogoti sistem imune umat Islam, mulai dari pertahanan diri dimana individu - individu jauh dari islam hingga mereka menjadi jumud. 

Sekulerisme juga meniscayakan masyarakat yang apatis tak peduli dengan sekitar, karena mereka sibuk dengan himpitan dunia yang telah rusak dimana kekayaan hanya berkumpul pada para pemilik modal. Negarapun berubah fungsi dari yang seharusnya melayani rakyat, malah hanya menjadi regulator saja bahkan rakyat yang melayani negara, dunia memang terbalik.

Begitulah bagaimana sekulerisme yang merupakan produk dari kapitalisme merusak umat. Kita sebagai umat islam haruslah sadar bahwa paham ini menggerogoti sistem imune umat islam yang menyeret umat berbondong - bondong ke neraka jahannam, naudzubillah. Mari kita bentengi diri dengan memperbanyak tsaqofah islam kita dan selalu terikat dengan jamaah dakwah.Wallahualambishowab. [MO/vp]

Posting Komentar