Oleh : St.Nurwahyu
(Mahasiswi Universitas Muslim Maros)

Mediaoposisi.com-Akhir-akhir ini dunia maya tengah dihebohkan dengan sebuah foto yang diduga siswa-siswi Madrasah Aliah Negeri 1 Sukabumi, Jawa Barat sedang membentangkan bendera tauhid viral di media sosial sejak Sabtu malam, 20/7/2019.  Foto itu menunjukkan para siswa membawa dua bendera tauhid dan bendera merah putih di dalam lingkungan sekolah.

Anggota DPR Komisi VIII Ace Hasan Syadzily, mengomentari foto tersebut serta menautkannya kepada Menteri Agama Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Ace meminta Lukman untuk segera mengklarifikasi dan mencari tahu kebenaran foto yang diunggah oleh akun @Karolina_bee11 itu.
"Seharusnya Madrasah apalagi yang dikelola Kemenag harus mengedepankan semangat NKRI daripada penggunaan bendera yang identik dengan organisasi yang terlarang," kata Ace melalui akun twitternya @acehasan76 pada Sabtu, 20 Juli 2019 pukul 21.45.
Paginya, Lukman merespon tautan Ace. Dia mengatakan sejak Sabtu malam, Kementerian Agama sudah menerjunkan tim untuk menyelidiki kebenaran foto tersebut.
"Sejak semalam sudah ada tim khusus dari pusat yang ke lokasi untuk investigasi. Saat ini proses penanganan di lapangan masih sedang berlangsung. Kami serius menangani kasus ini," kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melalui akun twitternya @lukmansaifuddin pada Ahad, 21 Juli 2019 pukul 11.26.
Hingga saat ini, foto siswa membawa bendera tauhid itu masih ramai dibicarakan. Dalam unggahannya, @Karolina_bee11 mengatakan khawatir jika sekolah negeri di bawah Kemenag terafiliasi khilafah.
"MAN atau Madrasah Aliah Negeri adalah lembaga pendidikan negeri di bawah Kemenag. Apabila polah anak didiknya begini di lingkungan sekolah, apa yang akan dilakukan Kemenag kepada instansi sekolahnya. Semoga tak terafiliasi penegakan khilafah," tulisnya.
Mengapa Bendera Tauhid yang di investigasi? 
Adanya investigasi bendera tauhid tersebut tentu membuat banyak pihak yang menyayangkan.  Bagaimana tidak, kasus mengenai bendera tauhid yang dulu sempat di klaim sebagai bendera yang lekat dengan simbol ormas HT tersebut, sebenarnya sudah terselesaikan, dan sudah banyak umat Islam yang kemudian sadar bahwa bendera tauhid merupakan bendera umat Islam.
Hal ini didasarkan pada hadits Nabi SAW,  dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhu : “Panjinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam, dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah”.” (HR. Ath-Thabrani)
Maka seharusnya Menag tak perlu membuang-buang waktu melakukan investigasi, bukankah suatu hal yang wajar ketika generasi islam bangga dengan identitas muslimnya sendiri dan menampakkan simbol keislamannya, lalu dimana salahnya? 
Disaat kita menyaksikan bendera LGBT banyak di kibarkan oleh kaum sodom di negeri ini, namun mereka di biarkan begitu saja, padahal mereka dengan terang-terangan mengibarkan simbol kesesatan.
 Lalu mengapa justru bendera tauhid yang diinvestigasi bahkan di kriminalisasi? Padahal bendera tauhid merupakan bendera umat islam  yang seharusnya di banggakan. Bendera tauhid bukanlah milik ormas tertentu, apalagi simbol radikalisme yang harus diwaspadai. 
Sesat Pikir Rezim Sekuler
Mewaspadai  penyebaran paham radikal dan semacamnya memang merupakan tugas Kementerian  Agama. Namun menganggap bendera tauhid (al liwa’ dan ar royah) sebagai simbol radikalisme merupakan hal yang keliru. Apalagi sampai membentuk tim khusus, hanya untuk menginvestigasi bendera tauhid.
Mengapa Menag begitu sibuk mengurusi anak yang membentangkan bendera tauhid, sementara banyak masalah internal  Menag yang belum kelar? Diketahui bahwa di antara sejumlah kementerian, Kementerian Agama adalah salah satu kementerian yang belakangan ini banyak disebut-sebut. Bukan karena segudang prestasinya, tapi karena berbagai kabar buruk yang meliputinya.
Mulai dari korupsi pengadaan kitab suci Alquran, penyalahgunaan dana haji, hingga kasus jual-beli jabatan di Kemenag yang membuat mantan ketum partai hijau harus mengenakan rompi orange khas tahanan KPK. 
Pak  Menteri juga perlu kiranya menajamkan mata terhadap rilisan data Badan Kepegawaian Negara. Berdasarkan data BKN per 12 September 2018, terdapat 2.357 aparatur sipil negara (ASN) yang terlibat kasus korupsi. Sebanyak 98 ASN di antaranya adalah yang tercatat berada di instansi pusat, yakni kementerian dan lembaga negara. Dan perlu diketahui bahwa Kementerian Agama menjadi instansi nomor dua tertinggi dengan jumlah ASN yang terlibat korupsi. (kompas.com).
Nah, terhadap persoalan-persoalan itu, semestinya Menag bergerak cepat. Kalau perlu dibuat tim khusus juga sebagaimana yang dilakukan terhadap siswa MAN 1, jika menginvestigasi bendera tauhid bisa sebegitu sigapnya, masa sama korupsi malah adem-adem saja?. 
Islam Solusi Tuntas
Sejatinya segala permasalahan yang ada di Negeri ini karena tidak diterapkannya Islam dalam kehidupan. Kecurigaan terhadap simbol-simbol Islam sebagai bentuk radikalisme hingga berakhir pada kriminalisasi membuktikan bahwa rezim sekuler dan anti terhadap kebangkitan Islam.
Penerapan sistem demokrasi sekuler juga telah menghasilkan output penguasa-penguasa  yang korup, tak terkecuali di dalam lingkungan kementerian agama pun yang harusnya bersih dari kasus korupsi dan menjadi contoh.  
Namun penerapan sistem sekulerisme dengan akidah pemisahan agama dari kehidupan dan bernegara, menyebabkan nilai-nilai ketaqwaan hilang dari masyarakat, khususnya dalam ranah politik dan pemerintahan.
Maka wajar jika harapan bebas korupsi dengan sistem ini hanya menjadi mimpi. Aksi –aksi pemberantasan korupsi yang berjalan hanyalah pelipur lara dan drama yang tak berkesudahan. Sementara itu, simbol-simbol Islam terus di curigai, bahkan ulama yang menyerukan kebangkitan akan di cap radikal hingga berakhir pada persekusi.
Padahal Islam memiliki seperangkat aturan yang menyeluruh dalam mengatur segala aspek kehidupan kehidupan manusia. Terbukti, ketika Islam diterapkan oleh negara (Daulah Khilafah) selama kurang lebih 1300 tahun lamanya, Islam telah menjadikan kaum Muslimin sebagai umat yang terbaik.
”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll).
Allahu A’lam bishawab [MO/sg]

Posting Komentar