Oleh: Lailatul Fitriyah, S.Pd.
(Komunitas Muslimah Sholiha Tamansari Bogor)
Mediaoposisi.com-Media sosial beberapa waktu lalu dihebohkan aksi siswa-siswi Madrasah Aliah Negeri (MAN) 1 Sukabumi, Jawa Barat (Jabar). Kehebohan itu berawal dari unggahan foto oleh akun @karolina_bee11 pada sabtu 20 juli 2019 dalam foto tampak beberapa siswa berpose mengibarkan bendera bertuliskan kalimat Tauhid dilapangan sekolah.
Dalam pesannya pada foto, akun @karolina_bee11 menuliskan, "MAN atau madrasah Aliah Negeri adalah lembaga pendidikan Negeri di bawah @Kemenag_RI. Apabila polah anak didiknya begini di lingkungan sekolah, apa yang akan dilakukan pihak @Kemenag_RI kepada instansi sekolahnya lokasi MAN 1 Sukabumi. Semoga tak terafiliasi penegakan khilafah."
Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin langsung bereaksi cepat untuk merespon unggahan foto tersebut. Dia mengatakan, pihaknya telah mengirim tim untuk melakukan investigasi atas peristiwa tersebut.
"Sejak semalam sudah ada tim khusus dari Pusat yang ke lokasi untuk investigasi. Saat ini proses penanganan di lapangan masih sedang berlangsung. Kami serius menangani kasus ini," balas Lukman dalam twitter-nya @lukmansaifuddin, minggu (21/07/2019).
Tanggapan Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim sontak menuai banyak kritik dari kalangan masyarakat muslim. Banyak pihak mempertanyakan dan kecewa atas respon Menag.
Kekecewaan itu jelas amat sangat beralasan, pertama jika dilihat dari sudut pandang hukum sejatinya  tidak ada pelanggaran yang dilakukan oleh para siswa sebagaimana pendapat Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia (Kshumi) melalui Ketua Eksekutif Nasional Badan Hukum Perkumpulan Kshumi, Chandra Purna Irawan mengatakan "bahwa tidak ada putusan pengadilan, peraturan perundang-undangan, atau produk hukum apa pun yang melarang mencetak, mengedarkan dan mengibarkan bendera berlafadz "Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah." Ujarnya pada Republika, Ahad (21/07/2019)
Artinya, tidak ada delik pidana atas perbuatan yang dilakukan anak-anak MAN 1 Sukabumi. Sebagai Menteri Agama semestinya pak Lukman melindungi dan menjamin ajaran Islam dan simbol-simbol Islam dari upaya kriminalisasi dan potensi potensi yang mengarah pada dugaan kriminalisasi, bukan justru malah membuat masyarakat menjadi ketakutan yang tidak pada tempatnya.
Kedua, masyarakat merasa bahwa tindakan Menag yang sampai mengirim tim investigasi terlalu berlebihan, tidak adil dan tidak pada tempatnya.
Siswa siswi mengibarkan bendera bertuliskan kalimat Tauhid bisa jadi adalah bentuk kecintaan mereka pada simbol agamanya, maka sebagai Menteri Agama terlebih beragama islam semestinya Menag merasa bangga pada siswa siswi MAN 1 Sukabumi bukan malah di investigasi seolah pelaku tindak kriminal.
Jika selama ini pemerintah gencar mencitrakan diri pro islam, apa yang dilakukan Menag justru semakin mengukuhkan penilaian masyarakat bahwa pemerintah anti-Islam dan alergi terhadap simbol-simbol Islam.
Jika Menag bisa berdamai dengan kalangan LGBT dan simbol simbolnya semestinya lebih bisa lagi untuk berdamai pada simbol simbol islam dalam hal ini bendera Al-Liwa dan Ar-Rayya yang merupakan simbol persatuan islam.
Terlalu sering umat islam di kecewakan dan disakiti hatinya oleh penguasanya sendiri. Dikriminalisasi, disudutkan seolah menjadi makanan sehari hari. Sistem sekuler menjadikan standar baik buruk, benar salah menjadi rancu bahkan seringkali dipengaruhi oleh kepentingan, yang berkuasa tentu yang paling mampu untuk melabeli baik atau buruk sesuai dengan kepentingannya.
Selama sistem sekuler ini diterapkan selama itupulah potensi perpecahan akan selalu muncul dan mendapatkan keadilan untuk umat hanya akan menjadi ilusi. 
Hal tersebut tentu berbeda saat islam diterapkan, standar baik buruk adalah hukum syariat. Penguasa memimpin dengan dasar iman bukan dasar kepentingan pribadi apalagi kelompok, karena penguasa hanya berkepentingan untuk menjalankan perintah Allah dengan menegakan hukum syariat.
Maka tidak ada jalan lain untuk menegakan keadilan bahkan sejak dari sikap selain berjuang untuk menjadikan syariat islam mengatur seluruh lini kehidupan.
Sungguh besar hisab Allah kepada para penguasa yang dzolim, disatu sisi sangat besar pula balasan Allah untuk penguasa yang adil dengan menjadikan syariat islam sebagai tolak ukurnya. Dan takutlah kalian para penguasa dengan hadis dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ
“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. Tirmidzi)
Wallahu a'lam bish-shawab. [MO/sg]

Posting Komentar