Oleh: Novita Fauziyah

Mediaoposisi.com-Perbincangan khilafah di dunia nyata maupun dunia maya menuai berbagai reaksi. Salah satu reaksi yang muncul adalah ketakutan terhadap khilafah yang menganggap bahwa hal tersebut dapat mengancam bangsa ini. 

Pertanyaannya benarkah khilafah adalah ancaman? Untuk bisa menjawab pertanyaan itu maka harus berangkat dari pemahaman yang benar tentang khilafah. Pemahaman mengenai khilafah akan berdampak pada pandangan terhadap khilafah itu sendiri termasuk dianggap mengancam atau tidak.

Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syara’ (Islam) dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia (Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah II hlm 18). 

Batasan mengenai kepemimpinan umum mempunyai konotasi bahwa Khilafah Islam bertugas mengurusi seluruh urusan yang meliputi pelaksanaan semua hukum syara’ terhadap rakyat, baik muslim maupun non muslim. 

Mulai dari urusan akidah, ibadah, ekonomi, pendidikan, sosial, politik dalam dan luar negeri. Adapun orang yang mewakili umat Islam menjalankan pemerintahan, kekuasaan dan penerapan hukum syara’ di berbagai urusan tersebut adalah khalifah.

Sebagai seorang muslim harus meyakini bahwa khilafah adalah ajaran Islam dan merupakan suatu kewajiban. Adapun dalil wajibnya mengangkat khalifah adalah Alqur’an, sunnah dan ijma’ sahabat. 

Di dalam Alqur’an Allah berfirman “ Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu (TQS. Al-Maidah: 48). 

Seruan ini ditujukkan kepada kaum muslim untuk menegakkan hukum. Mengangkat khalifah tidak memiliki arti lain selain menegakkan hukum dan kekuasaan.

Khilafah akan memberikan jaminan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya karena memiliki seperangkat aturan atau kebijakan yang bersumber dari Islam. Aturan ini mencakup ranah individu, masyarakat dan negara. 

Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah bidang ekonomi. Khilafah memiliki kebijakan dalam mengatur kepemilikan baik individu, umum dan negara. Pengaturan tersebut kemudian akan masuk ke kekayaan khilafah untuk menjamin kehidupan rakyatnya baik bidang sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, infrastruktur, keamanan dan lainnya.

Sistem sanksi juga akan ditegakkan untuk menjaga agar penerapan hukum Islam di berbagai aspek bisa tetap berjalan. Khilafah akan memberikan sanksi tegas terhadap segala bentuk tindakan yang menyimpang syariat. 

Sebagai contoh sanksi hukuman cambuk bagi pelaku zina yang belum menikah maupun rajam bagi yang sudah menikah. Sanksi ini ditegakkan untuk menjaga agar hukum Islam terkait pergaulan antara laki-laki dan perempuan bisa tetap berjalan. 

Sanksi dalam Islam tersebut bersifat kuratif dan preventif sehingga bisa mencegah tindakan penyimpangan terjadi kembali. Demikian juga dengan sanksi yang lain seperti cambuk terhadap peminum khamr, potong tangan bagi pencuri dan lainnya dengan tetap memperhatikan tata cara pelaksanaan.

Gambaran mengenai khilafah yang mensejahterakan rakyat dan memiliki seperangkat aturan atau kebijakan jelas tidak akan mengancam atau membahayakan manusia. Justru penerapan hukum Islam dengan tegaknya khilafah itu akan memberikan maslahat bagi manusia tanpa terkecuali baik muslim maupun non muslim. 

Sumber hukum yang diterapkan dari Allah, Sang Pencipta alam semesta dan seisinya. Maka jika berpandangan bahwa khilafah itu ancaman, itu sama halnya menganggap bahwa syariah Islam itu ancaman. 

Bagaimana mungkin sistem kehidupan dari Sang Pencipta manusia justru membahayakan manusia? Sungguh pemahaman yang keliru.

Di sisi lain kita bisa menangkap bahwa adanya khilafah yang menerapkan aturan Islam di berbagai aspek kehidupan itu bisa menjadi ancaman. 

Bagi siapa? Tentu bagi orang yang suka melakukan maksiat (tindakan menyimpang dari syariat Islam) juga kepada orang-orang yang gagal paham terhadap khilafah. 

Koruptor yang suka mencuri uang rakyat, pemabuk yang suka minum khamr, kafir penjajah yang suka menggerogoti sumber daya alam, pezina yang dengan bebas melakukan aksinya juga bagi musuh-musuh Islam. 

Namun sebagai seorang muslim sukakah melakukan maksiat? Tentu tidak, na’udzubillahi mindzalik sungguh adzab Allah sangat pedih.

Bagi orang-orang yang gagal paham terhadap khilafah bisa jadi juga akan menganggap sebagai ancaman. 

Sebenarnya gagal paham yang dimaksud karena faktor apa? Terpengaruh oleh ide barat (kafir penjajah) atau benar-benar tidak tahu? 

Jika gagal paham karena memang belum mengetahui secara detail maka penting untuk diluruskan dan memberikan pemahaman yang benar terhadap mereka.

Berbeda bagi musuh-musuh Islam yang jelas tidak menginginkan khilafah tegak. Mereka meyakini bahwa di masa depan khilafah akan tegak. 

Dewan Intelegen Nasional AS (National Intelegent Council) atau NIC pada Desember 2004 mengeluarkan laporan bertajuk “Mapping The Global Future”. Inti dari laporan NIC tentang perkiraan situasi 2020 an di antaranya adalah “A New Chaliphate”. 

Bangkitnya kembali Khilafah Islamiyah yakni pemerintahan global Islam yang bakal mampu melawan dan menjadi tantangan nilai-nilai barat.

Orang-orang yang menganggap bahwa khilafah adalah ancaman, mereka sejatinya telah termakan oleh stigma negatif yang dihembuskan kafir penjajah atau musuh Islam. Musuh-musuh Islam meyakini jika khilafah tegak maka kapitalisme yang mereka agungkan namun kian rapuh itu akan benar-benar hancur. 

Mereka menyadari ketika khilafah tegak maka akan menjadi negara adidaya. Maka dari itu mereka terus membuat propaganda menyesatkan terkait khilafah kepada umat Islam. Tentu ini adalah ancaman, mereka melakukan berbagai cara untuk mencegah agar khilafah tidak tegak. 

Namun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam telah telah menyampaikan mengenai berita akan tegaknya khilafah. Dalam suatu hadist dijelaskan bahwa “...Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam” (HR. Ahmad)

Maka kita harus meyakini bahwa khilafah adalah ajaran Islam dan bukan ancaman bagi manusia.  
Wallahu a’lam bishshawab [MO]


Biodata Singkat Penulis
Nama Lengkap  : Novita Fauziyah, S. Pd
Kota                       : Bogor
Aktivitas               : Pendidik Generasi
Email                     : novitafauziyah04@gmail.com

Posting Komentar