Oleh: Kiki Amelia

Mediaoposisi.com-Generasi adalah aset berharga sebuah negeri. Negara akan dilihat bisa berhasil atau tidak kedepannya, melalui para generasi yang berada didalamnya. Generasi bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan dalam pendidikan sebuah negara.

Sebuah negara bisa dikatakan berhasil mendidik generasi jika generasi tersebut bisa berperilaku baik, mempunyai sopan santun, menjaga dirinya dari perbuatan sia-sia dan memiliki cita-cita masa depan yang cemerlang.

Namun faktanya generasi sekarang semakin diarahkan ke jalan yang seakan membuat negara menuju kehancuran. Mereka disibukkan dengan aktivitas sia-sia bahkan aktivitas yang membuat hancur masa depan. Mereka pun diberikan asupan "tidak bergizi" dari pembuat film-film sekarang. Generasi seakan dibuat merasa nyaman serta terbiasa dengan aktivitas semisal pacaran hingga hamil duluan .

Seperti yang terjadi di dunia seni Indonesia terutama perfilman yang saat ini sedang menuai pro kontra oleh banyak kalangan. Film yang berjudul "Dua Garis Biru" ini membuat sebagian netizen geram dan menganggap itu dapat mempengaruhi masyarakat khususnya remaja untuk meniru apa yang dilakukan di dalam film.

"Beberapa scene di trailer menunjukkan proses pacaran sepasang remaja yang melampaui batas, terlebih ketika menunjukkan adegan berduaan di dalam kamar yang menjadi rutinitas mereka.

Scene tersebut tidak layak dipertontonkan pada generasi muda, penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa tontonan dapat mempengaruhi manusia untuk meniru dari apa yang telah ditonton." isi dalam petisi yang digagas oleh Gerakan Profesionalisme Mahasiswa Keguruan Indonesia (detikHot.com Rabu, 01/05/2019).

Lain lagi dengan yang dikatakan oleh Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN di Jakarta, kamis, mengatakan film Dua Garis Biru dapat membantu BKKBN dalam menjangkau remaja Indonesia lebih luas dengan program Generasi Berencana (GenRe).

"Dalam program kita sulit menggambarkan realita ini, tapi film ini dengan mudah memberikan gambaran yang benar-benar terjadi di tengah masyarakat." ujarnya.

Film Dua Garis Biru ini mengisahkan sepasang remaja yang melampaui batas dalam berpacaran sehingga berujung pada pernikahan usia dini. Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN mengatakan bahwa film tersebut bisa menjadi edukasi kesehatan reproduksi kepada remaja yang menontonnya.

film itu menggambarkan realita bahwa anak remaja sedikit mengetahui dan belajar tentang kesehatan reproduksi namun tidak mengetahui risiko-risiko yang bisa terjadi akibat perkawinan usia dini.

Menurutnya, menyampaikan sosialisasi mengenai kesehatan reproduksi, perencanaan kehidupan, dan nilai-nilai lain kepada remaja memang lebih tepat menggunakan media film. "Penyajiannya memang harus seperti ini, dalam bentuk ceramah orang nggak akan dengar, tapi dengan film seperti ini bisa tersampaikan." kata dia (antaranews.com, 11/07/2019).

Sungguh miris, ketika orang-orang penting juga ikut dalam mensosialisasikan film yang sebenarnya justru menjerumuskan remaja ini.

Hal ini membuktikan bahwa sistem liberal hanya akan memberikan kebebasan yang sebebas-bebasnya bagi para pembuat seni terutama film tanpa menyaring terlebih dahulu apakah layak atau tidak untuk dipertontonkan. Bagi mereka jika film tersebut bernilai bisnis dan dapat memberikan keuntungan maka akan tetap  dibuat dengan judul dan trailer yang menjual.

Padahal semestinya media atau tayangan haruslah yang mendidik, yang memberikan penguatan iman agar menambah ketaatannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bukan media yang menggiring pada pemikiran dan perilaku yang bebas sehingga akhirnya dapat menghancurkan masa depan bangsa.

Disamping itu penguasa saat ini tidak mampu untuk mengendalikan arus kebebasan yang terus mengarahkan generasi pada kehancuran melalui film yang dipertontonkan. Sistem liberalisme membuat penguasa bahkan mendukung setiap kegiatan yang dijalankan meski itu harus mengorbankan generasi masa depan.

Dalam sistem kapital-liberalisme bagi mereka tidak ada batasan pergaulan antara lawan jenis bahkan mereka dibiasakan dengan aktivitas pacaran dan mereka membolehkan seks bebas yang penting suka sama suka. Jadi, wajar saja mereka tidak mempermasalahkan film “Dua Garis Biru” tersebut.

Lain hal-nya Ketika Islam hadir, aturan yang ditawarkan begitu menjaga generasi bahkan secara khusus mengatur pergaulan masyarakat khususnya orang-orang yang bukan mahram. Dalam islam pelaku maksiat akan diberikan hukuman yang tegas.

Media dan masyarakat akan diatur dan diedukasi agar selalu melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, sehingga tidak ada media ataupun masyarakat yang menstimulus remaja untuk melakukan pergaulan bebas.

Pada dasarnya manusia memang diberikan perasaan berkasih sayang sebagai fitrah oleh Allah subhanahu wa ta’ala, namun hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk melakukan pergaulan bebas.

Islam memberikan solusi yaitu dengan pernikahan tidak dengan cara pacaran, seperti hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Kami tidak mengetahui adanya solusi bagi orang yang saling mencintai selain menikah.” (HR. Ibnu Majah).

Aktivitas dalam pacaran tidaklah dibenarkan, karena hal itu sudah termasuk dalam perzinahan yaitu zina mata ketika saling memandang dll. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah mengingatkan manusia “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (TQS. Al-Isra’ : 32)

Dalam hal seni pun Islam juga memiliki aturan, semua film yang ditayangkan akan disaring terlebih dahulu. Film yang ditayangkan hanya yang berfungsi untuk dakwah dan edukasi bagi masyarakat. Dunia perfilman tidak bisa lepas dari sudut pandang aturan suatu negara.

Oleh karena itu sungguh diperlukan adanya kesadaran orangtua, kontrol masyarakat dan peran negara untuk menerapkan aturan Sang Pencipta agar konten film tidak bertentangan dengan agama.

Wallahu a’lam bisshowwab[MO/sg]

Posting Komentar