Oleh : Zulaika
(Member Akademi Menulis Kreatif 3)

Mediaoposisi.com-Dalam sambutannya pada acara Seminar Sehari Internasional Penggunaan Media Digital di Kalangan Anak dan Remaja di Indonesia bersama UNICEF, Menteri Kominfo (era tahun 2009-2014), Tifatul Sembiring, mengatakan: "Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi harus dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. 

Teknologi tersebut merupakan alat untuk mewujudkan bangsa yang cerdas dan maju. Internet dapat memberikan manfaat besar bagi pendidikan, penelitian, niaga dan aspek kehidupan yang lainnya. 

Kita harus mendorong anak-anak dan remaja untuk menggunakan internet sebagai alat yang penting untuk membantu pendidikan, meningkatkan pengetahuan dan memperluas kesempatan serta keberdayaan dalam meraih kualitas kehidupan yang lebih baik."

Saat ini internet bukanlah barang baru. Malah mungkin bisa dibilang "wajib" dikuasai siapapun. Zaman milenial seperti sekarang ini, semua hal pasti berhubungan dengan internet dari seorang ibu rumah tangga, karyawan, pengusaha bahkan anak-anak sekalipun sudah terjamah internet. 

Ya, kini internet menjadi hal yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan siapapun. Kemajuan zaman menuntut siapapun agar dapat menguasai internet karena jika tidak, akan tertinggal informasi meskipun ada sebagian kecil orang yang masih awam atau belum menguasai internet ini. 

Banyak manfaat yang dapat kita ambil dari internet ini diantaranya bagi anak sekolah bisa membantu mengerjakan pekerjaan rumahnya, kita dapat mengetahui informasi di belahan bumi lainnya tanpa kita mesti datang ke tempat tersebut dan lain sebagainya.

Selain manfaat, internet juga memiliki dampak negatif. Salah satunya membuat orang cenderung malas dan minim bersosialisasi. Konten-konten bebas tanpa sensor yang leluasa diakses siapapun tentu buruk dampaknya terutama bagi anak-anak. 

Ada kekhawatiran yang demikian besar dari kalangan orangtua, para guru dan masyarakat pada umumnya mengenai konten-konten tersebut. Contohnya saja di dalam iklan rokok seperti yang diberitakan Tempo.Co, Jakarta-Ketua pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan telah menerima pengaduan soal iklan rokok di KRL Commuter Line. 

"Menurut regulasi yang ada, sarana transportasi umum adalah kawasan tanpa rokok yang secara gamblang juga melarang keberadaan iklan/promosi rokok." katanya. Selain mengkritik iklan rokok di KRL, Tulus juga menilai iklan tayangan televisi tentang olahraga bela diri bebas yang disponsori industri rokok itu juga tidak layak dipasang karena mengandung unsur kekerasan. "Tayangan yang mengandung unsur kekerasan tidak layak diiklankan di area publik seperti KRL yang kemungkinan dilihat anak-anak," katanya lagi.

"Maka kami mendesak managemen PT KAI untuk segera mencopot dan menghentikan pemasangan iklan rokok di stasiun karena bertentangan dengan berbagai regulasi yang ada," kata Tulus

Pihaknya juga mendesak kepada Dewan Komisaris KAI, Ditjen KA Kemenhub, dan Menteri Perhubungan sebagai regulator agar segera memberikan "kartu merah" pada managemen atas pelanggaran tersebut. Bukan saja untuk menegakkan aturan, Tulus menegaskan langkah itu juga perlu dilakukan untuk kemaslahatan bersama (Kumparan.com). 

Konten-konten yang terdapat pada iklan rokok dapat memicu penontonnya terutama anak-anak untuk mencoba merokok.

Lebih jauh, ada segudang konten internet yang tidak layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat termasuk anak-anak, seperti sipilis (sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme), porno, syirik, kekerasan dan lain-lain. Karena kecanggihan internet ini dengan sekali "klik", anak-anak dapat mengakses konten apapun yang mereka inginkan. Tentu saja hal ini mengkhawatirkan bagi perkembangan anak dan pemikiran masyarakat secara umum.

Internet layak anak saat ini demikian sulit diwujudkan sepanjang negara masih mempertahankan paradigma sekuler demokrasi yang penentuan standar layak-tidak layaknya tidak disandarkan pada halal-haram dan tidak menjadikan aturan agama (Islam) sebagai asas dalam menentukan baik tidaknya suatu konten.

Maka tidak heran saat ini banyak kriminalitas yang terjadi karena dampak negatif internet ini diantaranya adalah banyaknya pelecehan seksual yang terjadi di masyarakat bukan hanya dilakukan oleh orang dewasa bahkan anak-anak sekalipun

Hal tersebut juga terjadi karena tidak adanya pengawasan dari orang tua, lingkungan dan terutama negara. Karena negaralah yang seharusnya paling berperan dalam hal tersebut. Negara yang memiliki kewenangan untuk membuat regulasi dan menerapkannya di tengah masyarakat, bahkan mampu menghapus konten-konten yang dapat merusak moral rakyatnya.

Namun hal ini sulit dilakukan karena yang berlaku saat ini adalah sistem kapitalis-sekuler yang memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk mengakses apapun di internet. Bahkan penguasa saat ini seolah tidak peduli dan tidak menyadari bahwa moral anak-anak bangsa dipertaruhkan dengan adanya konten-konten buruk yang demikian bebas diakses di internet. 

Tak mengherankan karena yang menjadi patokannya adalah ada tidaknya manfaat dan keuntungan materi yang dapat diraih dari suatu konten. Selama masih ada manfaat dan keuntungan materi dari suatu konten maka konten tersebut tak layak untuk dipermasalahkan.

Peran Islam dalam perkembangan internet sangatlah penting, bahwa syariat Islam wajib dijadikan standar pemanfaatan internet itu sendiri. Ketentuan halal-haram yang terdapat pada hukum Islam wajib dijadikan tolak ukur pemanfaatannya. Akidah Islam juga harus menjadi dasar dari segala konsep dan aplikasinya. 

Islam tidak membatasi seseorang untuk menggunakan IPTEK khususnya internet  namun syariat Islam memberikan rambu-rambu dalam menjaga keselamatan penggunanya. hal inilah yang akan membatasi area mana saja dari konten internet yang layak untuk ditayangkan dan mana yang mesti dihilangkan. Keimanan yang kuat kepada Allah SWT akan mampu mengantisipasi dampak negatif dari penggunaan internet yang ada.

Namun kesemuanya itu tidak mungkin terwujud jika negara masih mengadopsi sistem saat ini yaitu kapitalis sekuler. Dimana agama dipisahkan dari kehidupan rakyatnya. Agama hanya sebatas ibadah ritual (mahdah) secara individu. 

Tidak adanya penjagaan dan pengawasan dari negara dalam penggunaan internet ini membuktikan betapa sistem kapitalis-sekuler ini merugikan dan merusak tatanan kehidupan rakyat terutama anak-anak. Sementara Islam demikian menyelamatkan dan melindungi rakyat dari kerusakan moral dan aspek lainnya.

Maka marilah kita sama-sama berjuang untuk menghempaskan sistem bobrok ini dan menggantinya dengan sistem Islam yakni Khilafah 'ala Minhaj an-Nubuwwah agar rakyat dari mulai anak-anak, remaja, dan dewasa terjaga dari hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam. [MO/vp]

Posting Komentar